Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (40): Salah Paham


__ADS_3

Tere langsung menoleh ke belakang, dan ia terkejut saat melihat pria yang memanggil wanita ini adalah pria yang dua hari lalu ia jumpai di pesta ulang tahun putri Xerion.


"ZELA!"


Semua mata tertuju pada pria yang baru datang, mereka meyakini bahwa pria itu adalah suami atau keluarga wanita itu karena tahu nama wanita itu. Sedangkan Tere hanya diam membatu, menatap pria dan wanita itu bergantian.


Pria itu adalah Arya Panggalila.


Tere tak menyangka takdir akan mempertemukan Tere dengan Arya dengan kondisi di mana Tere tak dapat kabur. Tere yang melihat mata Arya yang berkaca-kaca menatap wanita itu, membuat prasangka yang selalu ia tolak mentah-mentah hadir dalam hatinya.


"Zela, sudah kubilang jangan pergi di saat kau hamil tua. Apa kau tak kasihan pada aku yang selalu menjaga dan merawat kau saat hamil ha?"


Arya terlihat marah dan takut secara bersamaan pada wanita itu. Tere hanya diam menatap Arya masih memikirkan prasangka di dalam hatinya, Arya masih belum menyadari kehadiran Tere.

__ADS_1


Arya langsung berjongkok di sisi wanita bernama Zela itu, tanpa sengaja Arya mendorong Tere hingga Tere bergeser ke samping.


"Maaf aku tak sengaja."


Arya menatap terkejut Tere, sedangkan Tere langsung memalingkan wajahnya, tak mau Arya melihat matanya yang berkaca-kaca bahkan Tere bisa merasakan air mata perlahan mengalir di pipinya. Arya ingin mengatakan sesuatu pada Tere namun suara Zela menyela ucapannya.


"Arya sakit! Tolong aku Arya!"


Tatapan Arya kembali pada Zela yang merintih kesakitan, lalu Arya menggendong tubuh Zela keluar dari restoran. Tere hanya tersenyum tipis melihat kepergian Arya dan Zela.


Tere memejamkan matanya perlahan, berusaha mengusir rasa sakit di hatinya. Seharusnya dua belas tahun cukup bagi Tere untuk mempersiapkan diri jika ia melihat Arya telah bahagia bersama wanita lain.


Bahkan wanita itu akan melahirkan anak mereka, seharusnya Tere sadar diri bahwa ia tak cukup pantas untuk manusia berhati malaikat seperti Arya. Tere tak menyangka rasa sakit yang selalu ia bayangkan jika hari ini terjadi, ternyata lebih besar dari yang ia bayangkan.

__ADS_1


"Dia pantas untukmu, selamat berbahagia Arya. Semoga kalian bahagia bersama anak kalian, terima kasih untuk segalanya yang kau berikan dua belas tahun yang lalu. Sekarang aku akan mengakhiri perasaan sialan ini, karena aku sadar kau sudah menjadi milik wanita lain."


Tere mengusap air mata yang mengalir di pipinya dengan kasar, berusaha menguatkan hatinya untuk menghadapi kenyataan yang ada. Arya sudah melangkah pada kehidupan barunya, maka Tere pun harus melangkah tanpa menoleh lagi ke belakang.


"Kau tidak boleh menangis Tere, hanya wanita lemah yang menangis dan kau bukan wanita lemah," ucap Tere menyemangati dirinya sendiri.


Tere menatap jari manisnya yang masih tersemat cincin pernikahannya dengan Arya, Tere memang manusia bodoh yang berharap Arya akan terus bersabar dan menunggunya menerima kehadiran pria itu dalam hidupnya.


Tere melepas cincin itu perlahan hingga cincin itu terlepas dari tangannya, mungkin besok ia akan mengembalikan cincin itu pada pemiliknya termasuk perasaannya yang hancur. Terasa berat melangkah pada kehidupan barunya, di saat ia masih menyimpan harapan bisa bersama masa lalunya.


"Kalau Arya sudah menikah lagi dengan wanita lain, kenapa dia harus marah dan terlihat membenciku kemarin malam?! Arya, kau memang raja akting. Kau membuat dirimu seakan yang menderita namun sebenarnya kau adalah pihak yang paling bahagia atas perpisahan ini, karena kau bisa mendapatkan anak yang kau tunggu-tunggu dan mencari wanita lain. Aku pun akan melakukan hal yang sama, aku berjanji akan memperlihatkan padamu suami baruku kelak!"


Tangerang, 21 Desember 2019

__ADS_1


__ADS_2