Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Extra part


__ADS_3

"katakan dimana kakakmu?" desak Allan.


"tidak tau". keduanya saling merapat dan menyiku satu sama lain.


"sekali lagi mom tanya, kalau kalian tidak mau jawab, kembalikan kunci mobil, semua kartu debit kalian, dan mulai sekarang, jangan panggil aku mom". tegas Cia. Kedua anak tadi masih membisu, hanya saling senggol seolah menegaskan bahwa ada yang mereka sembunyikan.


"kakak, di sana". jawab Alex sambil menunjuk ke atas.


"di mana? di langit?" tanya Raina. Alex menggeleng.


"di atas di mana?" tanya Allan.


"di penthouse atas club". terang Ali.


"kenapa dia di sana, bersama siapa?" Cia memijat pelipisnya. "dimana Felipe?"


"dia, ditugaskan Daddy untuk mengurus sesuatu". jawab Ali.


"dasar rubah tua, apa karyawannya kurang banyak sampai Felipe juga dia recoki". Cia terus mengomel.


"sudahlah, ayo susul Aleta di atas". kata Allan.


Kemudian mereka berlima naik ke penthouse. Mereka paham betul, bahwa penthouse adalah tempat orang-orang yang yang ingin berbulan madu atau sekedar menghabiskan malam bersama kekasih.


Awalnya petugas menolak untuk menyerahkan kunci cadangan, tapi karena Allan meyakinkannya dan memberinya 'sedikit' uang rokok, maka petugas itu dengan senang hati memberi lock key cadangan kepada mereka.


"astaga ..." pekik Cia saat kakinya menginjak baju Aleta tergeletak di lantai.


"nyalakan lampunya". perintah Allan pada Ali yang berdiri di dekap sakelar.


"Aleta, awas saja kau". kata Raina sambil mengepalkan tangannya.


"dia tidak ada, coba cari ke kamar mandi". Kata Cia, Allan dan kedua anak laki-lakinya segera menuruti perintahnya.


ketiganya menggeleng, lalu Raina membuka pintu balkon, ternyata ada sebuah kolam renang di luar balkon, dan Aleta tengah berenang di sana, sendirian, namun ada sebuah celana pendek milik laki-laki tersampir di kursi pinggir kolam.

__ADS_1


"hei, baj*Ngan kecil, kemari kau". kata Valencia.


"mom .. !" pekik Aleta, ketika mommy-nya menarik telinganya dengan kuat.


"sudahlah Cia". kata Raina.


"sudah Rain? anak ini harus di beri pelajaran". Cia menarik Aleta masuk setelah melemparnya dengan kimono.


"duduk". kata Allan. Ketiga anak itu duduk dengan Aleta di tengah, Ali dan Allan tampak ketakutan, sedangkan Aleta masih santai dan biasa saja.


"kau tau kalau perbuatan kalian ini tidak pantas? kau anak tertua kami Aleta, seharusnya kau jadi contoh untuk anak-anak ini, dan kalian, dasar baj*Ngan kecil, sudah mom bilang, jaga kakak kalian, tapi kalian justru membantunya agar bisa sekamar dengan laki-laki". Cia menunjuk ketiganya bergantian.


"sorry". ucap Aleta santai.


"sorry? cuma itu?" cibir Allan.


"kemasi barang-barang kalian, selepas ini mom akan mengirim kalian dan rubah tua itu ke Bangladesh, silahkan kalau mau dugem sama onta". Cia tampak meledak-ledak.


"mom, di Bangladesh tidak ada onta". protes Alex polos.


"aku yang akan membuatnya ada". kata Cia lagi.


"sudahlah Cia". kata Raina.


Seketika Raina ambruk, dia pingsan, dan semuanya panik.


"hei, bangun rain, ini bukan saatnya pingsan". Kata Cia. "lihat apa yang kalian lakukan pada mama kalian, sungguh memalukan, anak perempuan sekamar dengan laki-laki, dimana dia? siapa dia? selama ini kau tidak pernah bercerita kalau punya pacar, kenapa tiba-tiba disini bersama laki-laki?". lanjutnya.


"aku tidak dengan laki-laki mom". bantah Aleta.


"lalu ini apa?" Allan menunjukkan celana pendek yang tadi tersampir di kursi pinggir kolam renang.


"i-itu .. punyaku". Aleta menggigit bibir bawahnya.


Raina telah sadar setelah di berikan essentials oil beraroma peppermint.

__ADS_1


"Aleta, kemarilah, minta maaf pada mamamu?" kata Cia. Aleta mendekat.


"sudahlah Cia, tidak usah berlebihan". kata Raina.


"siapa yang berlebihan? aku hanya menyuruhnya minta maaf, kenapa kau bilang berlebihan?" Cia tampak marah pada Raina.


"Cia, sudahlah, ini hanya prank". kata Allan dengan santainya.


"prank? prank apa?" tanya Cia heran.


Seketika suasana berubah ketika Carter muncul dari pintu balkon dengan membawa buket bunga besar di ikuti Felipe yang membawa sebuah kue ulang tahun yang di hiasi bunga-bunga cantik, lilin angka 4 & 5 bertengger di atasnya.


"happy birthday to Mom.. happy birthday to Mom.. happy birthday happy birthday .. happy birthday to Mom". ketiga anaknya bernyanyi dengan kompak, via menutup mulutnya yang menganga lebar. Air matanya tumpah begitu saja, dia memukuli dada bidang Carter dengan gemas. Hari ini mereka benar-benar membuat Cia jantungan.


"make a wish dulu mom". kata Alex, lalu Valencia menyatukan tangannya di depan dada sambil memejamkan mata.


Setelah acara tiup lilin, mereka makan malam restauran yang telah di sewa oleh Carter.


Suasana begitu hangat, semuanya bahagia terlebih Cia.


Ketiga anaknya tumbuh menjadi sosok yang cantik dan rupawan, Raina duduk di sebelah Ali, menyuapi anak itu dengan potongan besar beef steak yang membuatnya sulit mengunyah. Sedangkan Alex berebut kentang yang ada di Hot plate dengan Aleta.


"tidak usah berebut, daddy pesankan 10 porsi lagi kalau kalian mau". kata Carter.


"mereka selalu begitu". kata Ali.


"apapun yang kami makan, selalu di sabotase oleh kakak". kata Alex.


"aku gemas pada mereka". Aleta membela diri.


"mereka sudah lebih besar darimu". kata Allan.


"biarkan, bagiku, mereka adalah anak kecil yang ingin selalu aku sayangi". Aleta membelai rambut Alex dengan sayang, lalu sedetik kemudian dia mencebik jijik karena Pomade Alex terasa lengket di telapak tangannya.


"iyuwhh.. kau pakai apa? semacam minyak jelantah atau apa? kenapa lengket sekali". Aleta mengelap tangannya dengan tisu.

__ADS_1


"kakak, rambutku jadi tidak bagus lagi". Alex membenarkan free rambutnya.


"sudah-sudah, kita lanjutkan makannya lalu istrahat". kata Carter.


__ADS_2