Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 44 : Penyelesaian masalah part III


__ADS_3

Allan menengadah menatap langit-langit gudang tempatnya di sekap, sepertinya tidak ada CCTV, lukanya semakin basah, darah semakin banyak merembes.


Carter menutup mata, tidak sanggup melihat kondisi Allan tanpa bisa berbuat apa-apa.


Mereka sadar, ini adalah hukuman bagi mereka berdua atas kesalahannya di masa lalu, bahkan mungkin belum sepadan untuk membayar dosa-dosa yang mereka lakukan.


Rasa lapar mulai datang, lelah, kantuk dan cemas menjadi satu, bayang-bayang wajah orang tercinta menambah beban pikiran, Allan menitikkan airmata, merapal segala doa yang terlintas di kepalanya. Semoga Tuhan melindungi anak dan istrinya.


Harapan hidup mereka hanyalah 1%, bergantung pada keajaiban dan kemurahan hati Tuhan, tak kan ada seorangpun yang tau ke keberadaan mereka, bahkan keluarganya. Rasa sesal menghinggapi relung hati Allan, kenapa dia tidak terbuka pada pak William yang mungkin bisa membantunya.


Rasa nyeri timbul dari luka yang kembali terbuka membuat Allan merasakan sensasi panas dingin di tubuhnya, dia menggigil tanpa mengeluarkan suara karena sebuah lakban menutup mulutnya, peluh mengalir menyusuri setiap bagian wajahnya.


Dengan sisa tenaganya Carter menggeser-geser tubuhnya mendekati pintu, memukulnya dengan kaki agar penjaga mendengarnya.


"kenapa? kalian mau mati sekarang?" tanya penjaga yang masuk ke ruangan penyekapan dengan tatapan penuh emosi.


Carter memberi isyarat bahwa Allan butuh pertolongan, kaus putihnya telah di penuhi darah.


"baj*ngan.. merepotkan saja". laki-laki itu mengambil ponsel di sakunya.


"halo tuan, ini tahanan kita terluka, berdarah-darah, apa yang harus saya lakukan?"


Hening


"baik".


Allan di papah di bawa keluar, sedangkan Carter ditinggalkan disana sendirian. Entah akan di bawa kemana, Allan pura-pura tidur di sepanjang perjalanan, padahal dia terus mengintip, menyimpan memori tentang apa saja yang dia lewati, mulai dari hutan palem, ladang kosong, rumah-rumah penduduk, Savana dan seterusnya, Allan mengingatnya sebaik mungkin.


"ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat yang berjaga di sebuah klinik.


"lihat lukanya".


"bisa di buka dulu ikatannya?" Mereka lupa bahwa Allan masih terikat, hanya mulutnya saja yang di buka.


"apa tidak bisa begitu saja?" tanya orang yang membawa Allan.


"dia harus di baringkan". Dengan berat hati mereka menuruti perintah orang-orang berwajah menakutkan tadi.

__ADS_1


"lukanya terbuka, saya akan mengambil alat dulu di belakang". Kata perawat tadi.


Menyadari adanya hal yang tidak beres, sang perawat mengirim pesan pada rekannya yang berada di kota.


'mel, tolong lapor polisi, di klinik tempat kerjaku ada orang-orang mencurigakan membawa orang terluka yang di ikat, cepat, aku akan berusaha menahan mereka semampuku'


Satu balasan pesan di terima oleh sang perawat, temannya menyanggupi permintaannya.


"berapa lama kamu akan membersihkan luka itu?" Si pria berwajah menyeramkan menekan perawat dengan tatapan tidak sabar.


"sabar tuan, lukanya bisa infeksi, pasien bisa mati, apa anda ingin pasien mati? saya akan berhenti membersihkannya kalau anda ingin dia mati". gertakan gadis bermata bulat itu membuat pria-pria tadi menutup mulut.


Hampir satu jam, luka telah di bersihkan, kembali di jahit dan di beri suntikan anti tetanus, namun sang perawat masih terus melakukan hal yang tidak perlu, untuk mengulur waktu.


Suara keributan di luar klinik membuat gadis itu menelan ludahnya, menggigit bibirnya sendiri karena ketakutan, matanya bergerak kemana-mana, takut bila ada yang mencurigainya.


Dorr Dorr


Dua tembakan terdengar, sang perawat menutup mata, Allan menyadari apa yang di lakukan perawat tadi ketika dua orang polisi masuk ke ruang pemeriksaannya, dan salah satunya adalah kepala polisi yang dikenalnya.


"Allan, syukurlah".


"nanti kita selamatkan dia, setidaknya kamu sudah ketemu". kepala polisi tak henti-hentinya mengucap terimakasih kepada perawat bermata bulat tadi. Kepala polisi menjamin keselamatannya.


Lima orang yang membawa Allan di amankan, dua di antaranya terkena tembakan.


"kamu ingat dimana Carter?" Allan mengangguk.


"kita kesana". Kepala polisi memberi perintah kepada sopir yang mengemudikan mobil yang tadi membawa Allan, mereka memilih memakai mobil itu agar pergerakannya tidak mencurigakan. Allan menceritakan apapun yang dia lihat tadi dalam perjalanan.


"pergi ke bekas gudang korek api di tepi sungai". Sang sopir mengangguk.


30menit perjalanan mereka sampai di tempat dimana Allan di sekap sebelumnya, tapi tidak ada seorangpun disana, hanya sepi sisa puntung rokok yang berserakan di dekat pintu. Carter telah di pindahkan.


"kamu yakin tadi disini?"


"iya aku yakin, mungkin mereka langsung memindahkan Carter saat aku di bawa pergi".

__ADS_1


"cerdik juga mereka, bisa mengantisipasi segala kemungkinan". kepala polisi bernama Moru itu meremas botol minuman kemasan yang ada di tangannya.


"saya sudah bilang pak, mereka bukan orang sembarangan, dan salah satu dari mereka ada di antara kita".


"iya, Edison, dia menghilang bersama kalian tadi malam". Allan menunduk, memikirkan nasib rekannya.


-


Sebulan berlalu, Allan yang mengikuti operasi gabungan belum berhasil menemukan keberadaan Carter, semua orang tampak putus asa, meski kerusuhan tidak terjadi lagi.


"aku yakin, mereka sedang merencanakan sesuatu". kata kepala polisi pada rapat yang di ikuti oleh berbagai pihak.


"Allan, apa yang ingin kamu sampaikan?" Tanya komandan pasukan keamanan distrik Y yang bernama Okky.


"menurut bapak, apa motif mereka melakukan kerusuhan selain perebutan tambang emas?" tanya Allan.


"menggulingkan kepala distrik?" jawab Okky.


"bukan, menggulingkan bupati". jawab Allan tegas.


"bagiamana kamu bisa berfikir demikian?"


"kepala distrik tidak bisa berjalan dan menggunakan kursi roda, tapi kenapa bukan beliau yang di serang pada malam upacara adat itu?" Allan mulai menunjukkan satu persatu puzzle yang selama ini dia kumpulkan.


"benar, kenapa bukan dia yang di serang?". kepala polisi mengangguk setuju.


"tapi kenapa bupati?" Okky menyanggah pendapat Allan.


"karena Bupati menolak keras penyerahan tambang emas pada warga, karena beliau menilai bahwa warga hanya akan menjadi alat bagi pengusaha asing yang ingin menguasai tembang emas disana, menurutnya tambang emas lebih naik di kelola negara karena hasilnya bisa di nikmati bersama". Jawaban Allan bukan tanpa alasan, dia telah melakukan penelitian sebelum terjun langsung ke lapangan, awalnya dia setuju pada para pemberontak yang ingin menguasai tambang karena menilai bahwa keuntungan dari tambang tidak seberapa yang masuk ke warga, tapi setelah melihat adanya kecenderungan kecurangan yang di lakukan oknum-oknum tidak bertanggung jawab, dia berubah pikiran.


"masuk akal, aku setuju dengan logikamu". jawab bapak Moru.


"aku mencurigai kepala distrik yang ada di balik semua ini". kata Allan.


"jangan asal menyimpulkan". sergah bapak Moru.


"saya bukan asal menyimpulkan, saya melihat sendiri ekspresinya yang begitu tenang ketika kerusuhan terjadi".

__ADS_1


"baik, kita akan menyelidiki dia".


"saya akan mengerahkan anak buah saya yang bertugas di sana". jawab Okky. Untuk saat ini memang Allan yang paling mengerti situasi, karena dia sudah mempelajari itu sejak jauh-jauh hari.


__ADS_2