
Kau terlalu tertutup dariku, sehingga aku tak tahu apa yang kau takutkan dan apa yang kau suka.
~Arya Panggalila~
Tere menggenggam tangan Arya dengan kuat tanpa sadar, saat pesawat pribadi yang mereka tumpangi ingin lepas landas. Sungguh ia sangat takut dengan penerbangan ini, karena ia takut akan ketinggian apalagi posisinya yang dekat jendela membuat ia bisa melihat awan dan ketinggian dengan mudah.
Arya menoleh pada Tere dan menatap bingung Tere yang terlihat sangat ketakutan, apalagi keringat yang mengalir di pelipis dan wajah tegang Tere. Tatapan Arya tertuju pada tangannya yang digenggam erat oleh Tere, biasanya Tere akan menjauh sejauh mungkin bahkan menamparnya kalau terlalu dekat tapi ini Tere yang mendekat.
Tangan Arya terulur mengusap keringat Tere dan Tere hanya diam membiarkan, karena dirinya lebih memikirkan ketakutannya akan ketinggian.
"Kau kenapa?"
Tere tetap diam dan semakin kuat mencengkeram tangan Arya, tanpa sadar kuku panjangnya menancap di kulit lengan Arya, namun Arya hanya diam membiarkan.
"Tere tenang, kau ini kenapa?"
"Tolong bicara Tere, jangan hanya diam, jangan membuatku khawatir."
"Katakan sesuatu Tere?!"
Arya tak tahu harus melakukan apa saat Terus tetap diam tak mau mengatakan apa pun, Arya khawatir saat Tere kesulitan bernafas dan keringat membasahi kening Tere. Wajah Tere menjadi pias, ia berusaha menahan ketakutannya namun tak bisa bahkan ia berusaha agar tidak pingsan di depan Arya.
"Tuan ini makanannya," kata pelayan tersebut meletakkan makanan yang Arya pesan, lalu tatapannya jatuh pada Tere.
__ADS_1
Arya memperhatikan pelayan wanita tersebut, bukan karena Arya tertarik pada pelayan itu. Namun karena pelayan itu yang menatap intens Tere. Pramugari itu seakan meneliti keadaan Tere, seakan tahu apa yang terjadi pada Tere.
"Ada apa? Kenapa kau menatapnya seperti itu?!"
Seakan tersadar dari tindakannya, pelayan tersebut langsung menunduk namun melirik Tere diam-diam.
"Maaf Tuan atas kelancangan saya, tapi seperti Nyonya di samping Anda mengalami fobia akan ketinggian terlihat dari reaksinya."
Arya menoleh pada Tere namun Tere sudah pingsan, tak sadarkan diri dengan kepala bersender di bahunya.
"Tere?!"
"Tere!"
Arya langsung menggendong Tere ke kamar yang berada di pesawat dan membaringkannya lalu Arya mengambil kopernya dan mengambil pakaian tidur Tere.
"Maaf atas kelancanganku Tere."
Arya mengganti pakaian Tere karena pakaian Tere sudah basah karena keringat, dan tak mungkin Arya membiarkan Tere sakit karena baju wanita itu yang basah.
Setelah mengganti pakaian Tere, Arya langsung berbaring sambil memeluk Tere dengan erat lalu mencium kening Tere.
"Kenapa kau tidak mengatakan bahwa kau takut ketinggian?" tanya Arya kecewa pada Tere yang masih tertutup pada Arya tentang dirinya.
__ADS_1
"Maafkan aku, seharusnya aku mengetahuinya. Aku berjanji akan lebih menjagamu, maafkan aku Tere."
Lalu Arya terlelap sambil memeluk Tere namun baru beberapa menit memejamkan mata, Arya kembali bangun saat mendengar Tere mengigau tidak jelas.
"Mama!"
"Papa!"
"Tere takut hiks, hiks!"
"Jangan pergi!"
"Tere janji enggak akan melawan lagi, jangan tinggalkan Tere sendirian!"
Arya mengusap rambut Tere dengan lembut sambil menenangkan Tere dengan membisikkan Tere.
"Jangan takut, kau tidak sendirian. Aku selalu bersamamu."
"Kau tidak akan sendirian lagi, kita akan hidup bersama dengan bayi kita, tidak ada lagi kesedihan."
Tere mulai tenang saat tangan Arya mengusap perut ratanya, kalau Tere dalam keadaan sadar pasti tonjokkan akan di dapat Arya karena berani menyentuh Arya tanpa permisi.
Tangerang, 22 Oktober 2019
__ADS_1