Malam Terkutuk

Malam Terkutuk
CHAPTER (16): Manusia Kepo


__ADS_3

Aku ingin lebih dekat denganmu, tapi kau selalu menjauh dariku.


~Arya Panggalila~


Arya fokus menyetir mobil sportnya dengan kecepatan sedang membelah jalanan kota Beijing, ibu kota China. Arya melirik Tere yang sedang menghitung dan menulis sesuatu entah apa.


Namun melihat ekspresi serius dari Tere membuat Arya yakin bahwa yang sedang menulis dan dihitung Tere adalah sesuatu yang penting.


"Ehm."


Arya memutar matanya jengah saat Tere tidak menghiraukan dehemannya, wanita itu tetap fokus seakan Dunia adalah milik sendiri.


"Kamu lagi apa?" tanya Arya menoleh ke arah Tere, mencuri pandang pada kertas di tangan Tere. Tere merapatkan kertas itu pada dirinya, agar Arya tak bisa melihat isi kertasnya.


Arya kembali fokus ke jalanan sambil menunggu jawaban dari Tere, entah kenapa Arya sangat penasaran dengan isi kertas itu hingga Tere tidak ingin ia tahu.


"Tidak usah jadi manusia kepo, menyetir saja dengan benar. Aku masih ingin hidup dan meraih impianku, aku tak ingin mengalami kecelakaan apalagi bersama kau dan bayi ini, bagai kutukan bagiku,"

__ADS_1


"Aku yakin saat ibumu mengandungmu, pasti ia mengidam cabai, terlihat dari ucapanmu yang pedas itu."


Tere hanya diam, menoleh sebentar pada Arya. Lalu kembali diam, ucapan Arya membuatnya mengingat masa kecilnya bersama ibu dan ayahnya. Tanpa sadar air mata mengalir di kedua pipi Tere, saat mengingat indahnya masa kecilnya berbeda dengan masa depannya yang suram, karena pria ******** di sampingnya.


Arya menoleh karena penasaran wanita itu tak membalas perkataannya, seketika Arya merasa bersalah karena telah membahas ibu Tere, hingga wanita itu menangis dalam diam.


"Maaf, aku tak bermaksud menyakiti atau membuatmu menangis, jangan menangis."


Arya memberhentikan mobilnya di pinggir jalan, ia tak bisa melihat Tere menangis apalagi karena dirinya. Bahkan Arya tak peduli bahwa pertemuan penting alasan dirinya ke kota ini, akan dilaksanakan sepuluh menit lagi.


"Aku mohon jangan menangis Tere, kau wanita kuat tidak pantas menangis, hanya wanita lemah saja yang menangis."


"Hiks, hiks, ibu hiks... Tere rindu ibu hiks."


Arya menarik tubuh rapuh Tere ke dalam pelukannya, bahkan Arya sudah mempersiapkan diri saat nanti akan menerima pukulan Tere, namun ia salah karena nyatanya Tere hanya diam menangis di dadanya.


"Ayah Tere butuh ayah... Tere ingin ayah melindungi Tere hiks, Tere takut menghadapi semuanya sendiri hiks, hiks."

__ADS_1


Tere kecil adalah anak perempuan cantik dan memiliki sifat manja, hatinya selembut sutra, tatapan polos dan senyum manisnya mampu membuat siapa pun menyukainya. Itu dulu saat ia masih memiliki ayah yang melindungi dan menjauhkannya dari kejamnya Dunia dan saat ibunya masih berada di sisinya, memeluk dan menceritakan dongeng tidur untuknya.


Tere sendiri sadar bahwa ia sudah berubah menjadi wanita tanpa belas kasihan, karena impiannya menjadi dokter kandungan. Tere pun ingin kembali menjadi sosok Tere kecil yang lembut, namun ia tidak bisa karena ia sekarang sendirian tanpa ada yang melindungi dan menyayanginya.


"Lepaskan aku bodoh!"


"Awwhhhh!"


Arya melepaskan pelukan Tere lalu menatap kemeja putihnya yang berubah menjadi warna merah pada bagian dadanya. Arya menatap tajam Tere, sedangkan Tere hanya diam menghapus air matanya dengan kasar.


Tere menoleh ke arah Arya dan menatap tajam pria itu, tanpa peduli Arya yang merigis kesakitan karena Tere mencubit dadanya dengan kuat hingga berdarah.


"Jangan suka cari kesempatan dalam kesempitan, sekalinya brengsek memang akan tetap brengsek, apalagi ada celah dikit langsung sosor," gerutu Tere yang mengalami perubahan sikap 180°.


Arya hanya bisa meringis kesakitan dan melajukan kembali mobilnya tanpa mendengarkan ucapan Tere, dirinya terlalu lelah untuk membahas ucapan pedas dan menghina dari Tere.


Tere seakan buta, tak mau melihat semua perjuangan yang ia lakukan untuk merebut hati wanita itu. Sepertinya kata brengsek dan ******** sudah terpatri di otak wanita itu untuknya. Arya hanya bisa berdoa semoga ia masih memiliki kesabaran untuk selalu bersama wanita itu, setidaknya sampai wanita itu melahirkan sesuai perjanjian mereka.

__ADS_1


Tangerang, 30 Oktober 2019


__ADS_2