
Allan mencium punggung tangan istrinya setelah menyematkan cincin pemberiannya. Airmata haru Raina terus mengalir meski beberapa kali dia seka.
"aku sangat sangat sangat menyayangi kamu rain". sorot mata Allan terlihat begitu teduh, Raina ingin sekali memeluk suaminya jika saja tidak ada orang lain di dalam sana.
Bibirnya bagai terkunci, tidak ada satu katapun yang mampu keluar dari sana. Tak pernah terbayangkan oleh Raina, seorang gadis miskin dengan masa depan suram bisa mendapatkan perlakuan seperti ini dari seorang laki-laki. Dalam benaknya dulu dia hanya akan menikah dengan seorang karyawan swasta dengan gaji kecil, tinggal di rumah kontrakan kumuh, memiliki dua orang anak yang membuatnya kesusahan memutar otak untuk memenuhi kebutuhan, tetangga yang mencibir karena hutang yang belum dibayar dan sudah berhutang lagi, ditambah pemilik rumah yang terus menerus menagih uang sewa. Raina bergidik, dia tidak kuat membayangkan jika itu benar-benar terjadi.
"sayang, kok ngelamun sih?" Allan memegang pundak Raina dengan khawatir, apa yang dia lakukan adalah sebuah kesalahan hingga membuat Raina menangis terisak-isak seperti ini.
"ngga apa-apa mas". Raina menjawab Allan dengan terbata-bata.
"kita makan dulu sayang". Raina mengikuti perintah Allan, perlahan menyuap makanan ke dalam mulutnya, Allan menatap wajah istrinya yang tampak sembab karena banyak menangis.
_
Dalam perjalanan pulang Raina terus menggenggam tangan Allan, sesekali dia melirik wajah sempurna suaminya, bibirnya tak henti mengulum senyum, kebahagiaan yang mengaliri hatinya seperti menebar kelopak-kelopak bunga beraneka warna.
"mas, makasih ya". Sebuah kecupan mesra dirasakan Allan menyentuh punggung tangannya.
"aku yang seharusnya berterimakasih rain, kamu sudah menjadi istri dan mama yang sempurna untuk Aleta". Allan menarik balik tangan istrinya, melakukan hal yang sama.
Malam itu, mereka saling mengungkapkan perasaan meski sedikit terlambat, mereka seolah sedang melakukan remedial untuk kisah cinta mereka, mengulang bab-bab yang dulu terlewatkan untuk memperbaiki nilainya.
Allan sepenuhnya sadar, bahwa kini dia bukanlah dia, bukanlah Allan yang bisa pulang dan pergi sesuka hati, bukan Allan yang bebas tidur di luar rumah tanpa ada yang mencari.
Perlahan Raina mengubah semuanya, merubah total isi rumah keluarga Sebastian tanpa melakukan apa-apa, Raina hanya bernafas dan semuanya berubah begitu saja, ajaib.
Tanpa sadar mobil telah masuk ke garasi, Raina mengaitkan tangannya ke lengan suaminya, mereka berjalan dengan perasaan yang baru saja di isi ulang. Rasa cinta yang dulu pernah mereka ragukan kini telah menjadi sebuah garis tegas yang menghubungkan hati mereka.
"aku mandi dulu rain".
"iya mas". Raina melepas dress-nya, mengambil jubah mandi, awalnya Raina ingin menyusul Allan ke kamar mandi, tapi laki-laki itu menolaknya.
__ADS_1
Setalah lebih dari 20menit Allan keluar dengan jubah mandi, kini giliran Raina yang harus membersihkan diri. Tanpa sengaja dia melirik kain kasa yang berlumur Betadine menjulur dari dalam tempat sampah, segera Raina memastikan dengan menariknya keluar, ternyata bukan hanya kain kasa, tapi ada juga botol infus dan beberapa kapas penuh darah. Tanpa menunggu lama, Raina keluar lagi dari kamar mandi.
"mas, kamu terluka?" Allan yang terkejut mendengar pertanyaan Raina langsung berdiri.
"lu.. luka apa, nggak?" Allan menggelengkan kepalanya dengan tegas, namun sorot matanya yang terlihat gelisah membuat Raina mudah menyadari kebohongan suaminya.
Raina mengambil dua langkah maju, mendekatkan diri kepada Allan, menarik tali jubah mandinya, Allan yang terkejut hanya bisa pasrah.
Sebuah perban menempel di pinggang Allan, Raina menutup mulutnya, dia memekik. Tatapan matanya beralih pada Allan, laki-laki itu menunduk bersiap mendapat cecaran pertanyaan dari sang istri.
"mas, ini kenapa?" suara Raina lirih, perlahan dia menyentuh luka suaminya.
"ini.. kena celurit". jawab Allan asal-asalan.
"kok bisa?"
"kemarin mau di begal, terus aku ngelawan jadinya gini deh, mungkin kalau aku ngga ngelawan ngga akan kaya gini".
"sayang, kenapa ngga cerita?" satu belaian lembut tangan Raina mengusap pipi Allan, pandangan mereka bertemu, entah kenapa Allan merasa bahagia dengan luka ini, karena lukanya Allan bisa melihat betapa sayangnya Raina kepadanya.
"maaf ya rain, aku bikin kamu khawatir, padahal hari ini aku pengen banget bikin kamu bahagia, tapi nyatanya aku bikin kamu sedih lagi".
"bahagia? aku sudah bahagia mas walaupun kamu ngga ngelakuin hal-hal kaya tadi, dengan adanya kamu, Aleta tumbuh dengan baik, bapak dan mama sehat, aku sudah sangat bahagia".
"aku harus bilang apa rain? kamu terlalu baik buat aku yang banyak dosa".
Raina membungkam bibir Allan dengan satu jarinya, lalu dia merebahkan suaminya dia tempat tidur, secara hati-hati Raina membuka perban yang membalut luka Allan, terlihat belasan jahitan yang berbaris rapi disana. Bukan hanya satu atau dua, tapi belasan, begitu panjang dan dalam, hatinya bagai teriris, Allan yang terluka tapi dia yang menangis.
"Rain? kenapa nangis lagi?"
"ini pasti sakit". Raina memasang kembali perban yang tadi dia buka.
__ADS_1
"sakit". Allan meringis, ketika merasakan perutnya sedikit tertekan oleh jemari Raina.
"mas.. maaf".
"ngga apa-apa sayang".
-
Aleta tampak antusias merendam lol surprise yang di belikan papa mamanya di sebuah baskom, Raina duduk di sebelahnya sambil membaca buku, buku yang dia dapat dari perpustakaan pribadi milik suaminya, sedangkan Allan hanya merebahkan badan dengan kepala di pangkuan istrinya.
"mama, lihat ini yang keluar rambutnya pink, jadi Aleta punya pink, biru sama ungu ya?" Aleta berteriak histeris ketika melihat boneka kecil yang berada di dalam gumpalan semen seharga satu kwintal beras itu.
"Aleta suka?" tanya Raina.
"suka, makasih ya pa, makasih ya ma". pelukan mesra di berikan Aleta kepada mamanya, membuat Allan menjadi iri.
"mama aja yang di peluk? itu belinya pakai uang papa lho". goda Allan.
"makasih papa". Aleta memeluk leher Allan dan mencium pipinya.
"yang sini belum". Allan menunjuk sebelah pipinya, Aleta segera mencium tepat di ujung telunjuk papanya.
"ehm.. permisi buk,pak ada yang nyariin bapak di securrity". kata Aini, dia sadar kehadirannya mengganggu kehangatan keluarga kecil majikannya yang sedang bercengkrama.
"siapa mbak?" tanya Raina.
"suruh masuk". perintah Allan.
"iya pak". Aini segera berlalu, Allan beranjak ke ruang tamu, Raina masih menemani anak mereka bermain.
"Aleta, disini dulu ya sayang, mama lihat tamunya papa dulu".
__ADS_1
"iya ma". Dengan sedikit mengendap-endap Raina berjalan ke arah ruang tamu, disana ada beberapa orang berpakaian preman sedang duduk tenang bersama Allan. Mereka tampak serius, meski hanya sedikit bicara namun seolah mereka paham dengan isyarat satu sama lain.
"siapa mereka?" tanya Raina di dalam hati.