Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (25): Menolak Cerai


__ADS_3

"Bagaimana kondisi dan kandunganmu?"


Tere memutar mata jengah melihat sikap Arya yang bagai malaikat, menurutnya Arya hanya pandai berakting sebagai suami idaman dan membuatnya sebagai istri durhaka.


"Seharusnya kau tanyakan itu pada dirimu sendiri, lihat perban di kepalamu itu. Kau sudah seperti pria penyakitan, aku harap kau cepat sembuh agar kau tak menyusahkanku!"


"Aku harap pun begitu, apa kau sudah makan?"


"Belum."


"Kau harus makan nanti kandunganmu akan...


"Tak perlu mengkhawatirkanku Arya, aku yakin jika kau menjadi aktor maka kariermu akan langsung melejit, karena keahlian akting naturalmu itu."


Arya memilih diam karena sudah cukup ia mendengar ucapan pedas Arya, sedangkan Tere memilih sibuk dengan pemikiran dalam dirinya.


Keheningan di antara mereka terpecah saat mendengar suara pintu terbuka, dan sosok wanita cantik muncul dengan senyum manis yang membuat Tere ingin muntah.


"Hai Arya, bagaimana kabarmu?"


Arya menoleh pada Tere dan Vita bergantian, ia bingung saat melihat kehadiran Vita di ruang rawatnya lalu ia menanyakan langsung pada Vita karena Tere pasti tak akan menjawab.

__ADS_1


"Dari mana kau tahu aku dirawat?"


Vita berusaha tetap tersenyum manis di depan Arya walaupun hati dengki dan kesal lantaran melihat reaksi Arya yang terlihat sekali tidak menyukai kedatangannya.


"Apa istrimu ini belum mengatakannya padamu tentang pengorbananku untukmu?"


Kening Arya berkerut saat mendengar pertanyaan Vita, lalu tatapannya teralih pada Tere yang juga menatapnya dengan tatapan datar. Keduanya saling menatap satu sama lain, sebelum suara Vita mengalihkan pandangan satu sama lain.


"Baiklah kalau istrimu belum mengatakannya, aku akan...


"Dia mendonorkan darahnya untukmu karena aku tidak sudi memberikan darahku untukmu, aku lebih memilih melihatmu mati perlahan-lahan akibat kekurangan darah dari pada membiarkan dalam tubuhmu mengalir darahku. Lalu wanita ular ini datang entah dari mana, dan menjadi peri penyelamatmu. Oh iya satu lagi, aku tidak mengakui statusku sebagai istrimu melainkan sebagai orang asing yang menolong pria yang terluka."


Vita tak bisa menyembunyikan raut wajah terkejutnya saat mendengar dengan mudahnya Tere mengatakan hal itu di depan Arya, ia mengira bahwa percakapan Tere dan dokter kemarin bisa menjadi senjatanya melawan Tere. Namun ia salah, karena nyatanya Tere bukan pemain pemula.


Tere tak peduli saat melihat raut kecewa dan senyum yang dipaksakan oleh Arya, ia lebih memilih melihat raut kaget dari Vita. Senyum miring menghiasi bibirnya saat melihat reaksi Vita.


"Aku senang kau tidak mendonorkan darahmu, karena kau sedang hamil. Aku tak ingin kau dan bayi kita kenapa-kenapa."


Tere benci saat Arya tetap bersikap lembut di saat ia terus menyiksa dan berucap kasar pada pria itu, Arya seakan sudah kebal dari siksaan yang ia berikan.


"Arya, istrimu ini bahkan tak mau mendonorkan darahnya padamu jika ia tak hamil. Aku mendengarnya sen...

__ADS_1


"Hentikan ucapanmu itu Vita, sekarang keluar dari ruang rawatku!"


Vita terkejut saat melihat Arya yang tiba-tiba membentak dan mendorongnya dengan kasar hingga ia terjatuh. Vita bisa melihat perbedaan sikap yang sangat berbeda saat Arya bersama Tere dan Arya bersama dirinya.


"Kalau kau marah, kalau kau kecewa, jangan lampiaskan pada orang lain. Aku ada di sini, tampar aku, pukul aku, dan bentak aku. Setidaknya itu lebih baik dari pada menjadi pengecut yang tak berani melukai orang yang telah melukaimu."


"Aku marah padanya, bukan padamu. Dan Vita sekarang kau pergi, atau aku akan melakukan pembalasan padamu. Aku yakin kau tak akan menyukai pembalasanku."


Senyum kaku yang diberikan Arya membuat Vita merinding ketakutan, lalu bangun dan berjalan pergi meninggalkan sepasang suami istri yang saling terdiam.


"Surat cerai sudah aku urus, kau tinggal tanda tangan," ucap Arya lalu mengambil map berisi surat cerai yang berada di atas nakas, lalu memberikannya pada Tere.


Tere menatap map di tangannya dan Arya bergantian, lalu merobek map dan surat yang berada di dalamnya di depan mata Arya hingga menjadi keping-keping kecil. Tere memberi senyum miring terbaiknya pada Arya, lalu melempar keping-keping kecil kertas itu ke depan wajah Arya.


"Aku tak akan menandatangani surat apa pun itu, sampai aku melahirkan dan waktunya aku pergi...


"Aku tak akan membiarkan kau hidup bahagia bersama ****** itu, sedangkan aku menderita bersama bayi laknat ini! Tak ada perceraian sebelum aku melahirkan!"


"Nyawa dibalas nyawa, kehancuran dibalas kehancuran!"


Tadinya Arya sempat bahagia melihat reaksi Tere yang merobek surat perceraian mereka, namun lagi dan lagi ia terlalu berharap lebih dan kembali di hempaskan dengan kasar oleh Tere.

__ADS_1


Tangerang, 26 November 2019


__ADS_2