
Semuanya hancur hanya karena satu malam terkutuk itu
~Hancur~
Tere hanya diam menatap ke depan dengan air mata mengalir deras di kedua pipinya. Isak tangis kecil keluar dari bibirnya saat mengingat bahwa sekarang dia sedang berbadan dua di umurnya yang masih sangat muda. Delapan belas tahun, seharusnya ia sibuk dengan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi seperti perkuliahan namun ia malah menanggung aib yang sangat memalukan ini.
Tangan Tere bergerak perlahan mengelus perutnya yang masih rata. Di dalam perutnya ada kehidupan dari janinnya.
Mungkin kalau ini terjadi saat dia sudah menggapai impiannya sebagai dokter kandungan atau saat dia sudah menikah, Tere pasti akan sangat bahagia namun dia bahkan belum menggapai impiannya dan belum menikah. Hamil di luar nikah adalah mimpi buruk dalam kehidupan seorang Tere Queenera dan semua wanita di dunia.
Arya sesekali menoleh ke arah Tere yang hanya diam menangis. Arya ingin mengusap pipi Tere dan menghapus air mata Tere namun dia cukup sadar diri untuk tidak membuat Tere bertambah stres dengan perilaku dirinya.
"Tere, kita sudah sampai. "
Tere menatap keluar mobil dan benar dia sudah berada di rumahnya karena terlalu sibuk memikirkan kehidupannya yang hancur membuat Tere tidak menyadari bahwa mobil pria yang Tere tahu bernama Arya sudah terparkir manis di depan kosnya.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu rumah saya?" Tanya Tere dingin dan menatap tajam Arya. Arya tak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan Tere kalau dia jawab yang sebenarnya pasti Tere akan sangat marah dan itu tidak baik bagi kandungan Tere.
Melihat Arya hanya diam saja membuat Tere menyimpulkan bahwa pemikirannya benar. Arya mencari tahu tentang dirinya dan mengikuti dirinya.
Tere membuka pintu mobil dan berjalan ke arah kosnya tanpa mengucap terima kasih pada Arya lagi pula buat apa berterima kasih pada ******** itu.
"Tere tunggu!"
Tere yang hendak masuk ke rumahnya berhenti melangkah dan menoleh ke arah tang an Arya yang mencekal tangannya. Arya langsung melepaskan cekalan tangannya saat melihat tatapan dingin Tere.
"Tidak perlu Ada yang dibicarakan."
Tere sudah siap menutup pintu namun Arya menahan pintu itu dengan kakinya lalu dengan cepat masuk ke kos-kosan Tere dan menutup pintu tersebut.
"Keluar kamu!" teriak Tere menatap tajam Arya namun Arya tetap diam di tempat tidak menghiraukan teriakan Tere.
__ADS_1
"Saya ingin bicara dengan kamu Tere Queenera," balas Arya penuh penekanan dan untuk pertama kalinya Arya membalas tatapan tajam Tere dengan tatapan tajam pula.
"Oke, kamu mau bicara apa?"
Arya berusaha tidak terpancing emosinya saat melihat tingkah judes dan keras kepala seorang Tere.
"Saya ingin menikah dengan kamu."
"PLAKKK!"
"Kamu kira saya mau menikah sama pria bejat kaya kamu, kalau kamu ingin menikahi saya karena saya yang sedang hamil anak kamu. Maka tidak perlu karena saya jijik setiap melihat wajah kamu," ucap Tere lalu menutup pintu kontrakannya dengan keras di depan Arya.
Arya mengepalkan tangannya saat lagi dan lagi Tere menolaknya dengan kata-kata pedas dan menyakitkan.
"Kalau ada kontes wanita paling judes, saya pastikan kamu yang menang Tere. Tapi jangan kira saya akan menyerah hanya karena penolakan dan ucapan pedas kamu itu! Satu penolakan tidak akan membuat Arya Panggalila menyerah Tere Queenera!"
__ADS_1
Tangerang, 12 Agustus 2019