Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (6): Selamat


__ADS_3

Seberapa besar pun seseorang ingin menentukan takdirnya, tetap saja dia hanya akan pengikut takdir bukan takdir mengikutinya


~Arya Panggalila~


Tidak ada darah, suara mobil melaju meninggalkannya, tak ada rasa sakit dan ada pelukan hangat. Tere membuka matanya perlahan lalu matanya bertemu dengan mata tajam berwarna hitam pekat yang sedang menatapnya khawatir.


"Kau tak apa? Apa ada yang sakit?"


"Pertanyaan yang sangat bodoh Arya Panggalila."


Arya menghela nafas kasar saat wanita di depannya ini tak bisa berhenti untuk tidak bersikap judes dan sinis padanya walau hanya satu detik.


"Apa maksudmu?" tanya Arya tak mengerti ucapan Tere. Dia hanya khawatir pada kondisi Tere dan bayi dalam kandungannya. Apa yang salah dan bodoh?


Tere mendekatkan wajahnya pada Arya membuat Arya menahan nafasnya sebentar saat dia bisa merasakan deru nafas Tere dengan jarak sedekat ini.


"Orang gila, ****, dan bodoh pun tahu bahwa tadi itu bukan kecelakaan melainkan usaha bunuh diri dan aku pikir kau cukup pintar untuk tahu arti dari seorang wanita yang terus berjalan ke arah truk yang melaju cepat tapi aku salah. Ternyata kau idiot Arya Panggalila!" ucap Tere menatap tajam Arya.

__ADS_1


"Iya, saya idiot Tere Queenera, saya tidak bisa membedakan mana kecelakaan dan usaha bunuh diri. Kamu tahu kenapa?" tanya Arya lalu mendekatkan wajahnya pada Tere membuat Tere mundur namun Arya menahannya dengan menarik kepala Tere hingga hidung keduanya menyatu.


"Semua itu karena saya terlalu takut dan khawatir akan keselamatan kamu dan bayi kita sehingga saya tidak bisa melihat apa pun Tere."


"Bukan bayi kita tapi bayi kamu!"


"Kenapa Tere? Kenapa kau tidak bisa menerima kehadiran bayimu sendiri meskipun dia lahir atas kesalahan kita berdua tapi setidaknya dia pun ingin bahagia Tere," ucap Arya mengelus pipi Tere dengan jari telunjuk namun dihempaskan dengan kasar oleh Tere.


"Sampai saya mati pun, saya tidak akan pernah menerima kehadiran benalu ini karena dia dan kamu ayahnya, kehidupan saya jadi hancur, beasiswa saya kandas dan masa depan saya suram."


"Berapa?"


"Berapa banyak uang yang harus saya beri ke kamu agar kamu mau mengandung bayi saya hingga melahirkan?"


"PLAAKKK!"


Satu tamparan keras mendarat di pipi kanannya namun tak membuat Arya berhenti berbicara. Senyum miring di bibirnya seakan menghina Tere membuat Tere semakin benci pada pria di hadapannya.

__ADS_1


"Rencana kuliah kamu gagal? Beasiswa kamu kandas? Masa depan hancur?" tanya Arya menatap tajam Tere.


"SAYA GANTI SEMUA ITU TERE QUENEERA, SAYA BAYAR UANG KULIAH KAMU SAMPAI GELAR DOKTOR, KAMU MAU KULIAH DI AMERIKA, INGGRIS, SWISS, SWEDIA, ATAU DI MANA PUN TETAP AKAN SAYA BAYAR. SAYA BANGUN RUMAH SAKIT UNTUK KAMU....


"Sebagai balasannya kamu harus mengandung bayi saya hingga melahirkan dan setelah itu kamu bebas melakukan apa pun."


Tere menatap tidak percaya pada Arya yang memperlakukannya bagai wanita bayaran. Hatinya perih dan sakit saat mendengar setiap perkataan Arya karena Tere terlalu egois dan hanya memikirkan rasa sakitnya sendiri tanpa peduli rasa sakit yang Arya rasakan saat mendengar kata kasar dan pengusiran dari dirinya.


Tere menghapus air matanya dengan kasar dan memejamkan matanya sejenak sebelum kembali menatap tajam Arya yang masih menatapnya penuh harap.


"Saya setuju, saya terima tawaran kamu. Saya akan mengandung bayi kamu sampai melahirkan lalu kamu berikan semua yang kamu katakan tadi Arya Panggalila."


Arya menatap tidak percaya Tere yang menerima tawaran asal yang terlontar dari bibirnya karena marah pada sikap Tere selama ini.


"Sebegitu beratkah untuk mengandung dan melahirkan bayimu sendiri Tere hingga kau butuh bayaran dan imbalan. Kau egois Tere, kau hanya memikirkan impian dan masa depanmu tanpa peduli kehidupan orang sekitarmu bahkan kehidupan bayimu sendiri. Kau wanita yang egois Tere Queenera!"


Tangerang, 19 Agustus 2020

__ADS_1


__ADS_2