
Berharap lebih setelah menyakiti,
adalah hal terbodoh yang dilakukan manusia
~Arya Panggalila~
Seorang wanita cantik berbaring di brankar rumah sakit, kedua matanya terpejam dan berbagai alat medis melekat di tubuhnya, kondisinya yang cukup memprihatinkan. Tidak sadarkan diri selama dua hari setelah melahirkan putrinya.
Teresa Queenera.
Nama wanita yang terbaring tersebut. Wanita yang tak sadarkan diri, sedang bermimpi bertemu anak perempuan cantik yang sangat mirip dengannya di sebuah tempat yang sangat indah.
Tere menatap tempat sekitarnya yang mampu membuat siapa pun berdecap kagum dengan keindahan tempat ini, apa ini yang dinamakan surga? Tere pun tak tahu tapi yang ia tahu tempat ini sangat indah.
Berbagai jenis dan warna bunga ada di sini, pepohonan lebat berwarna hijau membuat udara di sini terasa sejuk, air terjun indah yang mengalir menambah keindahan tempat ini, dan burung-burung kecil, capung, dan kupu-kupu mengelilingi tempat ini.
"Aku di mana?" tanya Tere pada dirinya sendiri, suara isak tangis kecil membuat Tere merinding dan menatap sekitarnya dengan tatapan waspada, sampai tatapannya bertemu dengan anak perempuan bergaun putih yang sedang menangis.
__ADS_1
Tere menghampiri anak itu, dirinya dibuat lebih terkejut saat melihat wajah anak itu yang sangat mirip dengannya sewaktu kecil, hingga tanpa sadar tangan Tere terulur untuk menyentuh pipi anak itu.
"Ka... Kau sangat mirip denganku."
Entah kenapa hati Tere menghangat saat melihat binar kebahagiaan di mata anak itu, anak itu menatapnya dengan senyum manisnya.
"Wajah kita mirip karena aku adalah anakmu ibu."
Saat mendengar ucapan anak itu, Tere langsung menurunkan tangannya dari wajah anak itu, namun anak itu menggenggam tangannya agar tetap di wajahnya.
"Ibu, kenapa kau tak pernah menerima kehadiranku? Kenapa engkau selalu saja memarahiku? Kenapa engkau tak pernah mencintai dan menyayangiku? Aku ini anakmu, aku tumbuh di rahimmu, tapi kenapa kau tak pernah menjadi sosok ibu untukku?"
"Ka... Kau benar anakku?"
Anak itu terlihat sangat senang saat Tere menanyakan hal itu, ia hendak menjawab namun suara bariton dan gagah mencela ucapannya.
"Bukan, dia bukan anakmu. Dia anakku, hanya anakku."
__ADS_1
"Arya?"
Tere terkejut saat melihat Arya berada di depannya sekarang, lalu tatapannya kembali pada anak kecil itu, menatap Arya dan anak itu bergantian.
Arya yang berada di depannya sekarang, berbeda dengan Arya yang ia kenal selama sembilan bulan. Arya sekarang tidak tersenyum sedikit pun padanya, wajahnya datar, dan nada bicaranya dingin. Berbeda dengan Arya yang ia kenal, selalu tersenyum, ramah, dan hangat.
"Sayang ayo kita pergi," ucap Arya berubah menjadi lembut di depan anak itu, lalu Arya menggendong anak itu.
"Di... Dia siapa?"
"Dia anak yang selalu kau hina, Kau caci maki, dan anak yang tak pernah kau inginkan kehadirannya. Kau menginginkan kami pergi kan Tere? Maka kami akan pergi selamanya dari hidupmu."
Anak itu hanya diam menatap nanar Tere, air mata masih saja mengalir di pipi anak itu. Bahkan saat Arya berbalik badan dan membawa anak itu pergi, anak itu mengulurkan tangannya pada Tere seakan meminta Tere menggapai tangannya dan tidak membiarkannya pergi.
"Mama, aku sayang mama."
Tere ingin sekali berteriak memanggil anak itu atau berlari sekencang mungkin, menghentikan langkah Arya namun kakinya seakan dipaku dan mulutnya seakan ditutup kain sehingga ia hanya bisa diam menangis menatap kepergian putri dan suaminya, tanpa bisa menghentikannya.
__ADS_1
Tangerang, 12 Desember 2019