Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (45): Kecelakaan


__ADS_3

Tak ada yang bisa menjawab kapan umur seseorang berakhir kecuali waktu


~Tere Queenera~


Tere hanya diam menatap Arya yang sedari tadi mondar-mandir sambil berusaha menelepon Arsa. Saat Arya ingin mengajak Arsa sarapan, Arsa tak ada di kamarnya dan Arya sangat khawatir karena putrinya tak pernah pergi meninggalkan rumah tanpa memberitahunya.


Jari tangan Tere saling bertautan menandakan kegelisahan di hatinya, Tere pun bisa melihat hal yang sama pada Arya. Tere yang baru bertemu Arsa saja sudah khawatir saat Arsa pergi tanpa memberitahu siapa pun, apalagi Arya yang merawat Arsa sejak Arsa dilahirkan.


"Halo, bagaimana kalian sudah menemukan putriku?"


Saat panggilannya sudah diangkat, Arya langsung bertanya pada pengawal yang ia perintahkan mencari Arsa tentang info putrinya.


"Maaf tuan, tapi kami belum menemukan Nona Arsa."


"SIALAN!"


Arya mengusap wajahnya dengan kasar karena frustrasi akan jawaban pengawalnya, ponsel Arsa pun tak aktif dan sekarang tak ada jejak keberadaan putrinya.


"Cepat temukan putriku, ini sudah hampir setengah hari semenjak kepergian putriku dan belum ada jejak sama sekali, kalau sampai kau gagal menemukan putriku... Maka nyawamu taruhannya!!"


Tere sangat yakin pasti pengawal Arya sangat ketakutan saat mendengar ucapan Arya, Tere saja ketakutan saat mendengar ucapan Arya padahal ucapan itu bukan tertuju padanya.


Arya pun langsung mematikan sambungan teleponnya saat merasa tak ada yang dibicarakan lagi. Vas bunga yang berada di atas meja pun menjadi pelampiasan amarah Arya, ia melempar vas itu ke arah jendela rumahnya hingga kaca jendelanya pecah.


"Kau di mana Arsa? Ayah sangat khawatir padamu, kenapa kau pergi tanpa memberitahu ayah? Kalau kau memiliki masalah cerita lah pada ayah, jangan seperti ini putriku. Ayah sangat merindukanmu."


Arya terlihat sangat rapuh di mata Tere, bahkan Tere bisa melihat betapa sedihnya Arya akan kehilangan Arsa, hingga Arya meneteskan air mata.


"Apa Arsa tahu tentang kita?" tanya Tere sambil menatap Arya, Arya pun langsung menoleh pada Tere dan ia baru menyadari kejanggalan di kamar tadi.


Pintu kamar terbuka dan ada kunci di pintu, padahal Arya tak membukannya, namun karena terlalu bahagia bersama Tere, ia tak memedulikan kejanggalan itu.

__ADS_1


"Kau benar, Arsa tahu segalanya dan dia kabur tanpa mengatakan apa pun."


Keduanya kembali diam dalam keheningan malam, memikirkan satu objek yaitu Arsa, hanya ada Arsa yang berada di pikiran mereka sekarang.


"Kau ke mana Arsa? Kalau kau membenci kenyataan tentang siapa aku, seharusnya kau katakan secara langsung padaku. Jangan kabur dari rumah, Arya sangat khawatir padamu Arsa. Aku mohon kembali, jangan seperti ini. Kita mungkin ibu dan anak namun kita sadar bahwa ikatan di antara kita sudah mati dua belas tahun lalu, tapi ikatanmu dengan Arya melebihi ikatan apa pun yang ada di Dunia ini," ucap Tere dalam hati, Tere khawatir dengan Arsa, pasti Arsa sedang sangat marah dan Arsa hanya remaja labil yang bisa melakukan apa pun saat marah.


Tere menatap Arya, lalu berdiri dan berjalan ke arah Arya. Tere langsung memeluk erat Arya menumpahkan air mata yang sedari tadi ia tahan, Arya membalas pelukan Tere dengan lembut. Arya bisa merasakan ketakutan dalam diri Tere, terlihat dari pelukan Tere yang sangat erat dan terkesan tak mau melepaskan pelukan ini.


Arya mengusap punggung Tere lalu mengusap rambut Tere berusaha menenangkan Tere, ia bisa merasakan baju bagian bahunya basah oleh air mata Tere sedangkan Tere masih menangis di bahu Arya.


"Jangan menangis, Arsa pasti baik-baik saja. Arsa adalah wanita yang kuat sepertimu, dia adalah replika dirimu bukan?"


"Arsa... Arsa mungkin replikaku, di... Dia sangat mirip denganku, wajahnya, sikapnya, bahkan gaya bicaranya pun sama... Hiks, hiks, ta... Tapi ikatan batin dalam diri Arsa hanya berhubungan denganmu."


Arya mencengkeram rambut Tere dengan lembut, mendekatkannya pada bibir Arya lalu mencium kening Tere. Arya berusaha melepaskan pelukan Tere namun Tere enggan melepaskannya terlihat dari pelukan Tere yang semakin erat dan Tere yang menggelengkan kepalanya, menolak melepaskan pelukan Arya.


Arya mencengkeram bahu Tere lalu melepaskan pelukan mereka. Mata berkaca-kaca dam memerah serta air mata yang mengalir deras di pipi Tere, Arya tak mampu melihatnya.


Arya menghapus air mata di pipi Tere dengan ibu jarinya, jari telunjuk Arya diletakkan di tengah bibir Tere dengan menggelengkan kepalanya, menandakan agar Tere berhenti menangis, karena Arya tak kuat melihat Tere menangis.


"Tapi kami tak akur, Arsa pergi karena dia tahu hubungan kita, dia tahu siapa aku, dia kabur karena dia membenciku, dia tak mau aku menjadi ibunya."


"Sebenci apa pun Arsa padamu, tak akan bisa menghapus ikatan dalam diri kalian. Dalam tubuh Arsa, mengalir darahmu Tere. Sebelum Arsa mengenal diriku, dia sudah lebih dulu mengenalmu karena dia ada di rahimmu selama sembilan bulan."


Tangan Tere terulur mengusap wajah Arya, Tere yakin pasti di kehidupan sebelumnya, ia melakukan kebaikan seumur hidupnya sehingga di kehidupan ini, Tuhan memberikan malaikat tak bersayap dalam hidupnya.


"Aku istri dan ibu yang buruk untukmu dan Arsa."


"Tidak, kau bukan istri dan ibu yang buruk Tere. Keadaanlah yang membuatmu berubah, aku yakin jauh di lubuk hatimu, kau adalah malaikat yang mampu mencintai aku dan Arsa tanpa batas."


Tere mendekatkan wajahnya pada Arya, lalu meletakkan tangannya di belakang kepala Arya, mendorong kepala Arya agar mendekat padanya sehingga kening keduanya saling menempel.

__ADS_1


"Bolehkah aku mengatakan sesuatu padamu?"


"Apa?"


"I Love You."


Arya tak menyangka Tere akan mengatakan tiga kata yang selama tiga belas tahun ini, ia impikan. Arya ingin membalas ungkapan perasaan Tere namun suara dering telepon menghentikannya, membuat Arya terpaksa mengangkat telepon itu apalagi setelah melihat nama pengawalnya di panggilan tersebut.


Tere hanya diam menatap Arya yang mengangkat panggilan itu, namun ia dibuat terkejut saat tiba-tiba saja Handphone Arya jatuh dari tangan Arya. Wajah Arya terlihat pias dan Arya hanya diam menatap kosong ke depan, membuat Tere khawatir dan takut.


"Arya kenapa? Apa yang terjadi?"


Arya hanya diam, bagai raga yang kehilangan jiwanya. Tere berusaha menyadarkan Arya dan menggoyangkan tubuh Arya, membuat Arya tersadar dari lamunannya dan menatap Tere dengan mata berkaca-kaca.


"Ada apa Arya? Kenapa kau hanya diam dan menangis? Jangan membuatku takut Arya, katakan sesuatu."


"Arsa...


"Arsa kenapa Arya? Arsa kenapa? Tolong bicara Arya. Jangan menyembunyikan apa pun dariku, putriku kenapa Arya?!"


"Arsa kecelakaan."


Tere tak kuasa menerima apa yang dikatakan Arya, tubuhnya hampir saja mencium lantai kalau saja Arya tak menangkap tubuhnya yang hampir jatuh. Arya langsung memeluk Tere berusaha menguatkan Tere menerima berita ini.


"Arsa... Kenapa harus Arsa? Kenapa tidak aku saja Arya? Arsa tak berdosa, aku yang salah, kenapa Tuhan memberikan penderitaan ini pada Arsa."


"Jangan katakan itu Tere, seharusnya tak ada yang mendapat kecelakaan itu. Kau, aku, atau pun Arsa."


"ARSA!!!"


"Maafkan aku Arsa, aku ibu yang gagal. Maafkan aku, jangan tinggalkan aku Arsa. Aku mohon jangan, kalau kau tak ingin bersamaku setidaknya tetap lah bersama Arya, kau adalah kehidupan Arya hiks, hiks."

__ADS_1


Arya pun tak kuasa menahan tangisnya saat melihat Tere yang menangis, tiba-tiba saja foto Arsa yang terpajang di dinding terjatuh membuat hati Arya semakin sakit dan perih.


Tangerang, 31 Desember 2019


__ADS_2