Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 22 : Tanda merah.


__ADS_3

"aku yang membawamu ke situasi ini, aku terlalu egois hingga akhirnya aku menghancurkan hidupmu". Allan menatap jauh ke luar jendela, butiran bening mengalir di sudut matanya, tanpa sepengetahuan Raina.


"aku tidak pernah keberatan untuk menikah denganmu, tapi satu hal yang membuatku sakit". Raina menatap Allan yang masih memandang keluar jendela.


"aku sakit, membayangkan jika hubungan pura-pura kita di ketahui oleh Aleta, bagiamana perasaanya". Raina menunduk, mengecup lembut puncak kepala Aleta yang ada dalam pangkuan Allan.


Sebenarnya selama ini Allan sangat menyayangi Aleta, namun jika dia melihat gadis kecil itu ingatannya seolah kembali ke pada saat dia di pecat dari kesatuannya, kesatuan yang sangat dia banggakan, sebuah cita-cita yang diraih dengan susah payah dan harus menentang kedua orangtuanya, karena pak William berharap Allan menjadi polisi seperti dirinya.


-


"selamat malam rain". Allan meninggalkan kamar Aleta dan Raina setelah membaringkan Aleta di tempat tidurnya, sedangkan Raina menyusulnya dengan tujuan mengambil pakaian yang ada di lemari kamar mereka.


"mas, apa Monica masih di dalam?" tanya Raina ragu-ragu.


"entahlah, ada apa? kamu mau tidur sekamar denganku?" mendengar pertanyaan Allan, Raina mencebik kesal, Raina paham betul jika seorang istri menolak melayani suami, ganjarannya adalah dosa besar, namun hubungan mereka berbeda, toh Allan juga tidak pernah meminta haknya.


"aku mau ngambil baju tidur di lemari, ehhm.. begini saja, mas masuk, aku tunggu sini, ambilkan baju tidurku, yang mana saja, oke?". mata Raina berbinar, seolah telah menemukan ide cemerlang sekelas dengan Albert Einstein.


"masuklah".


"nggak mas, aku malas melihat wanita itu". Raina menunduk, membayangkan Allan dan Monica bermesraan membuat hatinya tidak nyaman, ya, tidak nyaman, karena Raina tidak ingin mengartikannya dengan kata cemburu.


"kamu cemburu rain?" Allan mengangkat wajah Raina dengan jemarinya.


"untuk apa, bukankah sejak awal kita sudah sepakat, jadi apa yang harus aku cemburui?" kata Raina dengan bibir bergetar.


Cup

__ADS_1


Allan mencium bibir Raina sekilas, wajah Raina merah padam, dia benar-benar menangis saat ini, Allan yang bingung dengan sikap Raina hanya bisa memeluk tubuh kurus itu karena merasa perbuatannya yang membuat Raina meneteskan air mata.


"kamu kurus sekali rain". Allan membelai punggung Raina, sedangkan Raina hanya sesegukan membenamkan wajahnya di dada Allan, meski tangannya masih enggan membalas pelukan suaminya.


"sepertinya kamu benar-benar kesulitan menjalani hidupmu akhir-akhir ini, maafkan aku rain, aku berjanji akan membuat hidupmu lebih baik". Allan mengecupi puncak kepala Raina yang semakin terisak.


"sayang, apa-apaan, kenapa malah bermesraan sama dia?" Monica segera menarik Allan melepas paksa pelukannya dengan sang istri.


Raina menatap Monica dengan mata pedih karena menangis, meski terlihat buram namun Raina bisa melihat bahwa wanita itu mengenakan lingerie satin merah maroon miliknya, hadiah dari seorang kerabat Allan yang bernama mbak Diana.


"Permisi". Raina menerobos pintu tempat Monica berdiri.


"heh, apa ini, berani sekali kamu". Monica menarik rambut panjang Raina karena tersulut emosi. Raina memekik kesakitan sambil memegang pangkal rambutnya, menahan tarikan Monica.


"Monica, hentikan atau keluar dari rumah ini ! " hardik Allan pada kekasihnya.


"sayang, kamu bentak aku? apa salah aku? gara-gara aku ngingetin kalian biar ngga kebablasan?" Monica memang tidak tau malu, bagaimana bisa dia mengingatkan sepasang suami istri untuk tidak kebablasan sedangkan apapun yang mereka lakukan halal di mata agama, halal di mata dunia.


"kenapa sebanyak itu rain?"


"aku malas masuk ke kamar ini lagi, besok aku ambil sisanya". kata Raina, lalu setelahnya dia keluar meninggalkan sepasang kekasih yang menjijikkan baginya.


-


Pukul 5 pagi, Raina telah terbangun setelah alarmnya berbunyi. Raina segera mandi, 2 rakaat yang menjadi kewajibannya harus segera dia tunaikan.


Setelah selesai sholat, dia turun, membuat sarapan untuk Aleta, semur daging dan perkedel, meski pembantu di rumah itu banyak, namun Raina tetap menjaga apapun yang masuk ke dalam tubuh anaknya karena dia takut kejadian seperti tempo hari terulang kembali, kejadian Marni maksudnya.

__ADS_1


"mbak, tolong nanti martabaknya yang satu di panasin ya, tadi malem udah ngga sempet mau makan, nanti yang dua buat mbak-mbak". kata Raina menunjuk tiga box martabak manis baru di keluarkannya dari kulkas.


"iya Bu". jawab seorang pembantu bernama mbak Aini, sebenarnya Raina risih di panggil ibu oleh orang sebayanya, tapi itulah aturan yang di buat Allan, sehingga dia tidak bisa menolaknya.


Pukul 7 pagi, sarapan telah siap di meja makan, Raina juga sudah turun dengan menggandeng Aleta, karena hari ini hari libur jadi gadis kecil itu hanya mengenakan celana pendek dan kaus tanpa lengan.


"sayang, tebak, mama masak apa?" Raina menggoda Aleta, untuk membangkitkan nafsu makan anak sambungnya itu.


"pasti semur daging? baunya sampe sini ma". Raina bahagia bukan main melihat Aleta begitu senang ketika mencium aroma gurih dari semur buatannya.


"pinter, nanti makan yang banyak ya, mama suapin".


"iya ma". Aleta menuruni tangga dengan loncat-loncat kecil, itu berarti suasana hatinya sedang gembira.


Di meja makan hanya ada mereka berdua, Allan dan Monica belum turun, seperti biasa, setiap Monica menginap pasti mereka bangun siang, kadang sampai tidak keluar kamar, bahkan makanan pun minta di antar.


"Aleta, hari ini kita ke timezone ya, seperti waktu sama om Jojo". kata Raina setelah mengambil satu sendok nasi untuk Aleta.


"hore.. Aleta ketemu om Jojo lagi".


"nggak sayang, cuma kita berdua, om Jojo sibuk". meski Aleta terlihat kecewa mendengar jawaban mamanya, tapi itu tidak berlangsung lama, senyuman riang kembali terukir ketika Raina mengatakan akan membelikannya mainan keinginannya, yaitu LOL surprise, mainan aneh yang harus di rendam air dulu untuk mengetahui isi di dalamnya, meski aneh bagi Raina, namun dia akan dengan senang hati membelikannya untuk Aleta.


"selamat pagi rain". kata Allan sembari mendekati Raina yang terpaku, pria itu semakin mengikis jarak, hingga bibirnya menempel di dahi Raina.


"mas .. ". Raina terperanjat, namun tidak menolak, air mukanya berubah menjadi merah. ini adalah kali pertama Allan mencium Raina untuk ucapan selamat pagi.


"selamat pagi anak papa". kecupan itu berpindah ke puncak kepala Aleta.

__ADS_1


"kemana Monica?" tanya Raina sinis.


"dia masih mandi di atas". Allan duduk di samping Aleta, pria itu terlihat antusias dengan menu di meja makan, Raina yang memahami tugasnya langsung mengambil piring untuk di isi nasi dan lauk sesuai keinginan Allan. Tatapan matanya tak sengaja menelusuri rambut Allan yang masih basah, air mengalir turun di leher suaminya,entah kenapa, ada sebuah desiran aneh yang menjalari tubuhnya, namun sayang, sebuah tanda merah bersarang di sana, membuat Raina membenci dirinya sendiri, kenapa dia harus melihat bukti nyata pergulatan panas yang di lakukan Allan dengan Monica.


__ADS_2