Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (38): Pertemuan Dengan Mantan


__ADS_3

"Arya."


Tere yang sedari tadi memperhatikan sekitarnya langsung diam mematung mendengar nama itu, padahal nama itu pasaran namun entah ia merasa bahwa Arya yang dipanggil Xerion adalah orang sama dengan pria di masa lalunya.


"Xerion, aku ingin ke kamar mandi dulu," ucap Tere berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan pegangan tangan Xerion di lengannya. Tere tak mau menoleh ke depan, karena ia takut bahwa apa yang ia pikirkan adalah kenyataan.


"Nanti saja, oh ya Arya, perkenalkan dia Tere, sahabatku. Dia ini jomblo tingkat akut, dan kau adalah duda tingkat akut, kalian sangat cocok."


"Xerion lepaskan!" ucap Tere dengan nada tegas dan terbantahkan, sedangkan Xerion menatap bingung Tere yang menurutnya berlebihan. Namun Xerion tetap melepaskan pegangannya pada lengan Tere.


"Sepertinya kau sangat menyukai lari dari masa lalu Tere Queenera. Dua belas tahun tak cukup untukmu mempersiapkan diri untuk pertemuan pertama kita setelah sekian lama tak bertemu."


"Diam Arya Panggalila, tutup mulutmu," ucap Tere tak terima ucapan Arya yang seakan meremehkan, namun ia tetap tidak mau menoleh.


"Kalian saling kenal?" tanya Xerion menatap Arya dan Tere bergantian, ia tak tahu kapan rekan kerja dan sahabatnya ini bertemu.


"Xerion, bisakah kau tinggalkan aku dan mantanku ini berdua?"


Xerion yang melihat Tere tak keberatan dengan permintaan Arya pun pamit undur diri dari Arya dan Tere.


"Wow, sekarang kita bertemu lagi dokter hebat...

__ADS_1


Arya tersenyum miring saat melihat kepalan tangan Tere, Arya pun berjalan ke hadapan Tere hingga keduanya bisa saling menatap satu sama lain.


Arya salah jika ia merasa sudah menghilangkan perasaan yang ada di hatinya untuk ibu dari Arsa, putrinya. Nyatanya ia masih merasakan debaran jantung yang menggila dan suara hati kecilnya yang ingin memeluk Tere.


Arya mengakui Tere banyak berubah, Tere yang ia kenal dulu hanya remaja menuju dewasa yang tak memedulikan pakaian yang dipakai maupun merias diri, tapi Tere yang berdiri di hadapannya adalah wanita dewasa dengan pakaian berkelas dan riasan natural yang menciptakan kesan elegan.


Tak banyak yang berubah dari seorang Arya selama dua belas tahun karena Tere tahu Arya adalah tipikal yang susah berubah. Arya yang dulu dan sekarang tetap sama, yaitu Arya yang tampan dan berwibawa.


"Aku sering melihat berita tentang keberhasilan seorang Tere Queenera, dokter hebat yang berumur 30 tahun, yang mampu menyelamatkan nyawa seorang bayi yang jantungnya sudah berhenti berdetak di rumah sakit Singapura, atau tentang perjuangan dan kebaikanmu untuk calon penerus Negeri ini, kau dipuja semua orang atas kebaikanmu. Namun mereka bodoh karena memujamu, nyatanya kau hanya seorang ibu yang gagal!"


"Kau tak pantas berbicara apa pun tentang diriku Arya! Kau dan aku adalah orang asing," ucap Tere penuh penekanan, berharap Arya akan berhenti bicara namun ia salah karena Arya tetap melanjutkan ucapannya.


"Kau tak mau mengenal anakmu? Bagaimana wajahnya? Di mana ia sekolah? Apa makanan kesukaannya? Apa hobinya? Atau yang paling mendasar siapa namanya dan apa dia perempuan atau laki-laki?"


Arya hampir saja melayangkan tangannya di pipi tirus Tere jika saja ia tak melihat mata berkaca-kaca Tere, dan air mata yang menetes di perlahan-lahan.


"Tampar aku, dua belas tahun berlalu. Arya yang dulu tidak akan membentak atau berkata kasar padaku, sekarang berubah menjadi Arya yang siap membunuhku kapan pun dia mau. Kau sudah berubah banyak Arya Panggalila."


Arya mengusap wajahnya kasar saat ia hampir khilaf, dua belas tahun berlalu Arya lupa bahwa menghadapi seorang Tere Queenera tidak diperlukan otot tapi otak dan mulur dower.


"Dan kau tak pernah berubah Tere, kau tetap sama seperti Tere dua belas tahun yang lalu. Tere yang egois, kasar, pendendam, dan bodoh!"

__ADS_1


"Kau?!"


Tere benar-benar kesal menghadapi pria di depannya ini, lebih tua sepuluh tahun darinya namun menurut Tere, perilaku Arya seperti anak kecil saja. Baru saja Tere hendak membalas ucapan Arya tapi terhenti saat ada suara lain di belakang Arya menyela ucapannya.


"Ayah."


Jantung Tere hampir berhenti berdetak beberapa detik, saat mendengar suara lembut dan halus yang ia yakini memanggil Arya. Tere langsung ingin berlari dari tempatnya, namun Arya mencekal tangannya dan menatap datar padanya. Tere berusaha berontak, dan meminta dilepaskan oleh Arya karena ia tak siap menghadapi situasi seperti ini.


"Arya lepas, kumohon. Aku tak bisa."


"Aku rasa dua belas tahun sudah cukup untuk kau mempersiapkan diri bertemu dengan anak kita."


"Dia anakmu, bukan anakku."


"Ayah, Arsa dari tadi mencari ayah... TANTE?!"


"Anak sialan?!"


Tere menatap Arya dan gadis yang ia temui di Bandara tadi pagi bergantian, begitu pun dengan Arsa yang menatap Arya dan Tere bergantian lalu tatapan keduanya bertemu dan memancarkan aura permusuhan yang hakiki. Melihat Arya sedang lengah, Tere pun langsung menghempaskan tangan Arya dengan kasar lalu berlari menjauh dari masa lalunya.


Selamanya, Tere akan terus berlari menjauhi masa lalunya kalau perlu ia ingin mengubur masa lalunya agar tak terlihat lagi di depan matanya.

__ADS_1


Tangerang, 20 Desember 2019


__ADS_2