Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (26): Banjir Dadakan


__ADS_3

Benci dan cinta itu tipis,


sehingga seseorang sulit memahami apa yang ia rasakan.


Antara benci atau cinta?


~Teresa Queenera~


Tere berusaha sekuat mungkin untuk tidur kembali, tadi ia terbangun karena haus dan jam menunjukkan pukul dua pagi, seharusnya ia sudah tidur kembali namun matanya sangat sulit terpejam kembali.


Sedari tadi Tere terus saja bergerak ke kanan dan kiri, ingin mencari posisi tidur yang nyaman namun tetap saja ia tak bisa tidur.


"Sepertinya aku tidak bisa tidur kembali, dan sekarang perutku terasa sangat lapar."


Tere menatap perutnya yang baru saja berbunyi minta diisi, padahal saat makan malam ia makan hingga dua piring, namun tetap saja ia merasa lapar kembali.


"Kau ini merepotkanku saja, lihat berat badanku jadi bertambah dan tubuhku dipenuhi lemak karena kehadiranmu. Kalau kau lapar cari makan sendiri, jangan merepotkanku," gerutu Tere menatap kesal pada perutnya yang sudah membesar.

__ADS_1


Sebenarnya untuk ukuran wanita hamil dengan usia kandungan enam bulan, tubuh Tere tergolong kurus namun tetap saja Tere menyalahkan janin tak berdosa dalam perutnya.


"Kenapa harus wanita yang hamil? Kenapa tidak pria saja, kalau Arya yang hamil pasti sekarang aku sedang sibuk dengan tugas kuliah. Bukannya kelaparan di tengah malam dan menggerutu bagai orang kurang waras."


Tere turun dari kasur, lalu berjalan keluar dari kamar. Langkah kakinya yang hendak menuruni tangga terhenti saat melihat pintu kamar Arya terbuka sedikit. Selama Tere tinggal di rumah Arya, tidak pernah sekali pun Arya menutup pintu kamarnya.


Arya memberinya alasan yang mungkin akan membuat wanita normal tersipu malu, sayangnya Tere tidak termasuk wanita normal. Tere bahkan ingin sekali muntah saat mendengar alasan Arya.


"Karena aku ingin selalu siaga setiap saat, kalau kau membutuhkanku kapan pun."


Sebuah ide penuh kelicikan terlintas di otak cerdas Tere, kaki Tere berubah haluan ke arah kamar Arya lalu membuka pintu kamar Arya untuk pertama kalinya selama hampir lima bulan ia tinggal di rumah megah ini.


Tere tak tahu ia harus terharu atau marah atas apa yang ia lihat, namun jauh di lubuk hatinya yang terdalam. Ia terharu dan bahagia melihat gambar-gambar dirinya.


Tere melangkah ke arah dinding yang dipenuhi gambar berukuran kecil, ada gambar saat ia sedang membaca buku, makan, saat ia masih menjadi pelayan di restoran, bahkan...


Tangan Tere mengepal kuat saat melihat potret dirinya yang sedang tertidur dengan selimut tebal berwarna putih yang menutupi tubuh telanjangnya.

__ADS_1


Amarah dalam dirinya kembali mendidih, saat mengingat perbuatan keji Arya pada malam itu. Tanpa ia sadari air mata mengalir perlahan di pipinya.


"Seharusnya aku tidak pernah merasa tersanjung atas perbuatan pria itu bahkan merasa bersalah karena melukai perasaan Arya, karena ia yang menyalakan api dendam ini dalam hatiku."


Tere mengambil semua foto itu lalu merobek-robek foto-foto tak berdosa itu, bagi Tere kehadiran Arya dalam hidupnya adalah sebagai malaikat sekaligus iblis.


Arya adalah orang yang pertama kalinya menorehkan luka yang tak bisa ia maafkan seumur hidupnya, Tere sebenarnya bukan pendendam tapi kesalahan Arya pada malam itu adalah kesalahan yang tak akan pernah ia lupakan apalagi maafkan. Tapi di satu sisi Arya berperan sebagai malaikat yang selalu melindunginya dan menjaganya seakan ia berlian, walaupun berkali-kali ia berkata kasar pada Arya, pria itu tetap tersenyum dan tetap berada di sisinya.


Tere menatap tajam sosok tampan yang sedang tidur tanpa baju sehingga menampilkan dada bidang berotot, yang akan membuat makhluk hawa mana pun menahan air liurnya agar tidak menetes. Hidup dengan Arya selama berbulan-bulan membuat Tere mengetahui kebiasaan Arya sedikit-banyak, seperti kebiasaan tidur tanpa baju.


"Aku tidak bisa tidur kembali karena janin pria itu, namun lihat betapa tenangnya pria itu tidur seakan tak melakukan kesalahan apa pun, sekarang waktunya bangun ********."


Tere berjalan ke arah kamar mandi, lalu mengangkat ember dengan air yang berisi setengah ember mengingat kehamilannya, akan sangat sulit mengangkat satu ember penuh.


Lalu ia berjalan ke arah Arya dan memberikan senyum licik terbaiknya sebelum melemparkan air itu ke arah Arya. Senyum liciknya semakin melebar melihat Arya terbangun dengan wajah terkejut.


"BANJIR!"

__ADS_1


Tangerang, 01 Desember 2019


__ADS_2