Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 62 : Ada apa dengan Alex?


__ADS_3

Aku tidak akan kalah, karena seumur hidupku tidak pernah ada kekalahan dalam hal apapun, jadi kalau memang aku tidak boleh memiliki Allan, maka tidak ada yang boleh memilikinya, termasuk gembel itu. kata Kimmy dalam hati.


"heh, apa yang kamu pikirkan?" bentak Bu Sisil yang melihat anaknya bersungut-sungut.


"apa sih ma? aku ngga mikirin apa-apa". elak Kimmy.


"kamu ngga usah bikin rencana yang aneh-aneh, mama ngga akan bantu kamu, mama lebih takut sama papamu daripada sama kamu".


"mama, aku ngga mikir apa-apa".


"awas ya kalau kamu sampai bikin Mama malu". kata Bu Sisil dengan ekspresi yang mengintimidasi.


"whatever". lalu gadis itu pergi begitu saja meninggalkan mamanya yang masih tidak percaya dengan tingkah putrinya.


-


Keesokan harinya, di kantor Allan telah menunggu Kimmy yang datang dengan wajah di tekuk.


"selamat pagi pak, ada apa bapak duduk di meja saya?"


"masuk, saya ingin bicara". kata Allan, lalu masuk.ke ruangannya.


"duduk". Kimmy hanya menurut.


"Kimmy, saya ucapkan terima kasih atas kerja keras kamu selama ini, tapi sepertinya saya kurang cocok dengan pekerjaan kamu, jadi saya memutuskan untuk memberhentikan kamu mulai hari ini, silahkan kemasi barang-barang kamu, assisten pribadi saya yang akan menggantikan kamu untuk sementara". ucap Allan tanpa jeda.


"ke .. kenapa pak?"


"tidak ada apa-apa Kimmy, ini murni masalah pekerjaan". kata Allan mencoba menghilangkan pikiran buruk Kimmy.


"baik pak". lalu gadis itu keluar membereskan barang-barangnya.


"jika aku pergi, itu artinya aku tidak bisa lagi melihat Allan sedekat ini, aku akan sangat merindukanmu Al, tapi kau tenang saja, aku akan terus mengejar cintamu walau sampai di ujung dunia". kata hati Kimmy, pandangannya tak sedetikpun lepas dari Allan yang masih sibuk dengan laptopnya di dalam akuarium.


"ehm, kamu sedang apa?" Raina datang dengan menggendong Ali.


"tidak, aku hanya sedang membereskan barang-barang milikku, karena aku di pecat". Kimmy berbicara dengan bahasa santai, karena merasa dia telah di pecat jadi tidak perlu menghormati Allan dan istrinya lagi.

__ADS_1


"oh". Raina berlalu begitu saja, menghampiri Allan yang terlihat terkejut.


"sayang, ada apa?"


"aku ingin ke rumah sakit, karena hari ini aku aku akan memasang spiral untuk KB sesuai kesepakatan kita kemarin".


"kenapa bawa Ali?"


"nanti sekalian jemput kakaknya". Raina menyerahkan bayi kecil itu pada Allan karena dia ingin ke kamar mandi. Kimmy di luar akuarium hanya melihat dengan gemas, ekspresi Allan ketika sedang bermain bayi gembulnya begitu mempesona lebih tepatnya sexy di mata Kimmy.


"ayo sayang, temani mama ke rumah sakit". kata Raina mengambil alih Ali dari tangan suaminya.


"terus kenapa kamu kesini rain?"Allan mengernyitkan dahi.


"aku ingin memastikan apa kamu sudah mencarinya". Raina melirik ke arah Kimmy, sekali lagi dia memergoki Kimmy yang sedang menatap intens pada suaminya.


"sudah sayang, aku sudah melakukan apa yang kamu mau". Allan bangkit, memeluk Raina lalu mencium kening istrinya.


"terimakasih mas".


-


Suara pintu di banting dengan kerasnya, Kimmy yang begitu emosi tidak bisa mengendalikan amarahnya setelah sampai di rumah.


"aku bersumpah, aku akan membalas sakit hatiku". bayangan Allan mencium Raina tadi masih membekas di hatinya, menyisakan rasa sakit yang begitu dalamnya.


"apa yang kamu lakukan? kamu mau menghancurkan rumah ini?" teriak Bu Sisil.


"aish, sudahlah ma, rumah ini terbuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi, tidak akan roboh hanya karena aku membanting pintu".


"dasar otak sinting, kau ini kenapa lagi? lagi pula ini baru jam 11 siang, kenapa kau sudah pulang?" Bu Sisil mengambil box yang berisi foto dan beberapa binder milik Kimmy.


"aku di pecat". Kimmy menangis, air mata yang sedari tadi dia tahan kini telah tumpah bersama dengan umpatan-umpatan dan sumpah serapah untuk Allan dan Raina.


"baguslah, jadi kau tidak perlu bertemu dengan dia lagi setiap hari". senyum mengembang do bibir Bu Sisil, meski dia tipe orang yang suka memaksakan kehendaknya tapi setidaknya otaknya masih waras dan berfungsi dengan baik.


"mama tidak tau apa yang aku rasakan, aku lebih baik mati daripada harus begini". Kimmy memukuli dadanya sendiri.

__ADS_1


"apa kau ingin sekali lekas masuk neraka, kenapa ingin sekali mati, kau pikir amal baikmu sudah cukup untuk membuatmu masuk surga?" cibir Bu Sisil.


"mama keluar saja, mama sama sekali tidak membantu".


"lagi pula siapa yang akan menemani orang gila sepertimu, mendengarmu menangis saja sudah membuatku pusing".


"ada apa ini?" pak Leo masuk ke kamar putrinya.


"Kimmy di pecat". kata Bu Sisil santai.


"oh, baguslah jadi kamu tidak perlu membuat surat resign, karena papa akan membawamu pulang ke Jepang untuk melanjutkan kuliahmu".


"ngga pa, Kimmy ngga mau, Kimmy mau melanjutkan kuliah di Jakarta aja".


"ngga ada tapi-tapian karena papa akan pindah ke sana selamanya". jawab pak Leo dengan tegas dan setengah mengintimidasi.


"apa?" pekik Bu Sisil.


"iya kita akan pindah ke sana untuk selamanya".


"aku ngga mau, aku mau di sini". kata Kimmy.


"its okay, tanpa fasilitas, tanpa rumah tanpa mobil, karena semua aset dan fasilitas papa akan papa jual sebelum kita pindah". pak leo menakuti putrinya, padahal sebetulnya itu hanya gertakan saja, tapi Kimmy yang mengetahui bahwa papanya tidak pernah bercanda langsung percaya begitu saja.


"damn". umpatnya dalam hati karena dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi.


-


"Cia, kenapa Alex terlihat aneh? wajah dan matanya kuning". kata Raina sembari mengusap pipi bayi gendut yang ada di pangkuan Cia, mereka sedang berada di ruang tunggu untuk menjalani tindakan pemasangan IUD.


"aku sudah konsultasi rain, dan kata dokter ini normal, tapi dia hari ini kuningnya semakin parah, besok pagi aku dan Carter akan ke Jakarta untuk bertemu dokter spesialis anak yang terbaik di sana". Cia memeluk putranya dengan erat.


"semoga tidak apa-apa Cia, aku takut Alex kenapa-kenapa". Raina memeluk Cia, Ali terlelap dalam gendongannya.


"aku takut, karena aku sudah tidak bisa merawat anakku dulu".


"anakmu? kamu pernah punya anak sebelum Alex?" tidak ada jawaban, hanya tangisan Valencia yang semakin kencang.

__ADS_1


"kita berdoa saja yang terbaik untuk Alex".


"iya rain".


__ADS_2