
Tere berdiri di depan tempat makan kecil, lalu masuk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Karena ia bingung harus mengatakan apa pada penjual makanannya.
Kerutan di kening Tere semakin bertambah, saat penjualnya menyapa atau mungkin bertanya dengannya dengan bahasa China yang sungguh Tere tak mengerti, Tak kuasa menahan lapar di perutnya akhirnya Tere memakai bahasa isyarat.
Tangan Tere bergerak ke mulutnya lalu mengusap perutnya yang membesar, tak lupa mengusap lehernya pertanda haus. Tere menatap bingung penjual tersebut, saat melihat tatapan kasihan dari ibu pemilik tempat makan ini.
Namun saat ibu itu mengangguk dan menyiapkan makanan untuknya, Tere kembali tersenyum lalu memakan dengan lahap makanannya dan meminum air putih tersebut sampai habis tak tersisa.
"Bagaimana caranya aku bertanya pada ibu ini, harga makanan dan minuman ini. Aku pun tak tahu berapa uang yang kupegang saat ini."
Tere benar-benar frustrasi saat ini, akhirnya Tere meletakkan semua yang ia punya pada ibu itu tapi ibu itu mengembalikannya lagi padanya lalu memberi sebungkus makanan dan sebotol air minum, sambil tersenyum.
Sekarang Tere mengerti saat melihat tatapan kasihan dari pengunjung lain.
__ADS_1
Mereka mengira ia adalah wanita hamil bisu!
Tere tetap meletakkan semua uang yang ia punya, lalu pergi dengan menahan amarah dan rasa malunya, Tere tersenyum pada mereka semua lalu pergi sambil mengentak-entakkan kakinya. Dalam hati ia terus mengutuk orang-orang yang salah paham padanya.
"Kenapa semua orang di sini itu buta, apa mereka tak bisa membedakan antara pengemis, wanita bisu, wanita gila, dan orang tersesat! Lama-lama di sini aku bisa gila Tuhan!"
Karena lelah berbicara dan berjalan, akhirnya Tere pun memutuskan untuk makan dan minum di pinggir jalan tanpa peduli tatapan kasihan orang yang berlalu lalang, yang penting perutnya terisi dan tak terus berbunyi. Meskipun makan, Tere masih terus berpikir bagaimana caranya ia bisa menemui Arya. Sedari tadi ia tak melihat kantor polisi di sekitar sini, hal itu membuatnya semakin frustasi saja.
Setelah makan dan minum, Tere pun membuang sampahnya ke tempat sampah terdekat lalu mulai melanjutkan perjalanan tersesatnya ini.
Ingin Tere berlari, namun kakinya seakan di paku di tempat. Tak mampu bergerak sedikit pun hingga mobil itu menabrak dirinya dan tubuhnya terpental.
Sakit.
__ADS_1
Itulah yang dirasakan Tere saat tubuhnya mencium aspal dengan tragis, air mata mengalir di kedua pipinya saat sayup-sayup ia melihat darah mengalir di kedua kakinya. Bibirnya ingin mengeluarkan suara, namun tak sedikit pun suara keluar dari bibirnya.
Rintihan kesakitan dan isak tangis pilu, saat membayangkan hal buruk akan menimpa dirinya dan...
Bayinya.
Tere mengira saat nanti ia mati maka ia akan senang apalagi mati bersama bayi dalam kandungannya, namun semua terasa menyakitkan dan Tere hanya bisa berharap untuk pertama kalinya.
Semoga Tuhan membiarkan ia membuka mata kembali dan menyelamatkan bayinya.
"Arya, mungkin ini balasan atas doa-doa dan perkataanku yang menginginkan kematian menghampiriku. Hari ini Tuhan mengabulkan doaku, namun aku tak ingin pergi secepat ini setidaknya sebelum melahirkan bayi ini, aku tahu kau begitu menanti kehadiran bayi ini hiks, hiks."
Akhirnya kesadarannya pun hilang, kedua matanya terpejam. Entah Tuhan akan berbaik hati membuka kembali kedua matinya atau membiarkan kedua matanya terpejam selamanya bersama bayinya.
__ADS_1
Tangerang, 10 November 2019