
Hening.
Sepanjang perjalanan hanya rasa canggung yang menyelimuti mereka, Raina menerawang ke luar jendela, sedangkan kedua anak beranak itu masih konsisten berpelukan.
"sudah sampai pak". kata pak Budi yang duduk di kursi kemudi, lalu dengan sigap beliau berjalan mengintari mobil untuk membukakan pintu untuk Raina.
"silahkan Bu".
"terima kasih pak Budi". senyum Raina selalu tulus untuk semua orang, tak terkecuali Allan.
"pak Budi boleh istirahat dulu, saya pulangnya agak malam". Allan menurunkan Aleta, lalu Raina membenahi rambut anaknya yang berantakan. Seorang pelayan telah menunggu di depan pintu untuk menjemput mereka, dengan sopan dan membungkukkan badan, pria itu menyapa tamu dari tuannya, dia di tugaskan untuk membimbing jalan agar tamunya tidak salah jalan untuk menemui sang empunya rumah.
Setelah berjalan berbelok-belok di dalam rumah itu cukup lama, mereka melintasi sebuah lorong dengan lantai berbahan dasar kaca, ikan koi berenang-renang indah di bawahnya, Aleta menjerit-jerit takut tenggelam katanya.
"tuan, nyonya, silahkan masuk, Tuan Josh Carter telah menunggu anda". Allan mengangguk, Raina berspekulasi dengan dirinya sendiri, membayangkan seperti apa pemilik rumah yang sangat mewah ini. Jika di lihat dari namanya, pasti dia adalah orang yang masih muda, mungkin seumur Allan, tubuh tinggi gagah dan sedikit berewok di wajahnya, tipe pria keturunan blasteran seperti yang dulu dia lihat di telenovela.
"selamat malam tuan Allan Sebastian, lama tidak berjumpa". Pria itu duduk di sebuah kursi roda di ujung ruangan, seorang wanita cantik berdiri di belakangnya, dengan setia mendorong kursi roda yang didudukinya.
"selamat malam tuan Carter, apa kabar?" Allan menghampiri pria itu tanpa menunggu.
"saya lebih baik setelah menikah lagi".Kata Josh Carter sembari melirik wanita cantik yang ada di belakangnya, lalu terdengar gelak tawa mereka yang terdengar renyah, menggema di ruangan penuh dengan hewan langka yang sudah di awetkan, Aleta memeluk erat leher Raina, karena di belakangnya ada sebuah patung harimau benggala yang seolah siap menerkamnya.
"kenalkan ini istri saya, Raina dan anak saya Aleta". Allan menunjuk Raina dan Aleta bergantian.
"ah, Cantik sekali, jadi ini anak yang membuat kamu di pecat". Josh Carter membuka luka lama itu lagi, tapi Allan malah tertawa, mengiyakan kata-kata lawan bicaranya, sepertinya Allan telah berdamai dengan keadaan.
"ah, ini istri baruku, Valencia,cantik bukan? aku menghabiskan puluhan ribu dollar untuk membuatnya sesuai keinginanku sebelum menikahinya". wanita itu tersenyum, sama sekali tidak tersinggung dengan ucapan suaminya.
"silahkan duduk".
Allan mengambil alih Aleta, sedangkan Raina mengikuti langkah suaminya, mereka duduk bersebelahan, Allan mengusap lembut rambut Aleta, lalu mendudukkan putrinya di samping kiri, karena di kanannya ada Raina.
Josh selalu memandang genit pada Raina, dan Allan menyadari itu, pria itu membuka selimut yang menutupi kakinya, ternyata sebelah kakinya sudah tidak ada, namun dia masih bisa berjalan dengan tongkat tiga kaki yang ada di tangannya.
__ADS_1
Pria itu berpindah ke sofa yang berhadapan dengan Allan, sedangkan istrinya terus bergelayut manja di lengannya, tak segan-segan menunjukkan kemesraan dengan berciuman di depan tamunya.
"maaf tuan, ada anak saya". Allan memprotes perilaku Josh dan istrinya. Mereka tersipu malu, seperti anak remaja yang sedang di mabuk asmara.
"maaf tuan, kami baru menikah satu bulan lalu, jadi gelora cinta kami masih membara". kata Valencia sembari mengusap bibirnya.
"Baiklah, mari kita makan malam terlebih dahulu, sebelum membahas pekerjaan, karena selera makanku sering hilang setelah membahas pekerjaan" Josh bangkit dari tempat duduk yang belum semenit di dudukinya.
-
Setelah selesai makan, Josh mengajak Allan pergi ke ruang kerja, sedangkan Raina dan Aleta berkeliling di temani dengan Valencia. Raina dan Valencia sudah mulai akrab, mereka membicarakan banyak hal, termasuk hal-hal pribadi pasangan suami istri.
"kamu sudah lama menikah dengan suamimu?" tanya Valencia setelah mereka sampai di pinggir kolam renang.
"baru sekitar 2 bulan". Raina sedikit canggung, malas jika nanti wanita itu membahas masalah ranjang yang belum di pahaminya.
"ah, pasti sedang panas-panasnya, bagaimana cara bermainnya?" Raina membelalakkan mata, wanita itu benar-benar membicarakan hal yang menjurus pada aktivitas ranjang yang dia sendiri belum pernah menjalaninya.
"ya begitulah". jawab Raina asal asalan, tidak mungkin dia jujur bahwa suaminya belum menyentuhnya sama sekali.
"a.. tidak begitu, aku baik-baik saja, hanya tidak nyaman jika harus membicarakannya, ada anakku, aku takut dia mendengarkannya". Raina mendekap Aleta yang telah terlelap di pangkuannya.
"bukanya dia sudah tidur? dia cantik sekali, mirip dengan mamanya". Mungkin Valencia belum tau bahwa Raina bukan ibu kandung Aleta.
"iya". jawab Raina singkat, dia sudah mulai tidak nyaman berada dekat dengan Valencia, ingin rasanya segera kabur.
"kamu mau membaringkan anakmu di dalam? kasihan, di sini udaranya dingin".
"boleh". Raina segera berdiri, Valencia membimbing langkahnya ke sebuah ruangan dengan sofa besar dan TV LED 43' yang sedang menayangkan adegan film dewasa.
"bisa tolong di matikan? saya kurang nyaman". kata Raina sambil menunjuk tv yang ada di depannya.
"ahh, maaf, aku dan suamiku sangat suka menonton itu, lalu mempraktekkan setiap adegannya, meski suamiku hanya memiliki satu kaki tapi dia bisa memuaskan aku berkali-kali dalam semalam". Valencia tertawa lagi, sedangkan Raina ingin muntah mendengarnya.
__ADS_1
Setelahnya, Raina memilih bungkam, dia memberanikan diri mengirim pesan kepada Allan.
Aleta ngantuk, kalau udah selesai kita harus segera pulang.
Allan yang membaca pesan itu segera menyadari adanya ketidakberesan hingga Raina berani mengiriminya pesan, tidak seperti biasanya.
Setelah membaca pesan itu, Allan berpamitan, dan Josh mengantarnya dengan berjalan, dia menelpon Valencia untuk membawa Raina ke depan, karena mereka akan segera pulang.
-
"ada apa rain?" Allan membuka suara sesaat setelah mobil mereka menjauhi rumah megah itu.
"aku tidak nyaman dengan Valencia, dia terus membahas hal pribadi". jawab Raina jujur.
"hal pribadi? masa lalumu?" tanya Allan sambil mengerutkan dahi.
"bukan, tapi masalah i..itu".
"masalah apa?"tanya Allan penasaran.
"ah sudahlah, aku malas membahasnya". Raina mengalihkan perhatian kepada penjual martabak dengan aneka rasa dalam setiap kotaknya yang ada di pinggir jalan.
"kamu mau?" tanya Allan, Raina mengangguk.
"pak, berhenti sebentar, tolong belikan itu". Allan menunjuk gerobak martabak yang ada di deretan street food.
"baik pak". pak Budi segera keluar dari mobil setelah menerima dua lembar uang seratus ribuan.
"apa istrinya Carter mengganggumu?" Allan mengungkit kembali masalah tadi.
"dia terus membahas masalah ranjang, aku risih". kata Raina putus asa.
"maafkan aku rain".
__ADS_1
"kenapa? kamu nggak salah". kata Raina pada Allan yang mulai menunjukkan raut wajah sedih.