
Waktu mungkin sudah berlalu begitu lama,
namun cintaku padaku tak akan berlalu dari hatiku
~Arya Panggalila~
Seorang wanita cantik dengan pakaian kaos dipadu dengan jaket dan bawahan rok selutut, tampak terlihat anggun berjalan ke di Bandara Soekarno-Hatta, sambil menarik kopernya.
Kaki jenjang berwarna putih susu itu melangkah ke tempat tunggu Bandara, kaca matanya pun ia naikkan ke atas kepala untuk mencari sosok pria yang sudah menjadi sahabatnya sejak dua belas tahun lalu.
"Xerion ini bagaimana sih? Sudah kukatakan jangan terlambat menjemputku, tapi lihat sekarang batang hidungnya yang selalu ia puja-puja itu, belum kunjung muncul."
Ucapan kekesalan terus saja keluar dari bibir tipis, merah muda itu. Wanita itu terus melangkah menuju pintu keluar Bandara, sambil berusaha menelepon sahabat tidak tahu dirinya itu.
"Angkat Xerion, dia yang memaksaku datang untuk menghadiri ulang tahun putrinya, tapi dia bahkan tak mengirim alamat rumahnya dan tak menjemputku, sangat menyebalkan!"
Wanita bernama lengkap Tere Queenera, baru saja pulang dari negara tetangga yaitu Singapura, untuk menghadiri Seminar Kedokteran yang dilaksanakan di Singapura, karena ia diundang oleh pemilik acara untuk memberikan ilmu dan motivasi pada mahasiswa yang menghadiri Seminar tingkat Internasional itu, dan Xerion memaksanya dengan mengancam akan memutus tali persahabatan mereka kalau ia tidak kembali ke Indonesia sebelum ulang tahun putri Xerion, yaitu Jenara Meirata.
BRUUKKK.
Tere yang tak melihat jalan karena sedang mengetik pesan pada Xerion, menyebabkan ia dan seseorang tabrakan. Ingin sekali rasanya Tere berteriak pada siapa pun yang menabraknya, saat melihat teleponnya hancur tak berbentuk lagi.
__ADS_1
"Kau?!"
Tere menatap kesal pada remaja tanggung di depannya, sumpah serapah sudah siap keluar dari bibirnya namun terhenti saat melihat wajah cantik remaja di depannya.
Wajah yang cantik dan wajah remaja ini seperti replikanya saat remaja, Tere tak tahu apa yang terjadi padanya sehingga ia hanya diam tak berkata apa pun di depan remaja cantik ini.
"Apa?! Kau ingin marah padaku? Di sini kau yang bersalah, tapi malah kau yang marah, dasar orang tua!"
Lenyap sudah diamnya seorang Tere saat mendengar ucapan kurang ajar remaja tanggung di depannya, bibir mungil itu sangat tak cocok dengan kata-kata kasar remaja itu.
"Berani sekali kau mengatakan itu gadis bodoh! Kau pikir kau ini siapa sampai berani mengatakan aku orang tua! Dengar aku ini bukan orang tuamu!"
Tatapan permusuhan dan kilat amarah terpancar dari bola mata berwarna hitam milik keduanya, seakan tatapan itu bisa membakar satu sama lain.
Ucapan gadis di depannya mampu membuat Tere kembali diam, entah kenapa kejadian dua belas tahun lalu berputar lagi di otaknya padahal selama bertahun-tahun ia sudah berhasil mengusir ingatan itu dengan bekerja dan bekerja, namun bocah di depannya berhasil mengingatkannya lagi.
"Apa kabarmu anakku? Kau pasti sudah sebesar bocah kurang ajar di depanku ini, aku berharap jika kau laki-laki maupun perempuan, kau akan mirip dengan ayahmu, karena aku tak ingin menambah beban Arya dengan beban bayang-bayangku di dalam dirimu Nak," ucap hati kecil Tere, hati kecilnya ingin ia bertemu sekali saja pada putrinya namun akal sehatnya berhasil mengendalikan hati kecilnya, dengan terus mengatakan 'semuanya sudah berakhir dua belas tahun yang lalu'
"Malah melamun!"
Teriakan gadis kurang ajar di depannya ini membuat lamunan Tere berakhir, Tere menatap gadis di depannya dari atas sampai bawah membuat gadis di depannya berdiri dengan kikuk dan tak nyaman karena tatapan intens Tere.
__ADS_1
"Apa kau melihatku seperti itu?!"
"Aku hanya sedang menilai dirimu, pasti ibumu tak pernah mengajarkan sopan santun padamu sehingga tingkahmu itu kurang ajar pada orang yang lebih tua!"
Tere tak tahu matanya salah lihat atau memang gadis di depannya terlihat murung bahkan mata gadis itu berkaca-kaca setelah mendengar ucapannya.
"Kau memang benar, ibuku memang tak pernah mengajariku sopan santun, karena dia sudah mati sejak dia meninggalkanku dengan ayahku!"
"Kau memang pantas mendapatkannya, untung saja ibumu itu meninggalkanmu jadi dia tidak malu punya anak sepertimu!"
Tere sebenarnya kasihan pada gadis di depannya ini, namun ia terlanjur kesal dan marah pada kata-kata kurang ajar gadis di depannya, sehingga ia melanjutkan kata-kata pedasnya.
Tere berusaha mengusir kata hati kecilnya untuk memeluk tubuh mungil itu dan meminta maaf karena telah menyakiti hati gadis itu, Tere pun memilih untuk melanjutkan langkahnya meninggalkan gadis itu yang diam mematung bahkan tanpa sadar air mata mengalir perlahan di pipi gadis itu.
Langkah Tere terhenti saat mendengar suara lirih gadis itu yang masih bisa ia dengar dengan jelas. Tere tak mengenal remaja tanggung itu namun saat mendengar ucapan gadis itu, Tere seakan mengenal dan tahu apa yang dirasakan gadis itu.
Gadis itu merasa kehilangan, sedih, dan marah pada ibunya sendiri.
"Dan aku bersyukur ibuku tak pernah ada di hidupku, karena pasti aku akan membencinya apalagi setelah melihatmu, aku semakin yakin bahwa ibuku adalah wanita kejam berhati iblis."
Tere dan gadis itu menoleh ke belakang, saling menatap satu sama lain. Tere dengan tatapan kosongnya, sedangkan gadis itu dengan tatapan nanarnya sebelum keduanya saling melangkah maju tanpa menoleh kembali ke belakang.
__ADS_1
Tangerang, 20 Desember 2020