
Tanpa Tere sadari bahwa putri kecilnya yang sudah tumbuh menjadi anak perempuan cantik dan lucu, sedang melihat siaran TV luar negeri dan sangat bangga melihat sosok wanita cantik dan cerdas, tapi anak itu tak pernah tahu sosok tersebut adalah sosok yang sama dengan yang ia rindukan selama ini, sosok yang sering ia tangisi malam hari secara diam-diam, dan sosok yang ingin sekali ia lihat dan dia peluk.
Sedangkan di Mansion Arya, Artesha terus saja menarik-narik lengan ayahnya untuk melihat Channel TV Swasta luar negeri, yang menampilkan tentang pengumuman lulusan Harvard University.
"Pokoknya papa harus lihat TV dulu, Arsa punya impian kaya kakak itu ayah!"
"Kakak siapa sayang? Ayah tidak bisa, kamu menonton sendiri dulu, ayah sedang sibuk."
"Enggak, pokoknya papa harus tonton, kakak itu mirip banget sama Arsa terus dia juga pintar banget."
Entah kenapa Arya merasa ada yang aneh dengan perasaannya sekarang saat mendengar ucapan putrinya. Arya tak lagi protes dan diam mengikuti ke mana Arsa membawanya, karena ia hanya ingin memastikan keraguannya.
"Itu ayah, dia cantik banget kan, dia juga lulusan kedokteran loh ayah, di Har... Harfa
__ADS_1
Artesha berusaha mengingat nama perguruan tinggi yang tadi ia tonton, jari telunjuknya berada di bibirnya, ia sedang berpikir keras hingga tak menyadari raut wajah ayahnya yang berubah.
Arya merasa tubuhnya melemah, hingga ia harus duduk di sofa sambil menatap datar TV besar di depannya, kakak yang Arsa maksud adalah wanita yang yang melahirkan Arsa. Tere Queenera, wanita yang namanya masih melekat di hatinya.
"Oh iya Harvard papa, iya Harvard. Kakak itu lulusan Harvard, dia cantik banget kan papa?"
Arya menoleh pada putrinya yang sedang tersenyum lebar sambil menatap TV di depannya, yang menampilkan sosok ibu kandungnya namun Arsa tak akam pernah tahu, wanita yang ia kagumi adalah wanita yang melahirkannya selalu membuangnya.
"Papa enggak menangis kok, papa cuma kelilipan doang."
Ayah dan anak itu hanya diam sibuk dalam pikiran masing-masing, tatapan Arya tertuju pada sosok Tere yang sedang menerima penghargaan tersebut, terlihat air mata mengalir di pipi wanita itu.
Arya yakin itu adalah air mata kebahagiaan, karena telah berhasil menggapai salah satu mimpinya. Arya berusaha mencari raut bersalah atau sedih di wajah Tere, namun ia tak menemukannya karena nyatanya wanita itu tak pernah sedih atau merasa bersalah setelah memintanya pergi bersama bayi kecil mereka.
__ADS_1
"Kamu benar-benar egois Tere, kamu korbankan kehidupan anak dan suami kamu demi cita-cita kamu, aku enggak menyangka masih ada wanita tak punya hati seperti dirimu di Dunia ini. Selamat atas penghargaanmu itu, kau memang jenius Tere namun kau adalah wanita terbodoh karena telah mengorbankan keluargamu demi gelar tersebut."
Arya hanya bisa mengatakannya dalam hati, hanya bisa menangis dalam hati, saat hatinya teriris-iris melihat keberhasilan Tere di atas penderitaannya.
"Papa, Artesha mau jadi kaya kakak itu."
Arsa yang lugu dan tak tahu apa-apa, menunjuk TV di depannya dengan kekaguman yang tak terhingga. Arya menggelengkan kepalanya, menolak keinginan putrinya untuk menjadi sama seperti Tere.
"Kamu enggak boleh jadi seperti dia Arsa karena dia bahkan lebih buruk dari binatang, binatang saja tak akan membenci dan membuang anaknya, tapi dia melakukannya."
Lagi dan lagi Arya hanya bisa mengutarakannya dalam hati, ia tidak ingin Arsa tahu kebenaran menyakitkan ini. Kalau Tere memang ingin menyembunyikan jejak masa lalunya yaitu ia dan Arsa, maka Arya akan menghilangkan jejak Tere dalam hidup Arsa untuk selamanya.
Tangerang, 16 Desember 2019
__ADS_1