Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 47 : Hari ulang tahun Aleta.


__ADS_3

"semua akan baik-baik saja rain, ada atau tidak adanya Allan di sini, kamu tetap anak bapak". Ucap pak William dengan putus asa.


"Raina ngga mikirin diri Raina sendiri lagi pak, tapi anak-anak Raina". Air mata Raina tak berhenti mengalir menganak sungai, Bu Lidya memeluk anaknya yang sedang menangis sesegukan, Cia diam membatu, memikirkan nasibnya yang harus berjuang sendirian.


"dan kamu Cia, kami adalah keluarga kamu, jangan sungkan-sungkan untuk meminta bantuan apapun dari kami, selama kami mampu akan kami bantu". jelas pak William.


"saya, mau pulang aja pak, udah ngga ada harapan mereka buat pulang". Wanita yang selalu terlihat kuat itu tiba-tiba ikut menangis seperti Raina, Bu Lidya segera memeluknya juga.


"jangan pergi, tetap disini, setidaknya sampai anak kamu lahir, mama ngga mau anak kamu kaya Aleta, Valerie harus hamil sendirian di luar sana". kata Bu Lidya.


"tapi, Cia ngga mau ngerepotin lagi".


"ngga ada yang merasa di repotin disini Cia, lagipula sebentar lagi kalian harus mengadakan selamatan empat bulanan, jadi kamu harus tetap disini". Kata pak William.


"apa itu perlu?" tanya Raina.


"ini untuk keselamatan dan kesehatan bayi kalian, nanti kita lakukan bertepatan saat ulang tahun Aleta yang ke 4". Bu Lidya memang wanita yang baik, beliau tulus menyayangi Raina meski kini terancam kehilangan putra semata wayangnya.


-


Sekitar pukul 9 pagi, tamu undangan yang merupakan ibu-ibu pengajian kompleks dan anak yatim dari panti asuhan telah datang dan berkumpul di ruang tamu keluarga Sebastian, Raina dan Valencia masih sibuk membagikan amplop untuk mereka, Aleta berdiri di dekat tumpeng sederhana di depan tamu yang hadir, tidak ada kue, tidak ada balon warna-warni.


Seorang ustadz memimpin doa, Raina duduk berdampingan dengan Valencia, menengadah mengamini setiap doa. Isak tangis mereka seolah bersautan satu sama lain, hanya satu yang mereka harapkan, semoga suami mereka pulang dengan selamat tanpa kurang suatu apapun, bukan untuk mereka, tapi untuk anak-anak mereka.


Acara yang begitu sederhana, hanya ada beberapa totebag berisi perlengkapan sekolah untuk anak-anak yatim dan meja prasmanan yang dipenuhi oleh hidangan untuk tamu undangan, Aleta bersiap memotong tumpeng untuk memperingati hari ulang tahunnya.


"sayang, berdoa dulu yuk". kata Raina, Aleta segera menutup mata dan merapal doa di dalam hati.

__ADS_1


"udah mama". gadis kecil itu segera memotong tumpeng, mengambil ujungnya dan bersiap menyuapkannya untuk Raina.


Sebelum menerima suapan dari Aleta, Raina memejamkan matanya, berharap Allan ada di sini, merayakan ulang tahun anak perempuannya bersama-sama. Aleta memeluk Raina dengan sayang, menyadari mamanya tengah dilanda kesedihan.


"it's okay mama, jangan sedih ya, nanti papa pasti pulang, kalau papa nggak pulang kan masih ada Aleta, Aleta akan sayang sama mama dan adik baby selamanya". tubuh Raina semakin bergetar berusaha meredam isakan tangisnya sendiri.


Bu Lidya segera membimbing Raina untuk berdiri, karena tangisannya semakin menjadi. Keduanya berpelukan di belakang, Valencia menyusul, entah kenapa, dia terlihat lebih sedih daripada Raina, mungkin karena dia merasa sendiri tanpa adanya keluarga yang menyayangi.


Pak William yang melihatnya tampak tak tega, tangannya mengepal erat, mengutuk apa yang di lakukan Allan dan Carter, perbuatan mereka tidak bisa dibilang sepele, selain mencoreng nama baik pak William, mereka juga meninggalkan istri yang sedang hamil tanpa memberi kepastian, satu hal yang akan di lakukan pak William ketika Allan pulang adalah memberinya perhitungan, selama ini beliau terlalu lunak kepada anak semata wayangnya itu, mulai dari menghamili Valerie, mengencani Monica, berusaha membawa Aleta ke panti asuhan hingga masalah ini, Allan benar-benar keterlaluan, sikapnya seolah memperlihatkan bahwa dia tumbuh dengan kurang pendidikan, padahal tak sedikit biaya yang di gelontorkan pak William untuk sekolahnya.


"mama rain, Tante ci, eyang mama, kenapa nangis? ngga seneng ya Aleta ulang tahun?" mata Aleta berkaca-kaca, melihat tiga wanita yang di sayanginya menangis bersama-sama.


"maafin mama sayang". Raina berjongkok lalu memeluk Aleta.


"mama udah janji ngga nangis lagi.. ". Aleta ikut menangis.


"kita keluar, masa tamunya kita biarin". Pak William bersuara, lalu masing-masing mengusap airmatanya dan pergi mengikuti langkah kaki pak William.


Raina menyapa satu persatu tamu yang kini sedang mengambil makanan di meja prasmanan dengan senyum yang dipaksakan, dia dikenal ramah oleh tetangga sekitar, meski rumah mereka berada di perumahan elit dan di huni oleh keluarga-keluarga kaya raya namun sikap kekeluargaan masih terjalin dengan baik, terbukti dari adanya pengajian yang di adakan secara bergilir dari rumah ke rumah.


Karena merasa sesak, Raina keluar ke teras, mengamati bunga-bunga yang di tanam oleh Bu Lidya, menyapa burung unta peliharaan pak William, hingga akhirnya duduk di ayunan taman samping rumah.


Pandangan matanya beralih ke sebuah mobil yang masuk ke halaman setelah di hentikan oleh pak Moko.


Seorang laki-laki dengan rambut gondrong dan berewok yang tumbuh lebat memenuhi sebagian wajahnya turun dari mobil, Raina menatapnya penuh selidik, mungkinkah itu tamu pak William, atau orang suruhannya yang di tugaskan mencari Allan.


Deg

__ADS_1


Jantung Raina berhenti berdetak, laki-laki yang sedang di tatapnya lekat itu memandang ke arahnya, sepersekian detik, tidak ada pergerakan, Raina hampir pergi menjauh, takut bila dia adalah orang jahat yang ingin mencelakainya.


Dengan jarak sekitar 50 meter, Raina masih mengamati pria tadi, lalu perlahan beringsut untuk kembali masuk ke dalam rumah, seketika pria itu berlari ke arahnya. Raina semakin panik, sekuat tenaga dia berjalan cepat, karena tidak mungkin untuk berlari.


"rain.. !".


Suara itu menghentikan langkah kaki Raina, tanpa aba-aba dia membalikkan tubuhnya, memandang si pemilik suara.


"rain, ini aku". ucapnya lagi, sembari berjalan mengikis jarak yang ada di antara mereka.


"ka.. kamu?"


Brukk..


Allan memeluk Raina, laki-laki itu telah kembali dengan selamat, Raina yang masih tidak percaya berusaha melepaskan pelukan suaminya, menangkup wajah yang terlihat sangat berbeda itu. Mengamati mata, hidung, alis dan bibirnya bergantian, tangisnya kembali pecah.


"iya rain, ini aku, Allan Sebastian suami kamu". ucap Allan sembari menghapus air mata di wajah Raina.


Tidak ada kata-kata, Raina menumpahkan segalanya di pelukan Allan, tak henti-hentinya dia bersyukur karena hari ini mereka bisa bertemu lagi.


"di-dimana Carter?" tanya Raina setelah beberapa saat berpelukan.


"itu". Allan menunjuk seseorang yang sedang di bantu pak Moko untuk duduk di kursi roda. Keadaanya lebih memperhatikan daripada Allan.


"aku akan memberi tahu Cia". Raina berusaha melepaskan diri dari pelukan Allan.


"biarkan dia memberi kejutan untuk istrinya rain.

__ADS_1


__ADS_2