Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (21): Menjadi Seperti Ayah Tere


__ADS_3

Tere keluarga dari kamar mandi dengan pakaian lengkap, dan rambut yang masih basah. Handuk yang berada di tangannya, ia usap-usap ke rambutnya agar rambutnya kering karena Tere tak suka memakai Hair Dryer.


Tere menatap sekitarnya, mencari keberadaan Arya dan matanya bertemu dengan sosok pria bertubuh tegap yang sedang duduk di balkon hotel, sambil merokok.


Tere menghampiri Arya, lalu tanpa berkata apa pun duduk di samping Arya sambil menatap intens Arya. Arya berusaha tak memedulikan tatapan Tere padanya, namun ia gagal dan menoleh pada Tere.


"Kenapa melihatku begitu?" tanya Arya lalu menghisap rokoknya tanpa beban. Sebenarnya Tere tak mau bertanya pada Arya, namun mau bagaimana lagi rasa ingin tahunya terlalu besar.


"Sejak kapan merokok?"


"Sudah sangat lama, aku memulai merokok saat SMP."


Kedua bola mata Tere membulat saat mendengar ucapan Arya, sedangkan Arya tersenyum tipis lalu mengisap kembali rokoknya hingga mengepulkan asap. Saat SMP bahkan Tere masih bermain Barbie dan masak-masakan tapi Arya sudah menyentuh barang haram karena bagi Tere rokok adalah barang haram dalam hidupnya.


Tere terus menatap Arya yang terlihat sangat menikmati setiap hisapan rokoknya, rokok yang dibilang mematikan di televisi terlihat sangat menggiurkan saat Arya mencicipinya. Hal itu membuat Tere ingin ikut merasakannya.

__ADS_1


"Apa rokok itu enak? Kalau enak, bolehkah aku meminta sebatang?"


"Tidak, rokok tidak enak jadi kau tidak boleh mencobanya apalagi meminta rokok dariku," jawab Arya dengan cepat, lalu menjauhkan bungkus rokoknya dari hadapan Tere.


"Lalu kenapa kau merokok?"


Tere bertanya sambil menatap Arya menuntut Arya menjawab pertanyaannya


sedangkan Arya hanya mampu diam, memikirkan jawaban yang pas dan bisa diterima otak cerdas Tere namun tak ada satu pun jawaban yang pas.


"Benarkah, berarti kondisi perasaan ayahku selalu baik?" tanya Tere dengan senyum mengejek di bibir tipis nan merahnya, Arya menatap bingung Tere.


"Maksudmu?"


"Ayahku tak pernah merokok, aku selalu berharap mendapat jodoh seperti ayahku. Ayah selalu menjauhi hal-hal buruk agar aku dan ibu pun mengikuti langkahnya," ucap Tere sambil membayangkan ayahnya yang selalu melarang Tere melakukan hal-hal tidak sopan untuk wanita, seperti makan sambil bicara, bolos sekolah, dan tertawa terlalu keras.

__ADS_1


Namun Tere tak pernah merasa terkekang karena ia tahu itu demi kebaikan dirinya sendiri. Tere sama seperti anak perempuan lainnya, yang menganggap ayahnya adalah cinta pertamanya.


"Kenapa berhenti merokok?" tanya Tere saat melihat Arya menginjak rokoknya dengan kakinya serta melempar bungkus rokok itu ke bawah balkon.


"Kau bilang, kau ingin mendapat jodoh seperti ayahmu yang tidak merokok dan menjauhi hal-hal buruk...


Arya mendekatkan wajahnya di depan Tere, menatap Tere begitu intens hingga Tere salah tingkah dan hanya diam lalu melanjutkan kembali ucapannya.


"Aku ingin menjadi jodohmu, jadi aku harus menghentikan kebiasaan burukku yaitu merokok."


"Kau ini kenapa sih? Minggir dari hadapanku!" ucap Tere mendorong Arya hingga Arya kembali duduk di kursinya.


"Aku memang mengatakan begitu, tapi bukan berarti aku memintamu berhenti merokok dan menjadi jodohku. Aku tak mau memiliki jodoh sepertimu!"


Setelah mengatakan hal itu Tere kembali masuk ke kamar, dan melakukan kegiatan apa saja yang ia bisa agar ia bisa menghilangkan rona merah di pipinya saat mendengar ucapan Arya.

__ADS_1


Tangerang, 16 November 2019


__ADS_2