
"Kau kenapa berada di sini?"
Pertanyaan yang keluar dari mulut Arya seakan mengejek keberadaan dirinya di gereja, namun Arya sama sekali tak bermaksud begitu, ia hanya bingung saat melihat Tere di gereja ini.
"Aku beritahu dirimu, bahwa gereja adalah rumah Tuhan bukan rumahmu Arya Panggalila. Jadi siapa pun bisa datang ke sini, dan lagi pula kenapa kau bisa ada di rumah Tuhan. Kau ini manusia yang penuh dengan dosa, tak pantas untuk memasuki sucinya rumah Tuhan. Jangan mengotori rumah Tuhan dengan dosa-dosamu itu Arya!"
Arya memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya saat emosi dalam dirinya meminta dilampiaskan saat mendengar ucapan Tere yang sangat menghina dirinya. Senyum miring yang mengejek menghiasi bibir Tere saat melihat reaksi Arya.
"Kenapa? Kau marah padaku? Oh atau kau ingin memukulku? Maka pukul aku, pukul aku sekarang dan tunjukkan langsung pada Tuhan bahwa kau memang selalu menyakitiku dan kau orang yang menghancurkan kehidupanku!"
Ingin Arya membalas berteriak pada Tere bahwa bukan ia yang menyakiti Tere, tapi Tere sendirilah yang menyakiti dirinya sendiri karena tidak menerima takdir yang diciptakan oleh Tuhan. Namun Arya selalu lemah saat berurusan dengan wanita didepanya, wanita yang berhasil mencairkan hatinya dan membawa hatinya sehingga ia tak bisa menyakiti Tere karena hal itu akan menyakiti dirinya sendiri.
"Aku adalah manusia yang penuh dengan dosa, aku hanya ingin meminta pengampunan pada Tuhan dan meminta kepada Tuhan agar memberikan seluruh kebahagiaan di Dunia ini untukmu...
Mata Arya yang berkaca-kaca dan suara lirih pria itu, mampu membuat Tere merasa menjadi wanita paling jahat di Dunia ini. Apalagi saat tangan Arya yang kasar mengusap lembut rambutnya, seakan ia adalah berlian berharga yang rapuh.
"Kalau perlu, Tuhan ambil saja semua kebahagiaan yang ditakdirkan untukku, menjadi kebahagiaan untukmu seorang."
Air mata tanpa sadar kembali menetes di kedua pipi Tere, Tere menatap mata Arya, berusaha mencari kebohongan di mata itu namun kejujuran yang ia dapat.
Tere mengepalkan tangannya saat perasaan laknat yang orang namakan cinta berusaha mendobrak pintu pertahanan dalam hatinya. Tere berusaha untuk mengusir perasaan itu dalam hatinya lalu menatap tajam Arya.
__ADS_1
"Kau adalah pembohong yang sangat handal. Stop membohongiku dan dirimu sendiri, aku yakin dalam hatimu kau ingin aku menderita seumur hidupku, karena aku selalu menghina dirimu."
Arya tersenyum tipis mendengar prasangka buruk Tere yang seakan tak pernah hilang.
"Sudah, kita jangan berdebat lebih baik kita berdoa pada Tuhan, untuk memaafkan dosa-dosa kita."
Arya menarik tangan Tere, hendak melangkah memasuki Gereja namun terhenti saat merasa Tere tak mengikuti langkahnya. Tere tetap diam di sana, dan menatap Arya dan juga lambang salib di depannya bergantian.
Arya membalas Tere dengan alis terangkat, bingung karena Tere tak ingin memasuki gereja. Padahal Arya tahu bahwa Tere selalu rajin ke gereja baik hari minggu maupun hari biasa, kepercayaan Tere pada Tuhan melebihi kepercayaan siapa pun yang pernah Arya kenal.
Namun itu dulu, sebelum ia masuk ke dalam kehidupan penuh dengan kebaikan milik Tere. Arya sadar bahwa ia hanya memberi pengaruh buruk pada Tere, wanita itu tak pernah lagi menginjakkan kakinya di gereja. Tapi Arya pun sadar bahwa kehadiran Tere memberikan cahaya dalam hidupnya, Arya yang tak percaya dengan adanya Tuhan mulai percaya dan menjalankan ibadahnya.
Tere adalah cahaya dalam hidup Arya yang kelam.
"Tuhan mencintai umatnya Tere, ia bagaikan orang tula dalam hidup kita. Seberapa banyak pun kita melukai perasaannya, ia akan memaafkan kita kalau kita sungguh-sungguh bertobat."
"Tapi dosa itu akan terus ada dalam kehidupanku."
"Kau bisa menghilangkan dosa itu dalam hidupmu, asal kau sebagai manusia bersungguh-sungguh melakukannya."
"Kalau begitu, kau dan anak ini menghilanglah dalam hidupku karena kalian adalah dosa terbesarku!"
__ADS_1
"Baiklah, kau tunggu saja aku di situ. Apa kau ingin menitip doa padaku?"
Tere terdiam sementara, lidahnya terasa kelu untuk mengutarakan doanya pada Arya hingga ia lebih memilih menggelengkan kepalanya, lalu menatap punggung kekar Arya yang perlahan menghilang di pintu masuk gereja.
"Arya tunggu!"
Arya berhenti melangkah dan berbalik badan pada Tere, menatap bingung pada Tere yang hanya diam tak seperti sedang berpikir keras antara mengatakannya atau tidak hingga Tere pun bersuara.
"Bolehkah aku meminta satu janji darimu?"
"Janji?"
"Iya, hanya satu tapi kau tak boleh mengingkarinya, gereja ini menjadi saksi kejujuran dari janjimu."
Entah kenapa Arya merasa sangat berat untuk mengangguk atau menerima permintaan Tere, ia merasa ini ada hubungannya dengan perpisahan mereka namun ia tak bisa melihat wajah Tere yang memelas, berharap besar padanya.
Arya mengangguk membuat Tere tersenyum sangat lebar, Arya menyiapkan dirinya untuk mendengar permintaan Tere.
"Setelah anak ini lahir, pergilah dari hidupku. Jangan sampai aku melihat wajahmu setelah aku melahirkan, apa pun yang terjadi jangan pernah bertahan di sisiku lagi, jangan pernah menoleh kembali ke belakang, bawalah bayi ini dan menjauhlah sejauh yang engkau bisa."
Arya memejamkan matanya, berusaha menahan air matanya agar tidak mengalir di kedua pipinya. Lalu membuka matanya dan menatap lembut Tere, sebelum mengangguk menerima permintaan Tere. Arya langsung meninggalkan Tere yang berdiri diam mematung menatap Arya yang berjalan ke dalam gereja.
__ADS_1
Tangerang, 07 Desember 2019