
"rain, kenapa kamu ninggalin aku?" Allan mendekati Raina.
"maaf, aku juga ngga tau bakal ketemu Hima di sana". Lengan Allan melingkar di pinggang ramping Raina.
"jangan diam aja rain".
"terus aku harus ngomong apa?" Raina sebisa mungkin menahan air matanya, dia tidak ingin terlihat lemah di mata Allan.
"aku ngga nyangka bisa ketemu Hima di sini, aku juga kaget rain".
"emang biasanya ketemu dia di mana? di hotel? tempat karaoke? bar? atau apartemen nya?"
"Rain, aku dan Hima ngga ada hubungan kaya gitu". Bisik Allan dengan nada putus asa.
"lalu, apa yang bikin kalian bertengkar hebat?"
"itu.. karena, pekerjaan".
"pekerjaan?" cibir Raina.
"iya, perkejaan". Allan menunduk, tidak berani menatap wajah Raina lagi.
"lalu, apa yang bikin dia nangis-nangis?" Raina terus mencerca Allan dengan pertanyaan yang menyudutkannya.
"percayalah rain, aku dan Hima bukan kaya yang kamu pikir".
"terus kaya apa? coba jelasin?" Kemarahan yang berkolaborasi dengan kekecewaan dan cemburu adalah sebuah komposisi yang mematikan bagi wanita yang baru saja merasa jatuh cinta seperti Raina. Dia enggan menatap wajah suaminya, memilih keluar dari kamar Aleta, Allan mengikuti di belakangnya.
"rain, maafin aku, aku ngga bisa jelasin itu sekarang, karena ini masalah perkejaan, aku janji nanti bakalan aku jelasin semuanya kalau masalahnya udah selesai".
"kalau gitu, mas Allan ngomong sama akunya nanti juga kalau masalahnya udah selesai".Raina melepas dress-nya, kini hanya mengenakan sebuah tank top dan celana dalam.
"kamu menggodaku rain?" Allan menatap lekuk tubuh Raina dengan heran, tidak biasanya istrinya membuka baju di depannya.
__ADS_1
"aku mau mandi". Raina melenggang meninggalkan Allan, lelaki itu di buat bingung oleh sikap istrinya.
-
Raina menyalakan shower untuk mengguyur kepalanya yang terasa hampir meledak, Allan seolah menutupi sesuatu, pasti ada sesuatu antara dia dan Hima.
"Apa aku memang ditakdirkan untuk selalu menangis? apa aku tidak memiliki bagian kebahagiaan dalam hidupku, bapak, ibu, awan, mereka meninggalkan aku begitu saja, membiarkan aku sendiri menghadapi dunia. Pernikahanku pun tidak berjalan mulus, terlalu banyak masalah yang datang silih berganti. Bapak aku kangen, aku pengen cerita sama bapak sekarang aku ngga punya siapa-siapa, bahkan cerita sama Bu Lidya juga ngga mungkin" Raina bicara pada dirinya sendiri, tangisnya pecah, Allan menjadi panik ketika menyadari bahwa istrinya sudah hampir 1 jam di kamar mandi, dan yang terdengar hanya suara shower.
"Raina, kamu ngga apa-apa rain?" suara Allan membuyarkan lamunannya.
hening.
"rain, maafin aku, kamu keluar ya, jangan siksa aku kaya gini". Raina semakin terisak, bisa-bisanya Allan berkata bahwa Raina menyiksanya, padahal faktanya yang terjadi adalah sebaliknya.
Tidak ada tanda-tanda Raina akan keluar dari kamar mandi.
Allan mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu, takut sesuatu yang buruk terjadi pada Raina.
Namun sebelum dia bergerak Raina telah terlebih dahulu keluar dengan kimono dan rambut di lilit handuk.
"mas, lepas". Raina menaikkan nada bicaranya, membuat Allan yang memeluknya dari belakang melepas pelukannya.
"mas, apa ngga bisa sehari aja kasih aku waktu buat aku bernafas, dulu, setiap hari aku harus nahan cemburu sama Monica, terus sekarang apa lagi? apa ini yang bikin kamu putus sama Monica? karena Hima? bukan karena aku? sekarang aku tau mas, aku memang ngga sebanding sama Monica tapi beda sama wanita tadi, dia begitu sempurna". Raina terisak-isak, tangisnya pecah ketika berhadapan dengan Allan.
"rain, aku bisa jelasin, tapi ngga sekarang, tapi satu hal yang harus kamu tau, aku ngga ada apa-apa sama Hima, kami murni rekan kerja". Allan menarik nafas dalam-dalam mencoba mengendalikan diri agar tidak ikut menangis.
Hening.
Raina masih terisak, Allan hanya bisa diam,rasa sakit yang di beberkan Raina menjalari tubuhnya, seolah rasa itu berpindah kepada Allan, dadanya sesak, lidahnya kelu, perlahan bulir bening turun menyusuri wajahnya, Allan menangis.
"Rain, aku memang bukan orang baik, tapi aku harap kamu ngasih aku kesempatan buat memperbaiki diri rain, kehadiran kamu merubah segalanya, aku ngga ngerti lagi apa jadinya aku tanpa kamu, ayo kita ketemu sama Hima sekarang juga". Allan memegang tangan Raina, mencoba meyakinkan istrinya
"buat apa? toh kamu juga ngga bisa jelasin apa-apa ke aku mas, terus ngapain aku ketemu dia?" Raina mulai bisa mengendalikan diri.
__ADS_1
"aku ngga tau lagi mesti gimana, mungkin cuma itu yang bisa bikin kamu percaya sama aku, aku sama Hima cuma terlibat pekerjaan tertentu, kamu boleh tanya sendiri sama dia".
"oke, kita ketemu sama dia sekarang, aku ngga mau masalah ini berlarut-larut, tapi kalau sampai Hima ngga bisa ngasih penjelasan apa-apa, jangan harap aku mau ngomong sama kamu lagi". Raina membuka pintu lemari, mencari baju untuk di gunakannya menemui Hima.
"oke".
-
Raina memainkan jarinya, melihat sosok wanita yang tadi bertengkar dengan suaminya kini terbaring di rumah sakit.
"kamu istrinya Allan?"
"iya".
"kamu pasti kaget, aku sama Allan ngga ada apa-apa, kami cuma kerja, aku juga akan segera menikah". jelas Hima.
"kenapa mas Allan ngga bisa jelasin apa kerjaan kalian?" Raina mendesaknya, wanita itu sedikit bergerak membetulkan duduknya, Allan menunggu di luar.
"aku juga ngga bisa jelasin apa bidangnya, ini menyangkut banyak pihak". Hima menunduk, penyesalan tampak di raut wajahnya.
"oh, oke, aku permisi". Raina melangkah keluar, ketika di pintu dia berpapasan dengan seorang laki-laki.
"babe, kamu ngga apa-apa kan? gimana anak kita?" tanya laki-laki tadi, Raina masing berdiri di depan pintu.
"anak kita kuat, dia ngga apa-apa, cuma mamanya aja yang manja". jawab Hima dengan riang.
Raina membuka pintu, Allan masih duduk di kursi tunggu, pandangannya terarah pada Raina.
"ayo pulang". Allan hanya menuruti perintah Raina, mereka pulang dengan perasaan yang sulit di jelaskan, Raina masih tidak percaya dengan Allan, tapi melihat laki-laki tadi dia juga tidak memungkiri bahwa hatinya memihak suaminya, meski Ego masih menguasai diri.
"rain, apa kamu mendapatkan jawaban dari Hima?" tanya Allan dengan sangat hati-hati.
"aku lagi ngga pengen bahas itu, aku pengen tenang dulu, aku pengen nyari jawaban sendiri, dan mulai malam ini aku tidur di kamar Aleta, sampai kamu bisa jelasin sama aku tentang kerjaan kamu sama Hima, aku ngga pengen ada rahasia antara kita". Raina membuang muka, Allan semakin gusar.
__ADS_1
"rain, apa lagi yang pengen kamu tau dari aku?"
"banyak mas, terlalu banyak bahkan".