
tok
tok
tok
"rain.. rain.. cepetan dong". Cia mengetuk pintu dengan heboh.
"yaa.. bentar Ci". suara Raina terdengar hingga ke luar kamar.
"cepetan rain, ada hot news". kata Cia sambil berteriak-teriak manja.
"apa sih?" Raina melongok dari dalam kamar, dengan tubuhnya yang di balut kimono dan rambutnya yang di lilit handuk.
"Monica ketemu, sekarang di bawa ke villa Carter ".
"seriusan?" tanya Raina dengan mata membulat dan kedua tangannya menangkup wajah Cia.
"sumpah..!!!" Dua jari Valencia menunjukkan bahwa dia yakin dengan ucapannya.
"aku ganti baju dulu".
"oksss... aku tunggu di bawah". Cia segera berlari kecil meninggalkan Raina.
"jangan lari-lari ". Hardik Raina.
-
Byurrrrrr
Valencia menyiramkan segelas air ke wajah Monica yang tertidur dalam keadaan duduk dengan tangan di ikat dan mulut di lakban.
__ADS_1
"bangun Lo, enak aja tidur". bentak Cia, Monica mengerjap beberapa kali, mengembalikan sisa nyawa yang belum terkumpul.
Monica menatap Raina dan Valencia bergantian dengan penuh kebencian, tangan dan kakinya bergerak panik, menendang-nendang tidak karuan.
Srett.. Cia membuka lakban yang menutup mulut Monica, terlihat bercak darah di bibirnya, mungkin karena lakban yang di tarik secara paksa.
"awww.. ". pekik Monica.
"sakit? iya? sakit? itu yang di rasain Aleta waktu Marni menganiaya dia". cibir Valencia.
"heh dasar pelac*r murahan, kasian banget Lo ya, lagi hamil, suami ilang ntah kemana, sekarang sibuk ngikutin si anak pungut". balas Monica.
"Lo ngga usah banyak ngomong, abis ini gue anter Lo ke kantor polisi, puas puasin dulu Lo bernafas disini".
"ha ha ha.. kantor polisi? Lo mau gue jadi saksi atas perbuatan busuk suami kalian, kalo gue masuk penjara, kalian bakal jadi janda, Allan di hukum mati, Carter di deportasi, mau?"
Melihat reaksi Raina dan Valencia yang terkejut, Monica bisa mengambil kesimpulan bahwa mereka tidak tau apa yang selama ini di lakukan oleh dua laki-laki itu.
"ehm.. mau aku ceritain sedikit nggak? biar nanti kalian ngga kaget". lanjutnya
"apa sih, ngomong ngga jelas banget". Raina melempar pandangannya, berjalan menuju ke sebuah kulkas dan mengambil isinya.
"oohh...si anak haram mau punya adik?" Monica mengamati tubuh Raina yang sedikit berubah, meski masih terlihat ramping ,tapi perutnya yang menggembung menunjukkan adanya kehidupan baru.
"anak haram?" tanya Cia.
"iya, anak haram, anaknya Allan sama si jalang itu". Monica tersenyum sinis, lirikan matanya tertuju pada perut Raina yang kini ia peluk sendiri dengan protective.
BRAKKKK
"ati-ati kalo ngomong, ngga ada yang namanya anak haram, yang ada itu kelakuan mak-bapaknya yang haram". Nyali Monica belum juga ciut mendengar gertakan dari Valencia.
__ADS_1
"kasian ya kalian, mana masih muda, jadi janda". gelak tawa Monica pecah seketika, namun bulir bening jatuh dari pelupuk matanya.
"Al ..Al .. seharusnya Lo nikah sama gue, gue bisa bantu Lo kelarin masalah ini, kenapa Lo milih cewe kampungan ini". tangisan Monica membuat suana hening, Raina dan Cia bingung dengan apa yang akan terjadi.
"ehh...malah nge-drama, bangun Lo, gue bawa lo ke kantor polisi". Cia menarik tubuh Monica agar berdiri, tapi wanita itu terlihat lemah dan masih saja meraung-raung.
"Lo berdua ingat ya kata-kata gue, sekalinya gue masuk ke kantor polisi, Lo berdua bakal nanggung akibatnya, perdagangan senjata ilegal yang Allan dan Carter lakukan bakalan gue buka tuntas di sana, asal Lo tau, kerusuhan yang ada di pulau X itu ada hubungannya sama Allan, Lo bisa pastiin kan apa yang akan mereka dapatkan kalo gue ngomong dan nunjukin bukti? makanya kalau mau kawin sama orang itu di cari dulu masa lalunya, jangan bego kaya gini !!". Monica menerangkan semuanya dengan jelas.
Deg
Raina dan Cia kembali berpandangan, jadi inilah yang membuat suami mereka tak kunjung pulang hingga tiga bulan lebih.
"kita pulang dulu rain, kita omongin sama pak William". Cia merangkul pundak Raina, merasakan getaran hebat di tubuh temannya itu.
Raina sama sekali tidak menjawab, hanya isakan kecil yang terdengar, tangannya tak henti-hentinya mengusap perut, dalam hati ia meminta maaf pada bayi kecilnya yang kini sedang berusaha tumbuh karena dia harus kehilangan ayahnya sebelum bertemu barang sekali.
Mereka pergi meninggalkan Monica dengan beberapa orang bodyguard di villa Carter, sepanjang perjalanan Raina hanya melamun, sedangkan Cia yang mulai bisa berdamai dengan keadaan sesekali menghibur hati Raina, dia selalu mengutarakan kalimat yang sama, kalimat yang selalu menjadi self-reminder bagi dirinya.
"rain dalam hidup itu ngga ada yang gratis, semuanya pasti ada ombak baliknya". kata Cia sembari mengelus punggung Raina. "yang patah tumbuh, yang hilang berganti, itu yang ada di hidup kita rain, suami kita hilang, tapi kita punya anak sebagai pengganti mereka".
"kenapa gitu, kenapa kita ngga bisa punya keluarga utuh? aku kasihan sama anak-anak Cia, mereka bertiga harus tumbuh tanpa papa". jawab Raina.
"Tuhan punya rencana rain, serahkan semuanya pada Tuhan".
-
Sesampainya di rumah, Cia mengutarakan apa yang terjadi pada Pak William, beberapa kali pak William menghela nafas panjang, menghembuskan dengan kasar lalu mengulangnya sampai berkali-kali.
Sebenarnya pak William sudah curiga pada Allan yang sering pulang pergi ke luar pulau dengan dalih urusan bisnis, padahal bisnis yang di geluti Allan adalah bisnis keluarga Sebastian yang sudah pasti seluk beluknya di ketahui oleh pak William.
Pak William juga sudah berusaha mencari Allan di kepolisian, tapi tidak ada satupun catatan kriminal yang di lakukan anaknya, Allan seperti hilang di telan bumi, bahkan pak William yang memiliki nama besar pun tidak mampu membuat orang-orangnya menemukan Allan.
__ADS_1
Hanya doa yang mampu mereka panjatkan kepada Tuhan yang maha kuasa, semoga memberi Allan dan Carter kesempatan kedua untuk merubah hidupnya.