
Di dalam mobil, Raina hanya menatap Allan tanpa berkata apapun, di dalam pikirannya terlintas berbagai pertanyaan yang sedari tadi ingin dia tanyakan, namun entah mengapa, lidahnya kelu, seolah tak ingin mengucap pertanyaan demi pertanyaan yang telah di susun, Raina terlalu takut mengetahui kenyataan jika Allan sebenarnya tau siapa Cia.
"ada apa sayang?" tanya Allan yang mulai merasa aneh karena dengan tingkah Raina.
"ehm, ngga kok".
"kenapa melihatku seperti itu?" tanya Allan lagi.
"aku, cuma kangen". sungguh, lidah Raina terasa sulit bicara saat ini.
"sudah seminggu aku libur kerja sayang, kamu masih merindukanku?"
"ahh.. iya". jawab Raina sambil tersenyum.
"rain, ada apa?"
"ehm, mas, kalau suatu hari nanti kamu ketemu Valerie apa kamu akan memaafkannya?"
"kenapa harus memaafkannya? setelah semua ini, aku justru ingin berterima kasih kepadanya karena telah meninggalkan Aleta di rumah, karena dengan adanya Aleta, aku bisa memiliki istri yang baik seperti kamu". sahut Allan.
"apa kamu tidak akan jatuh cinta padanya?" lirih Raina.
"sayang, come on, aku dan dia hanya 2 kali bertemu, bahkan jika bukan karena foto profil WhatsAppnya yang ada di handphoneku mungkin aku telah lupa bagaimana wajahnya".
"benarkah?" Raina masih ragu.
"ada apa sebenarnya?" Allan menepikan mobilnya, merasa ada yang di sembunyikan oleh Raina.
"sebenarnya aku tidak berhak mengatakan ini, Tapi aku terlalu sulit untuk membohongi kamu mas, aku terbiasa terbuka atas apapun yang terjadi di antara kita, jadi .." Raina menjeda kata-katanya, Allan sedikit mendekatkan wajahnya.
"mas, berjanjilah, tidak ada yang berubah setelah ini
". Raina mengucapkannya sama persis dengan kata-kata Cia.
"aku sedikit takut dengan apa yang akan kau katakan rain".
"kalau kamu ngga janji aku ngga jadi ngomong". Raina melipat kedua tangannya.
"aku berjanji, katakanlah".
"janji?" Raina mengangkat kelingkingnya.
"janji". Allan membalas janji kelingking Raina.
"begini.. singkatnya, Valencia adalah mamanya Aleta". Raina menatap wajah Allan yang terlihat datar tanpa ekspresi, entah karena Allan sebenarnya sudah tau, atau karena Allan belum sepenuhnya mampu mencerna kata-kata Raina.
"mas.. ". Raina melambaikan tangannya di depan wajah Allan yang melamun.
__ADS_1
"apa kamu bercanda rain?"
"aku baru tau tadi, setelah dia bilang sendiri". jawab Raina.
"bagaimana bisa?" Allan memijat pelipisnya.
"kenapa?" Raina heran.
"kenapa dia tidak jujur sejak awal, aku tidak menyangka semua terjadi seperti ini rain, apa mungkin dia merencanakan sesuatu?"
"menurutku tidak mas, aku percaya bahwa dia orang baik hanya saja dia yang memiliki masa lalu yang buruk". tutur Raina.
"menurutmu begitu?"
"iya mas, berjanjilah kita tidak akan mempermasalahkan hal ini, dan aku akan memberi tahu Aleta nanti setelah suasana lebih baik". Raina menggenggam tangan Allan, Allan masih menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mau menerima kenyataan bahwa orang yang selama ini dia takuti ternyata hidup berdampingan dengannya.
"aku hanya takut rain".
"takut apa?"
"aku takut dia mengambil Aleta dariku". Allan mengusap wajahnya dengan kasar.
"aku yang akan memastikan bahwa itu tidak akan terjadi". Raina memeluk Allan.
"aku percayakan Aleta padamu rain".
-
Tiga hari kemudian, dua orang yang datang ke rumah sakit untuk melakukan tes kecocokan ternyata memenuhi kriteria untuk menjadi pendonor bagi Alex, Carter telah menyiapkan uang tunai senilai 500 juta bagi orang yang mendonorkan sumsum tulang belakangnya untuk Alex. Dan mereka memberi uang saku bagi mereka yang datang untuk melakukan tes, jumlahnya juga cukup banyak, cukup untuk membeli kuota internet selama satu tahun penuh.
Sementara itu..
"mama, Aleta mau cium kecil". Aleta memanyunkan bibirnya, menyambut pipi adiknya yang sedang di gendong oleh sang mama.
"kakak cium mama dulu, baru boleh cium kecil (fyi kecil adalah panggilan sayang Aleta untuk Ali)". Raina menyodorkan pipinya.
cup
Aleta mencium pipi kiri Raina.
"yang sebelahnya belum". Raina kembali menyodorkan pipinya.
cup
"udah, kakak mau cium kecil". Aleta meraih pipi adiknya, lalu menciumnya dengan gemas, pipi bayi gembul itu pun memerah, namun senyum lebar mengembang dari bibirnya memamerkan gusinya yang belum di tumbuhi gigi.
"UU.. cayang, mau di cium kakak lagi?" tanya Aleta pada adiknya. Bayi itu kembali tersenyum lebar sambil mencoba meraih kakaknya.
__ADS_1
"mama, kecil mau di gendong kakak, boleh ya?" tanya Aleta, lalu gadis itu duduk di ranjang, bersandar di kepala ranjang dengan kaki diselonjorkan. Raina langsung meletakkan Ali di pangkuan kakaknya, dengan posisi membelakangi Aleta.
"tangannya pegang di sini ya sayang". Raina mengarahkan tangan Aleta agar memeluk perut adiknya.
Hingga beberapa saat, Aleta sama sekali tidak berani bergerak, seperti membeku, takut jika gerakannya akan membuat adiknya menangis atau terjatuh. Raina hanya tersenyum melihat Aleta yang begitu menyayangi adiknya, sama seperti dia yang dulu begitu menyayangi Awan adiknya.
"mama, kecilnya di ambil ya, kaki Aleta kesemutan".
"siap tuan Puteri". kata Raina, sembari mengambil Ali dari pangkuan kakaknya.
"mama, kapan Aleta boleh lihat baby Alex?"
"Aleta pengen ketemu baby Alex?"
"iya ma, Aleta kangen, Aleta juga sayang sama baby Alex".
"besok kita kesana ya sayang". Raina membelai rambut anaknya.
"yaaayy". sorak Aleta.
"Aleta sayang juga sama onty Ci?" tanya Raina.
"sayang, banget banget banget, tapi lebih sayang eyang papa, eyang mama, papa, mama sama kecil". jawab Aleta jujur.
"kalau onty Ci jadi mamanya Aleta, Aleta mau ngga?"
"ehm, Aleta kan udah punya mama rain, jadi Aleta ngga butuh mama lagi, kalo onty Ci kan udah jadi onty-nya Aleta". Aleta begitu menyayangi Raina seperti ibunya sendiri.
"iya juga ya". Raina tertawa kecil, mencoba menyembunyikan kenyataan.
"ada apa rain?" tanya Allan yang baru saja selesai olahraga.
"ngga mas, cuma gemes aja sama Aleta".
"sayangnya papa, cantik banget sih". kata Allan sembari mengangkat Aleta lalu mendudukkannya di pangkuan.
"Aleta kangen papa,papa ke kantor pagi-pagi nanti pulangnya malam-malam terus". Aleta memeluk papanya dengan posesif, Ali meraih kaos oblong yang di pakai papanya lalu menangis karena merasa tidak di hiraukan. Meski Allan libur selama seminggu, tapi Allan lebih banyak di rumah sakit dan mencari pendonor untuk Alex, jadi dia jarang bertemu Aleta.
"oh, anak ganteng papa juga mau di peluk?" Allan mengambil Ali dari pelukan Raina, tapi anak gembul itu justru menangis dan melihat kakaknya.
"Ali cemburu karena Aleta memeluk kamu, bukan sebaliknya". kata Raina sambil menahan tawa.
"masa sih?"
"kecill.. cup cup sayang, ini kakak, kakak sayang sama Ali". kata Aleta, lalu Ali kembali memamerkan gusinya.
"tuh kan, dia itu ngga suka kalau kamu meluk kakaknya". Raina benar-benar tertawa kali ini.
__ADS_1
"iya iya". jawab Allan pasrah.