
"aku akan mengadukan kamu pada mama, bahwa kamu menolak memberi adik untuk Aleta". Raina tersenyum sinis mendengar jawaban suaminya.
"kamu tidak akan bertemu dengan Monica lagi?"
"aku akan mencoba menghindarinya".
"mencoba? berarti masih ada kemungkinan kalian ketamu?" Raina tidak terima dengan jawaban Allan.
"dia wanita gila, mungkin dia akan berhenti, saat kamu mengandung adiknya Aleta".
"modus". jawab Raina saat menyadari atasan piyamanya telah terbuka hingga kancing trahir. "matikan lampunya mas". perintah Raina dengan malu-malu.
"kenapa?"
"aku malu". Raina mengapit bagian depan piyamanya.
Tanpa basa-basi, Allan mematikan lampu dan langsung kembali ke posisi semula, bibirnya tak bisa berhenti mengecupi bagian wajah Raina, seolah menumpahkan hasratnya yang telah lama terpendam.
"sayang.. " ucap Allan saat ciumannya mendarat di bagian tengkuk Raina, wanita itu menggigit bibir bawahnya, sebuah tanda merah tergambar jelas di sana. Tangan Allan bergerilya, Raina meremas rambut Allan karena menahan gejolak aneh yang baru pertama dia rasa, desahan kecilnya membuat Allan semakin bersemangat.
Setalah lama bermain-main, tibalah waktunya Allan melakukan ritual pertama mereka, Raina menggenggam lengan Allan yang keras, mencoba menahan sakit yang teramat sangat di bagian bawahnya, Allan berhenti sejenak, melihat wajah Raina yang di banjiri peluh, lampu tidur menjadi penerang jalan mereka, menciptakan suasana intim yang membangkitkan gairah masing-masing.
Lantunan music romantis mengiringi mereka berdua, selain untuk memberi kesan mendalam, juga untuk menyamarkan desahan mereka berdua agar tidak terdengar oleh dunia luar.
"sakit?" tanya Allan saat menyadari Raina hampir menangis. Raina hanya mengangguk kecil, tapi tidak menolak saat Allan mencobanya lagi.
Allan mendesah saat menyadari usahanya telah berhasil, sudut mata Raina mengalirkan air mata, tangannya meremas lengan Allan, mata mereka berpandangan, lalu senyum kecil terbit di bibir keduanya.
sekitar 10 menit berlalu dengan indah, hingga akhirnya dia menarik pusaka-nya keluar, menumpahkan banyak sekali cairan di atas perut Raina.
"kenapa?" tanya Raina heran.
"aku takut kamu belum siap hamil rain". Allan menjatuhkan dirinya di sisi Raina, sedangkan Raina berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Mereka tidak tidur sampai menjelang pagi, Allan hanya mendekap Raina, rentetan pertanyaan di lemparkan Raina kepada suaminya, Raina takut, jika setelah ini Allan akan kembali pada Monica, tidak adil baginya, pasti, semua yang dia punya telah di berikan kepada Allan, jika pria itu pergi, maka dia yang akan hancur.
"tidurlah, tidak akan ada Monica lagi di antara kita, aku janji, jika aku mengulanginya kamu bebas melakukan apapun padaku". kata Allan sembari mengecup bibir Raina yang masih saja terus mengomel.
"oke, aku akan mengadu pada mama".
"baiklah, lakukan sesukamu sayang, aku akan menerima konsekuensinya jika aku melanggar janjiku sendiri".
__ADS_1
Sayup-sayup terdengar suara adzan, Raina yang belum tidur sama sekali melangkah meninggalkan Allan, menuju kamar mandi.
"kamu mau kemana?"
"mandi, kamu juga harus mandi, kita sholat berjamaah abis ini". kata Raina, Allan mengekor di belakangnya.
"mau ngapain?"
"ikut mandi". Raina menutup pintu, Allan hanya terpaku karena mendapat penolakan dari istrinya.
-
Raina selesai memasak sarapan untuk Aleta, dengan mata terkantuk-kantuk. Satu mangkuk sup baso ikan dan ayam goreng tersaji dengan rapi, beserta masakan lain yang di buat oleh Aini.
"Kamu terlihat capek rain". tanya Bu Lidya yang telah turun sambil menuntun Aleta.
"ah, iya, kurang tidur ma". jawab Raina jujur, bukan kurang, tapi benar-benar tidak tidur lebih tepatnya.
"ohh, mama kira kamu sakit".
"nggak ma, cuma kurang tidur aja".
"pagi sayang". Allan mencium dahi Raina, lalu beralih ke dahi Aleta.
"semoga kalian selalu bahagia sampai tua seperti papa dan mama, seandainya papamu melihat ini, pasti dia luar biasa bahagia".
"kalian pindah kesini lagi aja". kata Allan spontan.
"mama ingin memberi kebebasan kalian, kalo ngga, besok gantian kalian yang bulan madu, biar mama yang jaga Aleta".
"ga bisa ma, kerjaan Allan gimana? mama pindah sini lagi aja ya" protes Allan.
"nanti mama bicarakan sama papamu".
"oke"
"mas, nanti jadi golf sama Carter?" tanya Raina agak malas karena mengantuk.
"ngga jadi rain, istrinya mendadak sakit".
"baiklah, aku juga capek banget mas".
__ADS_1
"iya, aku ngerti". jawaban Allan membuat Bu Lidya mengulum senyum, sepertinya dia paham tentang rasa lelah yang di alami Raina.
-
Jam 11 siang Raina hanya sendiri di rumah, Allan mengantar Bu Lidya dan Aleta pergi ke mall, tiba-tiba terdengar bunyi bel rumah mereka.
"buk, ada mbak Monica". kata mbak Siti pembantu mereka yang lain.
"suruh masuk mbak, saya tunggu di taman belakang".
"njih Bu".jawab mbak Siti sopan.
Raina menuju taman belakang, rindangnya pohon Ketapang memayunginya dari terik sinar matahari, hamparan rumput gajah mini menjadi karpetnya, Raina duduk di atas sebuah kursi taman yang terlihat berkelas meski hanya terbuat dari kayu bekas.
"wah, nyonya besar, apa kabar anda nyonya?" sindir Monica setelah menatap Raina yang duduk bersila kaki. Sedangkan Raina hanya melirik dengan tatapan penuh selidik.
"ada keperluan apa?"
"wah, sepertinya Allan benar-benar telah memperlakukan kamu seperti ratu, sampai kamu berani mengangkat wajahmu di depanku".
"aku istri sahnya Allan, kenapa aku harus takut padamu?" balas Raina tanpa merasa takut, entah dari mana datangnya rasa percaya diri itu hingga dia berani menghadapi Monica tanpa gemetar.
"istri? bagaimana bisa di bilang istri kalau tidurnya sendiri-sendiri". Monica tersenyum penuh penghinaan.
"setidaknya dia menikahiku, bukan kamu". Balas Raina lagi.
"menikah hanya untuk menyenangkan orangtuanya, itu yang kamu sebut dengan pernikahan? menurutku itu lebih pantas di sebut penipuan". Monica berada di depan Raina, lalu duduk cantik ala model-model luar negeri.
"menurutmu apa arti pernikahan?" Tanya Raina pada Monica, gadis itu terlihat bingung dan berfikir sejenak. "ahh, apa pertanyaanku salah? kamu kan belum menikah, bagaimana bisa kamu tau arti pernikahan". cibir Raina.
"menikah, kamu harus mendapatkan hati dan tubuhnya, jika tidak pernah bersentuhan itu namanya bukan menikah, tapi terikat seperti kerbau yang di cocok hidungnya". Jawaban Monica sangat klise, menikah bukan cuma cinta dan bercinta, tapi banyak yang lainnya.
"apa kamu meragukan hubunganku dengan mas Allan? apa kamu yakin kalau dia tidak pernah menyentuhku?" Rana melihat mata Monica yang bergerak kesana-kemari, terlihat jelas bahwa segumpal keraguan telah menyusupi hatinya.
"Allan tidak akan menyentuhmu, karena dia hanya milikku". Monica menggebrak meja, membuat vas kecil yang berisi miniatur bunga matahari terjatuh.
"kamu pernah melihat ini?" Raina membuka satu kancing kemejanya, memamerkan maha karya yang di buat Allan malam tadi.
Mata Monica terbelalak, nafasnya terdengar cepat, dia berjalan mengintari meja, menarik paksa rambut panjang Raina.
Raina yang sudah tersulut emosi sejak kedatangan Monica tidak mau tinggal diam, rambut ikal Monica menjadi sasarannya.
__ADS_1
"Monica, apa yang kamu lakukan?" Bentak Allan yang melihat Monica menarik rambut Raina.