
Hari ini, tepat satu tahun kelahiran Ali, bayi gembul itu semakin hari terlihat semakin tampan, dengan setelan jas warna navy Ali berdiri di balik kue ulang tahunnya yang berbentuk bulat dengan gambar Stitch di tengahnya.
Semua orang bahagia hari ini, terlebih karena Alex telah mendapatkan donor sumsum tulang belakang dan kini dia telah dinyatakan sembuh dari penyakit yang sebelumnya dia derita.
"Onty Ci, Aleta mau cium baby Alex". kata Aleta, lalu Valencia hanya tersenyum dan mendekatkan Alex ke Aleta.
"Aleta, onty Ci mau di cium juga dong". Valencia mendekatkan pipinya yang langsung di cium oleh Aleta, Raina yang melihat adegan itu tersenyum penuh arti.
"Terima kasih rain, kamu telah merawat Aleta hingga dia tumbuh sebaik ini". kata Valencia.
"dia memang terlahir sebagai anak baik, jadi siapapun yang mengasuh dia, pasti dia akan tumbuh menjadi anak baik". balas Raina.
Akhirnya, acara tiup lilin selesai, tinggal acara pemotongan kue, Raina mengarahkan tangan Ali untuk memegang pisau, tapi tangan kecilnya yang sebelah luput dari pantauan mereka, lalu..
Plaaakkkk
Kue ulang tahun yang tadinya berbentuk lingkaran dengan gambar Stitch kini menjadi bergambar telapak tangan kecil milik Ali, dan tersangkanya hanya tersenyum lebar, memperlihatkan empat giginya yang baru tumbuh.
Semua orang tertawa, Raina melepaskan tangan Ali yang satunya, hingga anak itu bebas meremat kue ulang tahun pertamanya.
Seluruh wajah dan pakaian Ali penuh dengan cream coklat, Alex yang penasaran juga ingin ikut bertempur dengan teman sebayanya itu.
Kini kedua bayi menggemaskan itu telah berubah menjadi monster coklat yang membuat siapapun yang melihatnya ingin melahap mereka.
"duh, gemesssh". ucap Valencia sambil merekam tingkat kedua bayi itu.
"rasanya pengen ku telan mereka". imbuh Raina.
Meski tubuh Alex sedikit lebih kecil dari Ali, tapi tidak mengurangi kelincahannya, bayi itu juga terlihat tampan setelah tidak pucat lagi.
sementara itu..
"Al, maafkan istriku". kata Carter kepada Allan di ruangan yang terpisah.
"untuk apa?"
"karena dia tidak jujur selama ini".
"sudahlah, dia juga tidak bersalah, dia juga korban, bahkan dia lebih menderita dari aku, karena dia harus mengandung dan melahirkan Aleta sendiri". jawab Allan.
"kau dan Raina memang orang baik, pantas saja Tuhan menjodohkan kalian berdua". imbuh Carter.
__ADS_1
"aku tidak lebih dari seorang pendosa yang di beri kesempatan kedua oleh tuhan". Allan menepuk pundak Carter. "jaga Valencia, aku yakin dia akan menjadi ibu dan istri yang baik untukmu". lanjutnya.
"ya, dia adalah istri dan ibu yang baik, aku beruntung mendapatkan dia Al, aku ingin sekali Aleta tau siapa sebenarnya Cia, karena selama ini Cia begitu tersiksa sebelum dia bisa dekat dengan Aleta". kata Carter.
"aku yang akan memberi tahu Aleta, nanti setelah dia cukup besar untuk mengerti keadaan kita semua, untuk saat ini jika kita memberi tahunya pasti hanya akan menimbulkan kebingungan untuknya". Allan menatap foto Aleta di layar ponselnya.
"kau benar, Aleta masih terlalu kecil untuk di bebani dengan kenyataan ini". Carter beranjak, berniat mengajak Alex dan Valencia pulang.
Terdengar gelak tawa dari ruang keluarga tempat Bu Lidya, pak William, Raina, Cia, Aleta, dua monster coklat tadi dan beberapa asisten rumah tangga Raina.
"wowww... ada apa ini". Carter segera meraih ponselnya dan merekam momen ketika buah hatinya bebas bermain dengan coklat bersama Ali.
"sayang, cepat kemari, lihatlah mereka begitu menggemaskan". ucap Raina pada Allan yang baru saja menuruni tangga.
"ya Tuhan, kenapa kalian begitu lucu". ucap Allan.
-
15 tahun kemudian.
"mom, aku berangkat dulu ya". pamit Alex pada Valencia.
"hati-hati sayang, ingat, kabari mama setelah sampai, jangan lupa berikan ini kepada kakakmu". Valencia menyodorkan paper bag pada Alex, untuk di berikan pada Aleta.
Di kediaman pak William.
"mama, papa, Ali berangkat dulu ya, Alex udah dateng". kata Ali, dia mencium tangan orang tuanya untuk segera menyusul kakaknya ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah di sana.
"ingat, jangan nakal, jangan kebanyakan main keluar, jaga kakakmu, mama, papa, eyang papa, eyang mama percaya pada kamu dan Alex". ucap Raina, di iringi anggukan dari Allan.
"boy, papa memberi kepercayaan kepada kamu dan kakakmu, jangan sampai menyalah gunakan kepercayaan kami, oke boy?" Allan menunjukan kepalan tangannya di depan Ali, di balas kepalan tangan juga oleh Ali, begitulah cara mereka melakukan tos.
"santai pa, di sana ada Daddy, jadi aku tidak mungkin macam-macam". jawab Ali enteng.
"selamat pagi ma, pa". Alex datang dan mencium tangan Raina dan Allan.
"selamat datang Alex, mommy tidak ikut? padahal mama ingin mengajaknya masak Sup iga". protes Raina.
"mommy nanti kesini agak siang ma, mau olahraga dulu katanya". jawab Alex.
"ya sudah, sana berangkat, hati-hati, jangan macam-macam, kalian harus saling mengingatkan, jangan malah saling mendukung melakukan hal buruk, oke?" tutu Allan.
__ADS_1
"siap bos". jawab Alex, lalu keduanya melakukan tos yang sama seperti yang di lakukan Allan dan Ali.
"jaga kakak kalian, ingat, kakak kalian adalah tuan Puteri yang harus kalian jaga sepenuh hati". ucap Raina.
"baiklah Baginda ratu". timpal Ali sembari membungkukkan badan.
-
"mama, Aleta kangen". kata Aleta dalam panggilan video call.
"pulanglah,jarak Jakarta - situbondo hanya butuh 1,5 jam naik pesawat". gerutu Raina.
"hai sayang, kamu ngga kangen sama kita ya, kenapa betah banget sih di Jakarta?" tanya Valencia.
"hai mom, makasih ya jamnya, Aleta suka". kata Aleta sembari memperlihatkan jam tangan di pergelangannya.
"jaga kedua adikmu, jangan biarkan mereka macam-macam". kata Raina.
"siap ma, makasih ya kalungnya". kini Aleta menunjukkan kalung dengan liontin angsa di lehernya.
"iya sayang". jawab Raina.
Lalu panggilan video call itu berakhir setelah berlangsung hampir satu jam lamanya.
"Rain, aku tidak menyangka kalau Aleta bisa menerimaku dengan baik". kata Valencia.
"aku sudah bilang, kau saja yang tidak percaya". Raina tertawa.
"kenapa mereka tumbuh cepat sekali, rasanya aku ingin memeluk mereka saat masih kecil, apa lagi Alex sekarang sudah tidak mau aku cium". Valencia memanyunkan bibirnya.
"sama, Ali juga sudah tidak mau aku cium, malu katanya". kedua wanita itu tergelak.
"aku bahagia rain, hidupku jauh lebih baik setelah mengungkapkan kenyataan, aku memiliki anak-anak yang baik, aku memiliki suami yang hebat, dan sahabat yang luar biasa sepertimu".
"ah, kau berlebihan". kata Raina.
TAMAT
🌻Terima kasih untuk reader yang selalu setia membaca novel ini, maaf jika endingnya terkesan buru-buru, tapi memang rencana author cuma pengen bikin cerita yang ngga terlalu panjang dan membosankan, akan ada novel baru setelah mama untuk Aleta, mungkin nanti jika author memiliki ide yang cukup untuk membuat lanjutnya maka akan author lanjutkan di novel yang berbeda.
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih, semoga bahagia selalu🌻