Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (42): Berubah


__ADS_3

"Surat cerai?"


Arya bertanya pada Tere sambil menatap bingung pada surat di tangannya lalu kembali pada Tere, sedangkan Tere mengangguk tegas seakan ia sudah sangat yakin dan paham apa yang ia lakukan.


"Iya, surat cerai pernikahan kita. Maaf aku lupa memberikannya padamu, karena aku sibuk jadi baru sekarang aku memberikannya."


"Tapi kau belum menandatangani surat cerai ini?"


Dalam hati Tere merutuki kebodohannya yang lupa memeriksa surat cerai itu sebelum memberikannya pada Arya, sekarang ia sangat malu karena lupa... Bukan lupa tapi tak siap menandatangani surat cerai itu.


"Oh ya, aku lupa menandatangani surat cerai ini... Kau tahu kan aku sibuk belajar dan bekerja jadi...


"Satu menit, bukan bahkan 5 detik. Hanya 5 detik dalam dua belas tahun, waktu yang kau butuhkan untuk menandatangani surat cerai ini, tapi kenapa kau tidak menandatanganinya?"


Arya menatap tajam Tere, sedangkan Tere mengalihkan pandangannya ke arah lain asal jangan menatap mata Arya karena pasti Tere akan gugup dan menjadi lemah.


"Kenapa Tere? Kenapa baru sekarang kau mau menandatanganinya?"


"Karena aku sibuk! Sudah tak perlu dibahas, berikan surat cerai itu kembali agar aku tanda tangani!"


Tere merampas surat cerai itu dari tangan Arya, lalu menatap sekitar ruangan Arya berusaha mencari pulpen karena ia tak bawa pulpen.


"Ini pulpen, kau mencari pulpen bukan?"


Tere langsung menatap Arya yang mengulurkan pulpen padanya, hati Tere seakan dicubit saat melihat Arya yang sangat tak sabar ia menandatangani surat cerai ini.


"Ya, a... Aku butuh pulpen, kau pasti sangat senang bukan karena akhirnya kita akan bercerai secara sah menurut hukum," ucap Tere setelah menerima pulpen itu, Tere berjalan ke arah meja kerja Arya karena ia butuh pegangan untuk tetap berdiri.


"Ayo tanda tangani surat cerai itu, kenapa hanya diam?"


"I... Iya, akan ku tanda tangani, tenang saja."


Tere berusaha sekuat tenaga menandatangani surat cerai itu bahkan ia sampai menekan pulpen itu pada kertas surat ini, namun yang terjadi malah pulpennya terlepas dari tangannya.


"Tanganku berkeringat dan pulpennya licin, jadi aku...

__ADS_1


Tanpa sengaja tatapan Tere dan Arya bertemu, Tere ingin memutus tatapan di antara mereka namun matanya lebih mengikuti kata hatinya dari pada akal sehatnya. Tatapan keduanya saling menyiratkan perasaan satu sama lain.


"Kenapa harus berbohong padaku?"


"Apa maksudmu?"


"Kau tak bisa menandatangani surat cerai itu Tere, karena hatimu menolak untuk berpisah dariku."


"Pulpennya licin Arya dan...


Ucapan Tere terhenti saat Arya menarik pinggangnya mendekat pada tubuh Arya, hingga tubuh keduanya menempel tanpa jarak. Dalam hati Tere mengutuk jantungnya yang berdetak cepat setiap kali berdekatan dengan Arya. Tangan Tere yang berada di dada bidang Arya, bisa merasakan detak jantung Arya yang juga menggila.


"Mau sampai kapan mulutmu mengucap kebohongan Tere? Jantungmu berdetak kencang untukku, matamu memancarkan perasaanmu padamu, tapi kenapa kau masih berbohong?"


"Arya lepas, Arya kau sudah punya istri dan anak!"


"Kau cemburu?"


"Tidak, aku tidak akan pernah cemburu bahkan aku senang melihat kebahagiaanmu dan istrimu, selamat atas kehidupan barumu."


Tere berusaha mendorong tubuh Arya yang semakin mendekat padanya, namun bukannya menjauh Arya malah mendekatkan wajahnya pada wajah Tere hingga hidung keduanya saling menempel.


Entah kenapa setelah mendengar jawaban Arya, Tere merasa hatinya menjadi lebih ringan dan bahagia. Melihat Arya lengah, Tere pun mendorong tubuh Arya hingga tubuh Arya menjauh darinya.


"Kau tak perlu menjelaskannya karena aku tak peduli! Aku ke sini hanya untuk memberikan surat cerai itu, bukan ingin mendengar cerita kehidupanmu!"


Tangan Arya mengepal dengan kuat hingga memerah, sedangkan Tere berusaha tidak peduli dengan amarah yang terpancar dari mata Arya. Tere mengambil lagi pulpen yang terjatuh tadi, hendak menandatangani surat cerai itu namun...


Sreeetttt.


"Apa yang kau lakukan?!"


"Merobek surat cerai ini, agar kau tetap terikat denganku dalam tali pernikahan."


"Kau gila!"

__ADS_1


"Aku gila karena kau Tere, aku gila karena kau tak pernah membalas perasaanku."


Tere menatap kesal dan amarah pada Arya, namun Tere sendiri sadar bahwa itu hanya aktingnya untuk menutupi kebahagiaan dalam dirinya. Tak ada yang bisa mengambil Arya dari Tere Queenera, selamanya Arya akan tetap menjadi miliknya karena pria itu terlalu bodoh untuk mencintainya.


"Ada dan tidak adanya surat cerai itu, aku akan tetap pergi dalam kehidupanmu!"


"Maka aku akan mengikatmu di kamarku Tere, kalau perlu aku akan melakukan lagi kejadian pada malam dua belas tahun yang lalu, yang membuatmu terikat padaku."


"Sebelum itu terjadi, aku akan membunuhmu!"


Tere memilih pergi meninggalkan ruang kerja Arya, namun langkahnya terhenti saat Arya menarik tangannya dan mencium bibirnya dengan tiba-tiba. Tere berusaha memberontak dan terus memukul dada bidang Arya namun Arya tetap menciumnya dengan rakus.


"Aku lelah menjadi pribadi lain di depanmu, sebenarnya aku bukan pria sabar, apalagi pria yang menerima saat dihina tapi demi cintaku, aku rela menjadi pria bodoh. Sudah cukup aku menjadi pria bodoh! Sekarang akan kutunjukkan siapa Arya Panggalila sebenarnya padamu."


Arya mendorong tubuh Tere ke sofa yang berada di samping mereka, Tere berusaha bangun namun Arya menindih tubuhnya. Tere memejamkan matanya saat tangan kasar Arya mengusap pipinya lalu mencium pipinya.


"Dua belas tahun yang lalu, kau tak ingat dengan jelas awal terbentuknya Artesha, sekarang kau akan ingat dengan jelas awal terbentuknya anak kedua kita."


"Arya jangan lakukan ini, a... Aku meminta maaf hiks, hiks."


Tere menatap memohon pada Arya, air mata sudah mengalir deras di pipinya. Tatapan ketakutan terpancar jelas di mata Tere.


"Kenapa menangis Tere? Harusnya kau senang, selama kita menikah tak pernah sekali pun kau menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri yaitu melayani kebutuhanku bukan?"


"Arya lepaskan aku!"


"Tolong! Tolong aku hiks.”


Tere menggelengkan kepalanya, berusaha berontak di bawah tubuh Arya namun kekuatannya dan Arya jelas berbeda jauh. Arya dibuat kesulitan dengan Tere yang terus meronta, hingga akhirnya ia harus mengikat tangan Tere dan membungkam mulut Tere dengan lakban.


"Ini lebih baik, kau diam dan tak bersuara. Sudah cukup kau bersuara, sekarang waktunya kau bungkam dan menurut."


Tere memejamkan matanya menahan sakit atas perbuatan kasar Arya padanya, mungkin Tere bukan lagi perawan namun ia tidak pernah melakukan hubungan intim setelahnya dan rasa sakit itu masih ada saat Arya memperkosanya tanpa perasaan. Seharusnya Tere tak menemui Arya, bertahun-tahun melihat Arya selalu mengalah membuat Tere lupa bahwa Arya yang lembut dan baik hanya topeng untuk menutupi sifat kasar dan kejamnya.


Air mata terus saja mengalir deras di pipinya saat pertama kalinya Arya memperlakukanku dengan kasar, mungkin Arya sudah lelah menghadapi sifat kasar dan egoisnya namun kenapa Arya membalas perbuatannya dengan memperkosanya dan membuka kembali luka dua belas tahun yang lalu?

__ADS_1


"Kau berubah Arya."


Tangerang, 25 Desember 2019


__ADS_2