
Apakah masih ada waktu yang kupunya
untuk meminta pengampunan darimu?
~Teresa Queenera~
Tere berdiri di depan gedung besar bercat putih dengan tanda salib yang berada di dinding, atas pintu.
"Masih pantaskah aku untuk memasuki rumah sucimu Tuhan?" tanya Tere menatap gereja yang lumayan terkenal di ibu kota. Air mata Tere tumpah saat mengingat ia tidak pernah lagi menginjakkan kakinya di rumah Tuhan selama sembilan bulan kehamilannya.
Tere ingin melangkah memasuki gereja yang terlihat sepi pada hari biasa, karena biasanya gereja dibuka pada hari minggu.
__ADS_1
"Aku wanita hina, aku sudah melanggar setiap ajaranmu. Bahkan... Bahkan aku mempermainkan sucinya ikatan pernikahan, apa kau masih mau menerima wanita hina sepertiku?"
Hati Tere sakit dan perih, kakinya terasa sangat kelu hanya untuk melangkah. Karena ia sadar bahwa ia adalah wanita hina yang tak pantas memasuki sucinya rumah Tuhan.
Tere hanya diam di depan gereja, tanpa melakukan apa pun. Hati dan jiwanya saling berperang antara masuk atau pergi.
"Aku hanya ingin meminta berkatnya dan memohon maaf, lalu kenapa aku tidak boleh masuk?" tanya Tere dalam hati.
Namun suara hatinya yang lain menolak dan berkata, "Apa tidak punya kaca di rumah Tere? Lihat dirimu kau hamil di luar nikah, kau akan bercerai saat anak itu lahir, Tuhan membenci pasangan yang bercerai. Setidaknya jangan menambah dosa dalam dirimu, dengan mengotori sucinya rumah Tuhan."
"Cukup! Aku tidak akan masuk ke dalam, aku tidak mau melakukan dosa besar dengan mengotori rumah Tuhan dengan dosaku ini."
__ADS_1
Tere lebih memilih melangkah mundur meninggalkan gereja, karena menurutnya langkah ini yang lebih baik. Mungkin ia tidak akan bisa lagi memasuki rumah suci Tuhan karena selama hidupnya dosa itu akan tetap menghantui kehidupannya, meskipun ia akan meninggalkan dosa itu.
Dan dosa itu adalah Arya dan janin dalam dirinya. Dosa abadi yang tak akan bisa lenyap, karena dosa itu hidup dan selalu memenuhi kehidupannya setiap saat bahkan detik.
"Aku akan kembali ke sini, setelah aku pergi selamanya dari dosaku, aku berharap kau masih mau menerimaku nanti Tuhan. Maaf, karena aku tak bisa menemuimu dan berdoa di rumahmu, itu semuanya karena aku merasa sangat kotor. Setelah cincin pernikahan ini lepas dari jariku, maka aku akan kembali ke jalanmu, jalan yang benar dan suci."
Tere terus melangkah mundur tanpa melihat ke belakang, hingga ia tak sadar ada seseorang yang beberapa menit lalu memperhatikannya dan terkejut akan kehadirannya di depan gereja. Pria itu menatapnya dengan tatapan ingin tahu, karena ini pertama kalinya ia melihat Tere di gereja. Ternyata diam-diam Tere menutupi jati dirinya yang sebenarnya dengan berperilaku bagai wanita yang tak punya hati, namun hatinya sangat rapuh dan lemah.
Tere langsung berbalik badan dan hendak meminta maaf namun ucapan permintaan maafnya tertelan di tenggorokannya saat melihat orang itu. Orang yang sangat ia benci dan dosa terbesar dalam kehidupannya yang membuatnya tak bisa menginjakkan kaki di Gereja lagi, karena merasa kotor.
Tere tak sudi meminta maaf pada orang yang ada di depannya. Seharusnya pria itu yang meminta maaf padanya bahkan berlutut di kakinya karena kesalahan pria itu, walaupun di sini ia yang salah. Pertanyaan yang dilontarkan pria itu membuat Tere marah karena pria itu seakan mempertanyakan keyakinannya.
__ADS_1
"Kau kenapa berada di sini?"
Tangerang, 07 Desember 2019