Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (5): Bunuh Diri


__ADS_3

Aku benci pria itu karena


pria itu impianku hancur.


~Tere Queenera~


Tere terus berjalan sambil menundukkan kepalanya menangis dalam diam dengan air hujan yang membasahi tubuhnya namun tak membuat Tere berhenti melangkah atau mencari tempat untuk berteduh sehabis pulang kerja karena baginya hujan adalah salah satu cara untuk menutupi air matanya.


Semua telah berakhir, impiannya, cita-citanya, kuliah yang akan dia tempuh semuanya telah hancur, sekarang dia sudah tidak punya apa-apa lagi untuk di banggakan.


Tere ingat saat ibu dan ayahnya masih hidup, mereka sangat ingin Tere menjadi dokter kandungan karena sewaktu ibunya mengandung Tere terdapat komplikasi pada rahim ibunya sehingga rahim ibunya harus diangkat setelah melahirkannya sejak saat itu mereka selalu menaruh harapan dan impian mereka untuk menjadikan Tere sebagai dokter kandungan namun sekarang Tere menghancurkannya hanya dalam satu malam yang paling hina dalam hidupnya.

__ADS_1


Tadi Tere mendapat kabar untuk mendatangi pusat beasiswa Amerika yang ada di Ibu Kota untuk verifikasi berkas lainnya dan kelanjutan beasiswanya ke Amerika namun dia tidak pergi dan sudah pasti dia gagal mendapatkan beasiswa yang selama dia impikan dan dia kejar dengan belajar yang serius di saat teman sebayanya sibuk bermain dan pacaran.


"Aku benci anak ini, aku benci ayahnya, aku benci kalian berdua, aku benci kalian, AKU BENCI!" teriak Tere meluapkan kesedihan, kegagalan, dan rasa sakit yang begitu dalam di hatinya melalui tangisan, teriakan, dan air mata yang mengalir deras di pipinya bersamaan dengan air hujan.


"Pria itu menghancurkan hidupku, impianku, masa depanku, dan beasiswaku hanya dengan satu malam yang paling hina dalam hidupku hiks, hiks, seharusnya kau tidak tumbuh di rahimku, kau kesalahan, kau benalu dalam hidupku hiks, hiks."


Tere memukul perut ratanya dengan kuat sambil menangis dan berteriak tidak peduli bahwa tindakannya ini dapat melukai atau menyakiti segumpal daging yang ada di rahimnya.


Tere menatap kosong dan hampa ke depan. Jalanan yang sepi dan gelap dihiasi dengan suara petir yang menggelegar menimbulkan suasana menakutkan dan mencekam namun tidak membuat Tere ketakutan atau pun khawatir karena dia sudah tidak memiliki tujuan apa pun yang mampu membuatnya takut belum menggapainya.


Tere menghalau cahaya yang ada di depannya dengan tangan kanannya berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk ke retina matanya. Tere dapat melihat ada truk besar yang melaju kencang ke arahnya dan Tere bisa menebak pasti sopir truk itu mabuk atau mengantuk.

__ADS_1


"Ini jalan terbaik dalam masalahku, semuanya akan selesai dan aku akan mengakhiri penderitaanku selama ini bersama benalu dalam rahimku ini."


Tere melangkah ke depan tanpa takut atau khawatir saat jarak antara mereka berdua semakin dekat. Sang sopir yang sadar ada wanita di depan langsung membunyikan klakson namun Tere terus melangkah tanpa getar.


Tatapan Tere terlihat tak gentar saat mobil itu semakin dekat dengannya, tangannya mengepal kuat berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua yang ia lakukan ini adalah yang terbaik dari pada menanggung malu sendirian atas aib ini.


"Selamat tinggal semuanya."


"BRUUUKKK!"


Tangerang, 19 Agustus 2020

__ADS_1


__ADS_2