Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (10): Pernikahan


__ADS_3

Hari ini kita memulai hari baru,


tak ada yang bisa menghentikan diriku memiliki dirimu


~Malam Terkutuk~


Jari Tere saling bertautan dan keringat membasahi pelipisnya saat mengingat ini adalah malam pertamanya dengan Arya setelah tadi pagi dia dan Arya mengucap janji sakral sehidup semati.


Tere tersenyum kecut melihat cincin berlian dengan permata batu Ruby merah berukuran kecil, namun berharga fantastis tersemat di jari manisnya.


Tere merasa sangat berdosa telah menodai sakralnya pernikahan di hadapan Tuhan, apalagi pernikahan mereka berlangsung di Gereja, tempat paling suci dan rumahnya Tuhan.


Perlahan-lahan Tere mulai melepaskan cincin itu dari jari manisnya, namun dia kesulitan karena cincin itu sulit terlepas dari jarinya.


Dengan sedikit paksaan dan tarikan akhirnya cincin itu terlepas dari jari manisnya, namun malah terlempar ke arah depan pintu kamarnya.


Tere menghela nafas lelah, lalu berjalan ke arah cincin itu berniat menyimpan cincin itu ke dalam lemari namun tangannya yang hendak mengambil cincin itu terdiam, saat melihat tangan kekar dan berotot yang sudah mengambil cincin itu.


Tere mendongakkan kepalanya, matanya bertemu dengan mata Arya yang sedang menatap tajamnya, dan tatapan tajam itu seakan meremukkan tulangnya.


Tere tak tahu kenapa Arya menatap tajamnya seperti itu, perasaan ia tidak melakukan kesalahan apa pun pada Arya hari ini. Arya tersenyum sinis saat melihat cincin pernikahan Tere yang ada di tangannya, melihat cara Arya melihat cincin itu membuat Tere yakin bahwa Arya salah paham tentang cincin yang terjatuh itu!

__ADS_1


Tanpa sadar Tere mundur perlahan-lahan saat Arya maju mendekat padanya, hingga punggungnya menyentuh dinding dan terkurung dalam tubuh kekar Arya.


"Kau tidak menyukai cincinnya?" tanya Arya dingin tanpa ekspresi membuat Tere ketakutan namun Tere berusaha bersikap biasa saja.


"A... Aku menyukai cincin itu."


Tere merutuki suaranya yang gugup dan terbata-bata apalagi saat melihat kepalan tangan Arya yang seakan siap untuk meninju wajah Tere.


"Lalu kenapa kau membuangnya? Apa karena aku yang memberinya makanya kau membuangnya?"


Tere melotot tidak percaya atas ucapan Arya, demi dirinya sendiri, Tere tidak pernah berpikir seperti itu namun pria ini selalu memandang dirinya buruk.


Dan Tere tidak mau memperbaiki penilaian Arya padanya, jadi biarkan lah dia melanjutkan pemikiran negatif Arya. Toh Arya tak akan percaya jika dia berkata jujur.


Tangan Arya semakin mengepal kuat hingga memerah lalu siap melayangkan tamparan di pipi Tere bila Tere tidak berteriak.


"TAMPAR AKU! SINI TAMPAR!"


Tere menutup matanya saat Arya ingin melanjutkan tamparannya, namun dugaannya salah Arya memukul tembok di belakang Tere.


Tere menutup mulutnya dengan tangannya saat melihat tembok di belakangnya retak, lalu menatap tajam Arya yang berdarah.

__ADS_1


"Tanganmu berdarah...


"Tak usah sok peduli padaku Tere!"


Tere pun langsung terdiam begitu pun dengan Arya yang terdiam namun keheningan itu dipecah oleh bisikan Arya di telinganya.


"Pakai cincin ini Tere, setidaknya selama kita masih menjadi suami istri. Aku tidak suka kau melepas apalagi membuang cincin ini, apabila aku melihat kau melepas atau membuang cincin ini, maka ku pastikan kau akan menerima hukumanmu Tere."


Tubuh Tere merinding mendengar bisikan Arya, Tere hendak menarik tangannya dari tangan Arya namun terhenti saat Arya menahan tangannya.


Tere memejamkan matanya saat Arya memasangkan cincin itu ke jari manisnya, bukan karena dia tidak mau Arya memasangkan cincin itu. Tapi Tere fobia akan darah dan darah di tangan Arya menetes di jarinya membuat tubuh Tere melemah seketika.


"DARAH!"


Arya dengan sigap menangkap tubuh Tere saat tubuh mungil itu tumbang begitu saja habis berteriak histeris, Arya berusaha membangunkan Tere dengan cara menepuk pelan pipi Tere tapi Tere tak kunjung bangun.


"Tere bangun!"


"Tere kau kenapa?!"


"Tere jangan membuatku khawatir!"

__ADS_1


"TERE!"


Tangerang, 24 September 2020


__ADS_2