
"jadi karena wanita ini kamu tidak pernah menyentuhku?" Kata Monica, tangan kirinya menunjuk-nunjuk Raina meski pandangannya tetap mengarah pada Allan, sayangnya ucapan Monica malah menjadi angin surga bagi Raina, kepercayaannya kepada Allan menjadi berlipat ganda.
"aku pernah bilang, aku hanya akan menyentuh wanita yang sudah aku nikahi". Allan menekan nada bicaranya meski volumenya hanya mampu di dengar oleh mereka bertiga.
"sayang, aku bisa berubah, aku pasti bisa jadi istri yang baik untuk kamu, ceraikan dia, lalu kita menikah". Dengan berderai air mata Monica bersimpuh di kaki Allan.
"Monica, sudahlah, terlalu sering aku memberimu kesempatan, namun kamu terus menyia-nyiakannya".
"kali ini, aku berjanji, aku tidak akan mengulanginya lagi, sayang, maafkan aku, aku akan mencoba membuat Aleta dekat denganku". suara Monica semakin parau, tubuhnya gemetar hebat, Allan enggan menatapnya.
"pulanglah, aku sedang tidak ingin berdebat". kata Allan dengan nada rendah, Monica masih meraung-raung seperti orang gila, namun sedetik kemudian dia berdiri.
"aku tidak akan tinggal diam,lihat saja, apa yang akan aku lakukan untuk memisahkan kalian". Monica mengusap air mata dengan lengan bajunya, lalu pergi dengan menghentakkan kaki.
Allan menatap Raina, mengusap lembut rambut istrinya dengan penuh kasih sayang.
"sayang, kamu ngga apa-apa?"
"aku baik mas". senyum cerah terlihat di wajah Raina, membuat Allan keheranan.
"kenapa kamu sebahagia ini setelah kedatangan Monica?"
"tadi Monica bilang bahwa kamu tidak pernah menyentuhnya". rona merah wajah Raina membuat Allan gemas.
"sekarang kamu percaya dengan kata-kata ku?" Raina mengangguk.
"ayo masuk". kata Allan sembari membalikkan badan.
"Gendong". ucap Raina manja.
Allan segera jongkok di depannya, memasang badan untuk menopang tubuh kurus istrinya. Dengan manja Raina naik ke punggung Allan, tangannya melingkar di leher Allan, menciumi parfum Allan yang memabukkan.
"terima kasih mas". kata Raina dengan tawa kecil. Kakinya di goyang-goyangkan seirama dengan langkah Allan.
"mama, papa?" suara kecil Aleta membuat Raina segera meloncat turun dari punggung Allan.
"ya sayang?" Jawab Raina gugup.
"mama sama papa lagi apa?" tanya Aleta yang baru saja mendapati orang tuanya bersikap konyol.
__ADS_1
"mama lagi manja, pengen di gendong kaya Aleta". Allan melirik Raina, yang dilirik hanya tersenyum menahan malu karena tingkah konyolnya di lihat oleh Bu Lidya.
"ahahaha..sekarang giliran Aleta". tangannya mengayun ke udara, meminta di gendong oleh sang papa.
"kalian ini ada-ada saja". Bu Lidya menggeleng kecil dengan senyum terbit di bibirnya.
"kok cepet ke mall-nya ma?"
"mama ngga selera belanja rain, besok saja kapan-kapan sama kamu ya".
"iya ma, besok Raina temani".
_
Raina mondar-mandir di depan pintu kamarnya, sudah hampir tengah malam namun Allan belum kembali, setelah menerima telepon siang tadi pria itu pergi dengan tergesa-gesa, bahkan kancing kemejanya belum terpasang sempurna saat dia melangkah keluar pintu.
'mas, kamu dimana? kenapa ngga pulang²?'
Satu pesan terbang menuju Gawai milik Allan, namun setelah bermenit-menit belum juga di buka olehnya.
Raina semakin resah, detik berubah menjadi menit, menit berubah menjadi jam, Raina tidak juga mendapat kabar dari Allan, kuku jarinya habis dia kikis untuk mengurangi kegelisahan.
Pintu kamar terbuka, Allan pulang tepat pukul 2 dinihari, dia menutup pintu dengan sangat pelan, mengira istrinya sudah tidur karena hanya lampu tidur yang menyala.
Tatapan matanya tertuju pada ranjang besar milik mereka, kosong, Raina tidak ada di tempat, Allan merasa kehilangan, beberapa detik berlalu, dan dia masih terpaku. Tanpa menunggu lama dia berbalik untuk membuka pintu.
"mau kemana lagi?" suara Raina mengagetkan Allan, segera dia mencari sumber suara.
"sayang, ngapain kamu di situ?" Ternyata Raina duduk di sofa yang tidak terkena sinar lampu, segera Allan mendekatinya, lalu bersimpuh di depan Raina.
"aku tanya kamu dari mana?" Allan meletakkan kepalanya di pangkuan Raina, melepas penat setelah melalui hari yang berat.
"ada sedikit masalah di perusahaan".
"masalah apa?" tanya Raina terkejut.
"Pembukaan lahan di Blitar berujung ricuh, 12 alat berat yang di sewa dari perusahaan kita di hancurkan oleh penduduk setempat". Ucap Allan dengan bibir bergetar.
"kenapa kamu ngga bilang sama aku?" Raina membelai pipi Allan, mengajak suaminya bangkit.
__ADS_1
"aku ngga apa-apa rain, semuanya tercover asuransi". Allan mengacak rambutnya karena frustasi.
"syukurlah, aku khawatir banget sama kamu mas". Raina memeluk Allan dari belakang setelah keduanya berdiri.
"rain, jangan khawatirkan aku, aku baik-baik saja".
"bagaimana aku tidak khawatir, suamiku pergi gitu aja tanpa penjelasan apa-apa, lalu pulang sampai dini hari".
"maafkan aku sayang". Allan membalikkan badan, lalu memeluk Raina.
"lain kali, kalau pergi, seenggaknya kasih aku kabar". Raina mengecup singkat bibir suaminya dengan berjinjit.
"iya sayang, aku janji, ini yang pertama dan terakhir". kecupan hangat dilabuhkan Allan di dahi Raina.
Raina sibuk mengambil nasi dan lauk pauk untuk Allan, satu piring nasi dan satu gelas teh hangat tertata rapi di atas baki, perlahan langkahnya menapaki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.
"mau di suapi?" Allan mengangguk.
"kamu udah makan?" tanya Allan balik.
"sudah mas, tadi sore". Dengan telaten Raina menyendok nasi dan rendang, beserta kentang balado untuk di suapkan kepada Allan yang sudah membuka mulut.
Raina menyalakan televisi, meski matanya tetap terpaut dengan Allan namun telinganya mampu mendengar dengan jelas isi berita.
Selamat malam pemirsa, sekilas info dinihari dari TVN bersama saya Sella Paramitha, Kejadian mengejutkan terjadi di wilayah timur Indonesia tepatnya di kepulauan X distric Y, puluhan anggota kelompok bersenjata menyerang pos TNI yang bertugas di distric tersebut, 15 orang TNI menjadi korban, tembakan membabi buta di arahkan langsung ke barak militer yang berisi 30 orang. 9 di antaranya gugur di tempat kejadian sedangkan 6 lainnya mengalami luka tembak yang cukup serius, belum di ketahui jenis senjata yang di gunakan pelaku, puluhan anggota TNI telah di kerahkan untuk melakukan penyisiran guna mencari tempat persembunyian pelaku, hingga Ki...
Allan mengganti saluran TV, Raina mengernyit sebentar.
"kenapa di ganti mas?"
"aku bosan denger berita kaya gitu rain, dulu waktu jadi TNI hidupku sudah di penuhi drama tembak menembak".
"ah, iya. apa kamu menyesal di keluarkan dari TNI?" tanya Raina penasaran, setelah melihat air muka Allan yang berubah keruh.
"ngga juga, karena kalau aku masih jadi TNI aku ngga akan punya istri sebaik dan secantik kamu". Allan mencubit ujung hidung Raina dengan mesra, Raina salah tingkah.
"apa kamu bahagia?"
"aku sangat bahagia, tidak ada alasan untuk tidak bahagia, aku memiliki anak yang cantik, istri yang luar biasa baik, kehidupan yang berkecukupan, apa lagi yang bisa membuat aku tidak bahagia?"
__ADS_1