Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 41 : Kehamilan Raina.


__ADS_3

Cia menaiki satu persatu anak tangga, Bu Lidya bersyukur dengan adanya Cia, karena hanya dia yang mampu membuat Raina sedikit terlihat lebih hidup, dari mulai membuka mata hingga malam tiba yang di lakukannya hanya merenung, sesekali bermain dengan Aleta, memeluk si miniatur Allan dengan posesif, pandangannya terus menerawang, tubuhnya semakin kurus kering, mungkin beratnya telah berkurang beberapa kilogram.


"Cia, sudah berapa lama mereka tidak pulang?" pertanyaan Raina membuat Valencia seperti di sambar petir, sejak beberapa Minggu lalu mereka sudah berhenti menghitung,karena tidak ada yang bisa mereka lakukan setelah semua usahanya tidak ada yang berhasil.


"sudah sekitar 3 bulan". Bibirnya bergetar, menahan tangis yang setiap detik dia tumpahkan.


"harus berapa lama lagi kita menunggu, apa mereka sudah mati?" Tanpa memandang lawan bicaranya, kata-kata Raina menunjukkan betapa putus asanya dia.


"aku yakin mereka akan pulang dengan selamat suatu hari nanti". mereka berpelukan, Raina sudah tidak lagi menangis, air matanya sudah habis, karena selama tiga bulan telah dia tumpahkan.


Aleta datang dan memeluk mamanya, mencium wanita itu dengan lembut, membelai rambutnya seperti seorang ibu yang menenangkan anaknya yang menangis sepulang sekolah karena dirundung oleh teman-teman sekelasnya.


"mama, Aleta sayang mama, mama jangan sedih, mama jangan nangis, Aleta ada di sini sama mama, mama harus senyum, Aleta kangen liat senyum mama". Raina kembali terisak, betapa dia jahat telah mengabaikan putri kecilnya karena terlalu memikirkan Allan. Jangankan Aleta, bahkan dirinya sendiripun telah dia abaikan, dia makan hanya untuk bertahan hidup.


Raina membalas pelukan Aleta, mereka menangis sesegukan di saksikan oleh Valencia.


Tanpa di sadari Cia ikut memeluk mereka berdua.


-


Usai memandikan Aleta, Raina kembali ke kamarnya, berendam di bathup dengan air hangat dan aroma sabun yang selalu di gunakan oleh Allan. Setelah jarinya keriput Raina beranjak dengan malas, berdiri di depan cermin, melihat sendiri betapa memprihatinkannya dirinya, tubuh kurus kering, rambut kusut karena jarang di sisir, lingkar mata yang menghitam akibat terlalu banyak menangis, bibir pucat karena tekanan darah rendah dan masih banyak lagi, tapi satu hal yang menjadi perhatian Raina, ketika tubuhnya menjadi sangat kurus, tapi perutnya sebaliknya, perutnya lebih cembung dari biasanya.


Memang semenjak kepergian Allan dia belum mendapat tamu bulanannya, tapi itu adalah hal biasa bagi Raina, semasa masih gadis Raina memang mengalami masalah reproduksi, dia bisa tidak haid selama berbulan-bulan saat stress, bahkan harus dengan resep dokter dulu agar dia bisa mendapat periode haid yang normal. Tapi kali ini berbeda, Raina meraba perutnya dengan perasaan aneh, bertanya pada dirinya sendiri, apakah memang ada adik Aleta di dalam sana.


Semangat hidup Raina perlahan kembali, dia turun dan menyusuri dapur, mencari apapun yang bisa dia makan.


Satu piring nasi, sop ayam dan dua buah tempe goreng kini ada di hadapannya,Sudah lama sekali dia tidak memiliki selera makan seperti ini.


"rain, kamu makan?" Cia melihatnya dengan wajah sumringah meski sedikit heran.


"aku harus hidup Cia, aku harus kuat. Seperti kata Aleta".


"Syukurlah rain, aku bahagia sekali".

__ADS_1


"kamu juga makan, jangan sampai anak dalam kandunganmu kekurangan gizi".


"aku sudah rain". Dengan penuh perhatian Cia menuangkan air minum untuk Raina.


"dimana Aleta?"


"dia pergi bersama eyangnya". Raina mengangguk pasti.


Tiba-tiba Aini datang dengan menyerahkan bungkusan yang dia bilang dari gojek, Raina menerimanya dengan antusias lalu kembali ke kamar setelah berpamitan kepada Cia.


-


Bibir tipisnya mengulum senyum saat melihat layar monitor di ruang dokter Clara, dokter yang selama ini menangani Cia.


"usia kandungannya sudah 15 Minggu janinnya tumbuh dengan baik dan sesuai usianya, tapi berat badan anda terlalu rendah, sepertinya anda kekurangan nutrisi , nanti akan saya buatkan resep".


"rain, sejak kapan kamu tau kalau kamu hamil?" Cia memegang tangan Raina.


"tadi pagi". Kini senyumnya berubah menjadil senyum malu-malu.


"tapi perut kamu masih rata, kalau aku udah keliatan gendut walaupun usianya sama". Cia tersenyum sambil memeluk perutnya sendiri.


"semangat bumil". Raina memeluk Cia, kini mereka dalam posisi yang sama persis, hamil tanpa di dampingi suaminya, bahkan mereka tidak tau bagaimana keadaan mereka, entah masih hidup atau telah tiada.


"yang kuat ya rain, kita harus bisa menjaga anak-anak ini apapun yang terjadi".


Sepulang dari dokter kandungan, Raina segera mencari Bu Lidya, saat bertemu, hal pertama yang di lakukannya adalah memeluk wanita paruh baya itu.


"mama". Tangis haru Raina pecah ketika mendekap ibunya itu.


"kenapa rain?"


"Aleta akan punya adik".

__ADS_1


"a .. apa?" Bu Lidya tampak terkejut, bagaimana bisa anaknya sudah tidak pulang hampir 3 bulan dan kini Raina hamil.


"jangan kaget ma, kandungan Raina udah 15 Minggu, atau 3 bulan lebih, selama ini Raina ngga sadar karena terlalu sedih gara-gara mas Allan".


"maafkan mama, maafkan Allan, ampuni dia rain, dia pergi saat kamu sedang seperti ini". Bu Lidya terisak-isak.


"ngga ada yang perlu di maafkan ma, ini semua bukan salah mama".


"semoga Allan segera pulang dan mendengar kabar baik ini".


"iya ma, Aleta di mana ma?".


"dia di belakang, sama bapak". Raina segera pergi meninggalkan Bu Lidya, mencari keberadaan anaknya.


"mama". Aleta berlari, menghambur ke pelukan mamanya.


"sayang, Aleta mau punya adik, adiknya disini". Raina meraih tangan Aleta, meletakkannya di permukaan perutnya.


"ada adik di sini?" mata Aleta berbinar-binar, terlihat sangat gembira.


"iya, adiknya masih kecil, nanti kalau sudah lahir, Aleta janji sama mama ya, Aleta sayang sama adik".


"Aleta janji". Dengan tulus Aleta memeluk perut mamanya, lalu berbisik lembut. "hai adik bayi, ini kakak Aleta".


"kamu hamil rain?" tanya pak William.


"iya pak, sudah 3 bulan lebih hampir 4 bulan".


"syukurlah, setidaknya ada kabar baik di tengah kondisi keluarga kita yang sedang seperti ini.


"iya pak".


Kabar baik tentang kehamilan Raina membuat seisi rumah berubah drastis, kini mereka tampak lebih hidup, Raina kembali menghidupkan suasana rumah mereka. Pak William mencari berbagai cara lain agar Allan segera di temukan. Mulai dari memasang iklan hingga membuat sayembara.

__ADS_1


Kedua bumil rutin mengikuti kelas kehamilan bersama, Aleta mengikuti mereka meski hanya menyaksikan dengan mata terkantuk-kantuk.


Setelah kepergian Allan, Raina memutuskan untuk merubah pendidikan Aleta dengan home schooling, alasannya adalah Monica, rubah betina itu belum tertangkap hingga detik ini, dan Allan yang menjadi pelindung mereka kini hilang entah kemana.


__ADS_2