
Allan masih memeluk Raina dengan erat, Carter di antar dorong pak Moko ke arah pintu depan, Valencia berdiri mematung tepat di depan pintu, hingga beberapa saat dia belum juga menyadari bahwa lelaki yang kini ada di depannya adalah Carter, laki-laki yang selama ini ditangisinya.
"sayang". ucap Carter sembari merentangkan tangan menyambut Valencia ke dalam pelukannya.
Tidak ada pergerakan, Valencia seolah belum mempercayai bahwa Carter telah kembali. Mungkin baginya, penglihatannya kali ini adalah halusinasi karena dia terlalu mengharapkan agar Carter kembali.
"apa kamu tidak merindukan aku?"
Hening.
Valencia masih terus mengamati wajah Carter dengan seksama, memastikan bahwa pria itu benar-benar suaminya.
Plakkk
Satu tamparan mendarat di pipi Carter, pria itu meringis kesakitan.
"benar, lampiaskan kemarahanmu padaku, aku pantas menerimanya". Carter mengusap pipinya sendiri, Valencia menatap telapak tangannya yang memerah.
"ka-kamu? kamu pulang?" Valencia bersimpuh di depan kursi roda Carter, lalu menangis sejadi-jadinya, ibu-ibu pengajian yang semula berada di dalam rumah perlahan berhamburan keluar. Berbisik-bisik satu sama lain.
"iya, aku pulang sayang, bagaimana keadaanmu? apa James baik-baik saja?"
"James?" Valencia mengerutkan keningnya, mendengar nama asing itu di sebut oleh Carter.
"James, anak kita". kata Carter menjawab rasa penasaran Valencia.
"anakku, bukan anakmu". Valencia berdiri, lalu pergi meninggalkan Carter, pria itu segera bangkit dan mengejarnya dengan langkah pincang karena kakinya masih ada mengalami cedera.
Brukkk
Carter terjatuh di dekat Allan dan Raina, Allan segera membantunya berdiri, sedangkan Valencia yang tadinya ingin meninggalkan Carter kini berbalik dan memeluknya.
"apa yang harus aku katakan sama anak kita kalau kamu ngga pulang.. huuu...huuuu..huuuu". tangis Valencia pecah, Carter membelai rambutnya dengan penuh penyesalan.
Allan kembali memeluk Raina, kerinduannya tak pernah usai, selama ini dia telah menahan rindu yang dirasa semakin mematikan.
"mama, om itu siapa?" tanya Aleta yang melihat Raina di peluk oleh orang asing.
"sayang, ini papa". Allan berjongkok,hendak memeluk Aleta, tapi gadis kecil itu mundur beberapa langkah.
"sayang, ini papa, papa cuma belum potong rambut". kata Raina meyakinkan Aleta.
__ADS_1
Gadis kecil itu diam, Allan mendekat lagi, perlahan merengkuh Aleta dalam pelukannya, kali ini tidak ada penolakan. Aleta menangis, terisak-isak.
"a.. Aleta.. kangen papa". dengan mata terpejam, Aleta menangis sesegukan, Allan merasa sangat bersalah, air matanya ikut berlinang.
"maafkan papa sayang". Aleta mengangguk.
-
Setelah drama keluarga yang mengharu biru, kini semuanya berkumpul di ruang makan bersiap untuk makan malam.
"papa, nanti pagi, papa potong rambut ya, Aleta ngga suka papa kaya gitu". kata Aleta.
"besok pagi sayang, bukan nanti pagi". Raina meralat ucapan anaknya sembari menuang air putih di botol minum Aleta.
"ah.. iya besok pagi". senyum cerah terbit di bibir Aleta, Carter dan Valencia memutuskan untuk pulang beberapa saat setelah mereka kembali.
"Al, nanti setalah makan malam papa mau bicara sama kamu, di ruang kerja". ucap pak William, sedari tadi hanya pak William yang terlihat biasa saja dengan pulangnya Allan.
"iya pa".
"besok pagi saja, Allan pasti lelah". ucap Bu Lidya membela anak laki-lakinya.
-
"apa yang kamu lakukan? belum puas membuat masalah selama ini? memalukan". gertak pak William.
"Allan minta maaf, Allan sudah menyelesaikannya.
"selesai? kamu pikir semua ini selesai dengan kamu pulang? nggak Al, ngga akan selesai begitu saja, beban mental Aleta dan Raina akan mereka bawa sampai mati".
"pa, maafin Allan".
"papa mendidik kamu dengan baik, membesarkan kamu di lingkungan yang baik, memberimu semua yang terbaik, tapi apa? apa balasan kamu? mempermalukan papa, mama, mengecewakan kami berulangkali". Allan bersimpuh, meminta pengampunan dari pak William.
"maaf". hanya itu yang mampu keluar dari mulutnya.
"papa nyesel menikahkan Raina dengan baj*Ngan seperti kamu, seandainya dia belum hamil, papa akan meminta dia mengajukan gugatan cerai".kepalan tangan pak William semakin erat, membuat buku jarinya yang telah keriput memutih.
"hamil?" Allan mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk.
"papa merasa berdosa setiap melihat tubuh ringkihnya harus menanggung beban yang begitu berat, papa pikir membawanya kemari akan membuatnya sedikit lebih baik, tapi yang terjadi sebaliknya". bulir bening mengalir menuruni pipi pak William.
__ADS_1
"pa.. papa bilang apa? Raina hamil?" Allan berdiri, memegang bahu pak William dengan penasaran.
"iya, dia hamil, dia harus menanggung itu sendirian selama ini". pak William menghela nafas, mengurangi sedikit sesak di dadanya.
"kenapa papa ngga bilang? Allan ngga tau kalau Raina hamil". Allan berlalu begitu saja, pak William masih mematung di ruang kerja.
Langkah kakinya begitu ringan, dia melompati dua anak tangga sekaligus untuk segera sampai di kamarnya, berita kehamilan Raina adalah tamparan keras untuknya meski tak bisa di pungkiri bahwa hatinya sangat bahagia.
"rain". Ucap Allan sembari membuka pintu kamar, tapi tidak ada siapapun, Allan membuka kamar mandi, dan ternyata kosong.
Dengan penuh keyakinan , Allan beralih ke kamar Aleta, disana hanya ada Bu Lidya yang sedang tidur sambil memeluk cucunya.
Hatinya terasa sakit ketika tidak menemukan Raina, dia merasa di tinggalkan, dia takut Raina pergi karena kecewa.
Karena tidak ingin berlama-lama, Allan segera turun kembali, mencari Raina di dapur, sepi, tidak ada seorangpun di sana. Allan berlari keluar, mendatangi tempat yang biasa Raina kunjungi.
Langkah Allan terhenti, seorang wanita sedang duduk di pinggir kolam renang, dia berbicara sendiri sembari membelai perutnya dengan sayang
"Rain?" ucap Allan lembut.
"mas, sudah ngobrolnya sama bapak?"
"iya rain". Allan mendekat, lalu memeluk Raina. "kenapa kamu ngga bilang kalau kamu hamil?"
"belum ada kesempatan dari tadi mas".
"berapa usianya?"
"16 minggu, tadi siang acara 4 bulanan aku dan Cia". Allan berjongkok, mencium perut istrinya, meminta maaf pada calon anaknya.
"maafin papa ya sayang, papa ngga tau kalau kamu ada disini".
"sudahlah mas, jangan minta maaf terus, dia tidak membenci kamu, aku tidak pernah membenci kamu". kata Raina, dia mengajak Allan duduk di kursi santai dekat kolam.
"kenapa kamu ngga bilang kalau kamu hamil sebelum aku pergi rain?"
"aku baru tau sekitar seminggu lalu mas, aku terlalu sibuk memikirkan kamu, sampai aku ngga sadar kalau dia ada disini".
"maafkan aku rain, aku adalah ayah yang buruk untuk anak-anak, aku tidak akan iri jika nanti mereka lebih menyayangi mamanya daripada papanya". Allan mencium punggung tangan Raina.
"tentu saja, mereka akan lebih sayang aku, lebih mirip aku, kamu kan cuma nitip". Raina berusaha mencairkan suasana, Allan memeluknya penuh kasih.
__ADS_1