Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (39): Wanita Melahirkan


__ADS_3

Melangkah pada kehidupan baru,


lebih susah dari pada melupakan kehidupan lama


~Tere Queenera~


Tere duduk sambil membaca daftar pasien yang akan ia tangani besok termasuk keluhan mereka, sekarang dia sedang berada di salah satu restoran di Ibu Kota.


"Bu Namira sesuai perkiraanku akan melahirkan besok, lebih baik besok aku langsung mempersiapkan ruang bersalin agar tak ada masalah besok."


Wajah datar dan tatapan serius seakan sudah melekat sempurna bagi seorang Tere, tangan Tere hendak mengambil gelas jus jeruknya namun dia ia menaruhnya lagi karena mendengar suara gaduh di depannya.


"Astaga tolong ada wanita yang akan melahirkan!!!"


Seseorang yang tak terlihat wajahnya berteriak dengan keras, mengundang pengunjung restoran untuk melihat apa yang terjadi termasuk Tere.


Mata Tere membulat saat melihat seorang wanita merintih kesakitan sambil mengusap perutnya yang besar, darah mengalir di kedua kaki wanita itu. Tere langsung melewati kerumunan yang panjang itu lalu duduk di sisi wanita itu.


"Tolong," ucap wanita itu pelan karena tenaganya yang sudah habis dikarenakan ia hendak melahirkan.

__ADS_1


Semua orang hanya diam menonton Tere yang berusaha menenangkan wanita itu, tak ada yang peduli pada kondisi wanita itu, bahkan ada merekam kejadian itu. Sangat tidak pantas dan tidak bermoral.


"Kau harus tetap tenang, ada aku di sini, aku akan membantumu, jangan menyerah," ucap Tere menggenggam erat tangan wanita itu, wanita itu menoleh pada Tere dan Tere bisa melihat tatapan terkejut wanita itu.


"Ka... Kau?"


"Kau mengenalku?" tanya Tere saat melihat reaksi wanita itu seperti pernah bertemu atau mengenalnya, padahal seingat Tere ini pertemuan pertama mereka.


"Tere... Awwwhhhh!"


Wanita itu berteriak dengan keras saat merasakan sakit yang luar biasa di perutnya, Tere berusaha melupakan ucapan wanita itu yang menyebut namanya dan mulai meminta pertolongan pada penonton yang hanya diam tak melakukan apa pun.


"Tolong... Selamatkan bayiku."


"Aku akan menyelamatkannya, aku janji. Kau harus tenang, ikuti instruksiku. Tarik nafasmu perlahan, tahan lalu buang perlahan, kau mengerti?"


Wanita itu mengangguk lemah dan mengikuti instruksi Tere, sedangkan Tere berusaha tetap tenang saat melihat wanita itu terus merintih kesakitan.


"Tolong ambilkan tisu, wanita ini berkeringat dan tolong beri celah untuk wanita ini bernafas! Apa kalian ingin membunuhnya ha?!"

__ADS_1


Seorang pelayan langsung bergegas mengambil tisu dan memberikannya pada Tere sedangkan kerumunan itu memberikan celah untuk wanita itu bernafas.


"Sepertinya kau tidak bisa melahirkan secara normal, kondisimu sangat tidak memungkinkan. Apa kata dokter yang merawatmu tentang persalinanmu?"


"Ka... Kau benar, aku akan melahirkan... Secara sesar."


Tere mengusap wajahnya kasar, ingin rasanya Tere menangis saat melihat wanita itu terus merintih kesakitan sedangkan Tere tak bisa melakukan apa pun, karena wanita ini tak bisa melahirkan secara normal terlihat dari kondisi wanita itu.


"Mana ambulansnya bodoh?! Wanita ini akan melahirkan! Kalian semua memang tidak berguna!" teriak Tere melampiaskan amarah dan frustrasi dalam dirinya saat ia juga seperti orang bodoh, yang hanya bisa menonton kesakitan wanita itu.


Tere menatap kesal pada setiap penonton gratis di sekitarnya, ingin rasanya ia menghujat habis-habisan mereka semua karena lebih memilih diam menonton dari pada bertindak.


"A ... aku sudah menelepon Ambulans, sebentar lagi akan datang," ucap salah satu pemuda di antara kerumunan itu, Tere menghela nafas kasar mendengar jawaban yang tak memuaskan itu. Tere tak bisa diam saja, ia harus bertindak.


"Tolong bantu aku, angkat wanita ini ke mobilku agar aku yang membawanya ke mobil!"


Tere bersyukur setidaknya masih ada yang mengangguk dan hendak mengangkat tubuh wanita tersebut, namun terhenti saat ada berteriak memanggil nama yang mungkin nama wanita itu.


"ZELA!"

__ADS_1


Tangerang, 21 Desember 2019


__ADS_2