
"apa dia baik-baik saja?" tanya Allan sambil memegang perut Raina.
"dia baik, jenis kelaminnya laki-laki, sama dengan anak Cia". jawab Raina dengan sumringah.
"mereka udah jadi teman bahkan sejak dalam kandungan". gumam Allan.
"apa yang terjadi sama kamu dan Carter, kenapa kalian pulang seperti ini?"
"ceritanya panjang Rain, aku akan menceritakannya sedikit demi sedikit". Allan membuka cerita dari awal sejak dia bertemu dengan beberapa orang di rumahnya. Ternyata mereka adalah anggota polisi yang membantu Allan menyelesaikan masalahnya, mereka datang untuk membuat rencana dengan mengumpulkan data, tentang senjata jenis apa yang mereka beli dari Allan dan carter, berapa jumlahnya, betapa peluru yang mereka punya, dan sebagainya.
"lalu, kenapa kamu ngga pulang kalau masalahnya bisa di atasi?"
"Carter di sekap, aku dan anggota polisi harus mencarinya rain".
"kata Monica, kamu akan di hukum seumur hidup atau di hukum mati, dan Carter akan di deportasi, tapi kenapa kalian pulang?" Raina bertanya tapi tidak ingin mendengar jawaban Allan.
"kau berharap aku tidak pulang rain?" Allan sedikit kecewa karena jawaban Raina.
"aku hanya takut suatu hari nanti kamu di bawa pergi oleh mereka mas, aku takut harus menjalani hari-hari seperti kemarin lagi, aku ngga sanggup mas". lirih Raina.
"ngga akan ada hari-hari seperti kemarin lagi rain, aku dan Carter bebas bersyarat, papa menjamin kami, Carter di jamin oleh oleh kedutaan Rusia, semua terjadi karena kami membantu menangkap semua pemberontak sampai ke akar-akarnya".
"syukurlah kalau begitu mas". Raina memeluk Allan, matanya mulai terasa berat.
#Flashback on.
"aku ingin bertemu pak Moru Al, secepatnya". kata Carter setelah pulih.
"aku akan mencoba menghubunginya lewat bawahannya". jawab Allan.
Setelah beberapa saat Allan kembali dengan bapak Moru dan Okky, keempat pria itu duduk dengan posisi tegak nan serius.
"kepala distrik yang menjadi dalangnya". kata Carter membuka suara.
__ADS_1
"kenapa kamu begitu yakin?" tanya Okky.
"saat aku di sekap, 4 hari terakhir sebelum Allan dan Okky menemukan aku, mereka sudah tidak mengunjungiku, bahkan tidak memberi makan untuk aku, Edison dan seorang laki-laki yang tidak kami kenal, di dalam ruangan gelap itu mereka selalu memberi makan kami sekali sehari, tapi empat hari terakhir mereka tidak datang. Edison melepas penutup mulutnya, lalu mengungkap fakta kepadaku, kepala distrik hanya pura-pura lumpuh, aslinya dia bisa berjalan dan sehat". Carter menghela nafas beratnya, semua orang menunggu lanjutannya dengan seksama.
"dia ingin menggulingkan bupati, dia ingin menjadi bupati selanjutnya, bukti semuanya ada di dalam perut Edison, dia menelan Microchip yang berisi bukti, karena dia lelah menjadi mata-mata, bahkan istri dan anaknya sudah di bunuh karena dia sempat melawan".
"apa? kenapa dia tidak bilang padaku". sergah Bapak Moru.
"Beberapa jam setelah Allan di bebaskan di klinik, Edison dan aku di bawa ke tempat dimana Allan menemukanku, kami di sekap di sana, kepala distrik datang dan meminta Edison menyerahkan microchip yang berisi semua data termasuk transaksi pembelian senjata dari aku dan Allan, tapi Edison bilang bahwa benda itu telah hilang, akhirnya Edison ikut di sekap denganku".
"sudah berapa lama meninggal?" tanya Okky meski seharusnya dia sudah tau jawabannya.
"hari ketiga mereka tidak datang aku sudah tidak mendengar suaranya, karena gelap aku tidak bisa melihat apapun di sana, hanya bau busuk yang menyengat yang meyakinkanku bahwa si pria yang tidak ku kenal telah meninggal beberapa hari, karena dia sudah berada di sana saat aku datang".
Berjam-jam Carter menyampaikan informasi yang dia dapatkan, segera setelahnya petugas yang melakukan otopsi melakukan tugasnya sekaligus mencari keberadaan microchip yang ada di tubuh Edison.
Allan dan Carter belum bisa bernafas lega, Allan masih harus mengikuti operasi penangkapan kepala distrik dan menggali sampai ke akar-akarnya, mencari semua orang yang terlibat hingga tak bersisa untuk mengindari serangan balas dendam.
Kepala distrik di tangkap, dialah dalangnya dan telah di pastikan tidak ada orang lain lagi. Allan dan Carter di ijinkan pulang.
-
"papa ganteng". Aleta mengacungkan kedua jempolnya setelah Allan potong rambut dan mencukur berewoknya.
"oh iya? papa ganteng kaya siapa?"
"kaya artis Korea, kesukaan Onty Ci, kapten Ri namanya". selama ini Aleta selalu ikut Valencia menonton drama Korea, dan dia sangat mengagumi sosok kapten yang kini dibicarakan nya.
"siapa?" Allan memandang Raina sembari menaikkan alisnya, mencoba mencari jawaban atas apa yang di katakan putrinya.
"artis Korea mas, namanya Hyun Bin, main di drama jadi Kapten Ri" terang Raina, Allan hanya mengangguk tidak paham.
"iya papa, kapten Ri itu keren, tentara yang baik, suka nembak orang jahat". Allan tersenyum kecut, menyadari bahwa dia dan sang kapten sungguh bertolak belakang, karena dia justru membuat kerusuhan dan mendukung penjahat, kebalikan dari idola anaknya.
__ADS_1
"ehm, apa kapten Ri punya anak yang cantik seperti Aleta?" tanya Allan mengalihkan rasa bersalahnya.
"ngga punya, kapten Ri belum menikah, tapi mau menikah sama Tante cantik, tapi Aleta lupa namanya, siapa ma namanya?" Aleta meminta bantuan Raina untuk mengingat nama lawan main Kapten Ri di drama crash landing on you itu.
"mama ngga tau sayang, kan yang nonton Aleta sama onty Ci".Raina tidak bisa membantu, karena memang dia sama sekali tidak paham dengan drama Korea.
"pokoknya itu, Tante cantik". pungkas Aleta.
Akhirnya mereka berjalan-jalan di mall, Raina membeli beberapa barang yang dia butuhkan ,Aleta tertidur di pundak Allan, setelah lelah Raina mengajak Allan pulang, namun sebelum keluar dia berpapasan dengan Hima, wanita yang dulu pernah dia cemburui.
"hai.. apa kabar?" sapa Hima kepada Allan.
"aku baik, bagaimana keadaanmu?" tanya Allan, mereka masih terlihat akrab.
"aku batal menikah, dan kehilangan calon anakku karena terlalu stress dan calon suamiku memilih pergi setelah tau pekerjaanku". ucapnya sedih.
"kita ngobrol di sana, biar istriku juga tau tentang hubungan kita yang sebenernya". kata Allan dengan menunjuk sebuah meja di cafe dalam mall.
"ok".
Mereka bertiga duduk tegang, Aleta masih tersampir di pundak Allan.
"Raina, jadi begini, aku dan Allan tergabung dalam penjualan senjata api, aku yang bertugas mengurus dokumen karena barangnya dikirim dari luar negeri". jelas Hima.
"itulah kenapa dulu aku tidak bisa menjelaskan apa-apa dengan kamu, karena perkejaan kami tidak bisa di umbar diluar lingkaran kami sendiri". lanjutnya.
"aku mengerti sekarang Hima, aku minta maaf karena sempat mencurigai kamu". ucap Raina tulus.
"aku juga minta maaf rain, aku sudah membuat kami salah faham dengan sikapku waktu itu". Hima memegang tangan Raina dengan penuh kehangatan.
"apa rencanamu setelah ini Hima?" tanya Allan.
"aku akan ke Hawai, menetap disana bersama orang tuaku Al".
__ADS_1
"semoga kamu menemukan kebahagiaanmu di sana". Allan menepuk pundak mantan rekan kerjanya itu.