Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (15): Judes


__ADS_3

Aku tidak khawatir kau mati, tapi aku khawatir kondisiku jika kau mati tanpa membawa tanggung jawab di rahimku


~Teresa Queenera~


Tere membuka matanya perlahan-lahan lalu keningnya berkerut saat melihat suasana kamar yang berbeda dengan Mansion Arya, sepertinya ini apartemen bukan rumah bahkan Mansion melihat ruangannya yang luas dengan ruang tamu dan ruang makan mewah.


Kaki Tere menuruni ranjang lalu melangkah mendekati balkon apartemen ini untuk memastikan keyakinannya bahwa dia bukan berada di Indonesia lagi, dan benar saja yang ia lihat sekarang bukan suasana kota Jakarta namun kota yang entah apa namanya.


Namun saat melihat nama bangunan-bangunannya yang memakai bahasa mandarin, seperti bahasa China, sepertinya dia berada di China.


Tere berusaha mengingat kejadian yang terakhir kali menimpanya dirinya sehingga dia bisa berakhir di sini, rona merah timbul di pipinya, saat bisa mengingat kejadian dirinya pingsan karena fobia ketinggiannya.


Ego dalam dirinya mengutuk dirinya yang pingsan di samping Arya dan pasti Arya mengolok-olok fobianya. Tak mau memikirkan hal memalukan itu lagi, Tere pun memilih mandi lalu berpakaian dan makan.

__ADS_1


Selama masa kehamilan, Tere lebih banyak berubah mulai dari pipinya yang tirus menjadi cubby, atau badannya yang kurus menjadi melar dan semua itu karena nyawa laknat di rahimnya. Tere hanya diam mengamati postur tubuhnya yang berubah drastis, dan hal itu membuat kepercayaan dirinya menurun. Melihat dirinya tidak secantik dulu lagi.


"Lihat saja, kalau aku sudah melahirkanmu nanti. Aku akan pergi menjauh darimu dan ayahmu lalu kembali merawat diriku lagi, tinggal empat bulan lagi setelah itu ucapkan Say Good Bye," ucap Tere menatap perutnya yang menonjol.


Tere tak tahu apa jenis kelamin bayi dalam kandungannya, karena ia terlalu malas hanya untuk mengetahuinya. Toh dia juga akan meninggalkan bayi ini pada Arya nanti.


"Awwhhh bayi sialan," rutuk Tere lalu memeluk perut besarnya yang kesakitan karena tendangan dari bayi di dalam perutnya, terkutuklah bayi dalam perutnya dan ayah bayi ini.


"Jangan menendang lagi bodoh, kau pikir enak mengandungmu selama lima bulan ha?!"


Tere menyisir rambutnya lalu menoleh sekilas pada orang yang membuka pintu kamar ini, saat tahu Arya lah yang masuk, Tere kembali melanjutkan kegiatannya yang tertunda.


"Kau sudah baikkan?" tanya Arya yang hanya dibalas anggukan singkat. Arya mengambil jas abu-abu di lemari, melengkapi pakaiannya yang rapi dan menambah tingkat ketampanannya.

__ADS_1


"Aku kira kau ke sini untuk bekerja."


Arya menoleh pada Tere dan menautkan alisnya pertanda bingung dengan ucapan absurd Tere. Terkadang Arya bingung, kenapa Tere selalu bicara setengah-setengah, tidak langsung Full saja membuat dirinya seperti orang bodoh yang tak mengerti apa-apa.


"Lihat pakaianmu itu dan wangi parfummu itu, lebih pantas untuk berkencan dengan wanita dari pada menghadiri pertemuan penting."


Tere menatap penampilan Arya dari atas sampai bawah, dalam hati Tere iri pada penampilan Arya yang tetap Perfect bahkan tingkat ketampanan dan keseksian Arya bertambah, sedangkan dirinya sudah seperti upik abu.


"Aku rasa pakaianku ini cocok, bukankah aku selalu memakai ini setiap ke kantor?" tanya Arya membuat Tere semakin kesal, karena penampilan mereka yang berubah drastis dan karena dirinya yang semakin tak jelas karena hormon kehamilan ini.


"Kenapa kau bertanya padaku?! Kau pikir aku pembantumu yang menyiapkan bajumu, kau yang memakai baju tapi aku yang ditanya! Dasar aneh!" gerutu Tere lalu berdiri dan keluar kamar tak lupa membanting pintu tersebut hingga membuat Arya tersadar dari lamunannya.


"Sabar Arya, sabar. Mungkin suasana hati Tere sedang kurang baik," ucap Arya mengusap dadanya dengan irama naik turun.

__ADS_1


Tangerang, 30 Oktober 2019


__ADS_2