
Aku berusaha untuk tidak terlalu dekat denganmu, agar aku tidak perlu menyakitimu dengan kata-kata kasarku.
~Tere Queenera~
Tere perlahan-lahan menuruni anak tangga Mansion besar dan megah milik Arya, Tere bisa melihat Arya yang sedang membaca koran dengan segelas kopi. Sebisa mungkin Tere tak peduli dengan sosok pria tampan yang kemarin menjadi suaminya, ia terlalu kesal karena kejadian tadi malam.
Tanpa menyapa Arya, Tere langsung menarik bangku dan duduk dengan nyaman menunggu pelayan menyiapkan sarapan untuk keduanya. Perut Tere langsung terasa sangat lapar saat melihat makanan lezat ada di meja makan, namun rasanya nafsu makannya langsung hilang saat mendengar suara pria yang duduk di depannya ini.
"Selamat pagi Tere, bagaimana keadaanmu? Apa sudah membaik?" tanya Arya menatap khawatir Tere yang terlihat pucat.
Namun Tere yang memang dasarnya pemberontak malah sibuk mengoles selai cokelat pada roti tawarnya membuat Arya menggeram marah. Tere tersenyum miring saat melirik ke arah Arya, yang terlihat sangat kesal padanya namun malah ditahan.
"Aku bertanya padamu Tere!" teriak Arya membuat Tere mengangkat pandangannya, menatap Arya lalu menoleh pada rotinya lagi.
"Oh, kau bertanya padaku, ku kira kau bicara sendiri."
__ADS_1
"Aku Bertanya keadaanmu, apakah keadaanmu sudah membaik. Aku sangat menyesal dan merasa bersalah atas kejadian semalam."
"Baik."
Harus sesabar apalagi Arya meladeni sikap kurang ajar Tere, Tere hanya menjawab empat huruf tanpa beban apa pun, bahkan tanpa merasa bersalah, membuat Arya menghela nafas panjang.
Arya pun memilih diam lalu melipat korannya dan membiarkan pelayan menyiapkan sarapan keduanya, sesekali Arya menatap Tere yang sedang memakan roti tawarnya.
Arya menatap Tere dengan intens, selama masa kehamilannya. Tere jarang sekali mual-mual atau mengidam apa pun itu pada Arya, atau Tere tak mau mengatakan pada Arya bahwa dia sedang mengidam sesuatu?
Arya bisa melihat ekspresi bingung Tere lalu wanita itu mengangguk membuat Arya kecewa, Arya ingin merasakan bagaimana repotnya meladeni ibu hamil. Seperti yang di ceritakan teman-temannya yang sudah menikah dan punya anak.
Dia ingin berada di sisi Tere saat wanita itu muntah mendadak, Arya ingin bisa memenuhi keinginan aneh dan gila ibu hamil, dan hormon yang terus berubah-ubah namun sepertinya itu hanya dalam mimpi saja.
"Kenapa kau tidak pernah mual atau mengidam Tere? Biasanya ibu hamil mengalami hal itu."
__ADS_1
Tere meletakkan sendok berisi nasi goreng yang hendak dimasukkan ke mulut dengan kasar hingga menimbulkan bunyi yang cukup nyaring.
Tere menatap tajam Arya namun Arya hanya diam membalas tatapan Tere, Arya tahu bahwa Tere berusaha sebisa mungkin menghindari interaksi dengannya.
"Aku pernah mengalami mual-mual namun hanya saat awal kehamilan, kau tahu kenapa aku tak pernah mengalami hal-hal aneh seperti mengidam, hormon berubah-ubah, atau Morning sick?" tanya Tere lalu Arya menggeleng karena memang dia tak tahu alasannya.
"Karena anak ini adalah anak haram, dia tahu bahwa ibunya tidak pernah menginginkan kehadirannya sejak awal, ayahnya mau menikahi ibunya hanya karena tanggung jawab, dan pernikahan yang dijalani orang tuanya hanya sandiwara yang akan berakhir saat dia lahir. Jadi dia tidak ingin menjadi beban lagi dalam hidup orang tuanya."
Tere berdiri, lalu mendorong kursi tersebut cukup kasar dan menaiki tangga, kembali ke kamarnya karena nafsu makannya langsung hilang karena si ******** itu.
Arya hanya diam mematung mendengar ucapan tajam Tere yang melukai hatinya hingga titik yang paling dalam, hingga air mata memaksa menetes dari matanya.
"Maaf telah menghancurkan hidupmu Tere."
Tangerang, 24 September 2019
__ADS_1