
Sudah hari ke empat ketiadaan Allan di rumah, Raina semakin khawatir, apa yang di kerjakan suaminya di luar sana hingga butuh waktu yang begitu lama.
Jam dinding berputar begitu lambat, Raina hanya mengikuti kemanapun Aleta pergi berharap itu dapat mengalihkan peehatiaanya, Raina tersenyum simpul menatap lekat pada anak gadisnya itu kini telah lebih besar dibanding dulu.
Dengan celana pendek dan kaos oblong oversize pilihannya sendiri Aleta tampak menggemaskan, rambutnya yang panjang, matanya yang besar serta kulitnya yang putih membuatnya menyerupai anak-anak dalam drama Korea. Raina yang sejak awal tidak pernah bertanya kepada Allan maupun Bu Lidya kini merasa penasaran dengan wajah Valerie mamanya Aleta, meski bisa dibilang bahwa Aleta adalah kopian Allan namun paras cantik Aleta pasti juga diturunkan dari mamanya meski hanya beberapa persen.
Perhatian Raina terus terpaku pada layar handphone yang sedari tadi dia genggam, sudah belasan pesan dia kirim untuk Allan, namun jangankan mendapat balasan, terkirim saja tidak, hanya centang satu yang berarti handphone suaminya sedang di luar jangkauan atau kehabisan baterai.
Ekor matanya melirik Aleta yang sedang bermain dengan anak kura-kura yang ada di kolam ikan.
"Aleta, kemarin mama bilang apa?". Raina memberikan peringatan kepada Aleta.
"anak kura-kura ngga boleh di pegang ya?" Jawab Aleta
"boleh sayang, tapi jangan sering-sering nanti mati".
"ahh ..jangan, kura-kuranya jangan mati".
"makanya, di elus aja ya, jangan di angkat-angkat nanti bisa mati sayang". dengan penuh kesabaran Raina memberi pengertian kepada Aleta. Meski hatinya sedang dalam suasana yang tidak baik, sebisa mungkin Raina tetap tersenyum agar energi negatifnya tidak menular.
"mama, Aleta kangen papa".
"mama juga sayang, mama kangen banget sama papa".
"kita telepon papa yuk". Aleta berpindah, kini ia duduk di atas pangkuan Raina.
"ehm.. nomor papa ngga aktif, mungkin papa lagi kerja, semoga hari papa pulang". Mereke berpelukan, Aleta mengalirkan ketenangan ke dalam relung hati Raina.
"Aleta sayang mama rain". Aleta berulang kali menciumi pipi mamanya, Raina hanya tertawa bahagia, seandainya Allan berada di sini hari ini, pasti kebahagiaanya Adan terasa lebih sempurna.
"papa juga sayang sama mama rain". suara itu mengagetkan Raina, Aleta yang sedang bermanja-manja dengan Raina pun akhirnya melonjak turun.
"papa". gadis kecil itu memeluk papanya, sudah 4 hari mereka tidak bertemu, Allan ingkar janji.
"mas?"
"kamu ngga kangen sama aku rain?" Raina masih terpaku, Allan merentangkan salah satu tangannya yang masih bebas, air mata Raina jatuh begitu saja, Allan datang saat rasa rindu sudah mencapai puncaknya.
__ADS_1
"lhoh, kok nangis? sayang lihat, mama nangis". Allan mengadukan Raina pada Aleta.
"mama lucu ya pa, masa papa pulang malah nangis". tawa riang Aleta membuat Raina ikut tertawa.
Mereka melepas rindu hingga beberapa waktu seolah tidak ada hari esok.
-
"aku kangen mas". bisik Raina pada Allan, laki-laki itu tersenyum lebar dari kuping ke kuping saking bahagianya.
"apa yang bikin kamu kangen?"
"kamulah .. apa lagi".
"coba tunjuk, ini?" tanya Allan sambil menunjuk pipinya. Raina mengangguk.
"lalu ini?" Allan menunjuk bibirnya, Raina mengangguk lagi
"lalu ini?" Allan menunjuk itunya, Raina terbelalak, dia mencubit perut Allan dengan gemas, Allan yang sudah mandi dan hanya menggunakan kimono membuat Raina tidak bisa merasakan hangatnya tubuh suaminya.
"dingin rain". Allan bergidik.
Berjam-jam Mereke gunakan untuk bercengkrama ketika Aleta sedang tidur siang, Allan terus memeluk Raina, menciumi setiap bagian wajah istrinya tidak meninggalkan satu incipun.
"rain, taukah kamu? selama aku dalam perjalanan bisnis yang ada di otakku hanya kamu dan Aleta",
"salah sendiri pergi lama-lama". protes Raina.
"aku mencoba menyelesaikan masalahku rain"..
"sekarang sudah selesai?"
"belum sepenuhnya, tapi aku sudah mendapatkan solusi untuk kedepannya". Allan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, kaki panjangnya dia julurkan di atas ranjang, sedangkan tubuhnya merebah pada sandaran. Raina menyisir rambutnya yang masih basah.
"kenapa nomor kamu ngga aktif, hampir aja aku mati karena khawatir". ketus Raina.
"sebesar itu kekhawatiran mu rain?" Raina mengangguk-angguk mantap.
__ADS_1
Allan bangkit, mengambil kaos dari dalam lemari, lalu pergi ke kamar mandi.
"mas? kenapa ganti baju di kamar mandi? biasanya di sini".
"aku kebelet rain".
"oh".
Sudah saat makan malam ketika keduanya turun, Aleta mengunyah roti hingga selai coklat mengotori tangannya.
"ma, hari ini aku mau pergi sama Raina, titip Aleta ya". bisik Allan pada Bu Lidya. Wanita itu tersenyum seolah memahami apa yang ingin di lakukan anaknya.
"iya".
Sedangkan Raina sibuk berbasa-basi kepada anaknya agar ia tidak rewel saat di tinggal nanti, bermacam alasan Raina gunakan untuk bisa lolos dari si kecil.
"mama sama papa boleh pergi, asal nanti pas pulang beliin Aleta lol surprise yang besar". Raina dan Allan bertukar pandang, Allan mengangguk dan Raina menyanggupi permintaan anaknya.
"iya sayang, nanti mama belikan, Raina dirumah sama eyang mama ya, mama sama papa pergi sebentar".
-
Sebuah gedung Restaurant mewah berdiri megah menjulang tinggi, Raina di tuntun Allan untuk memasukinya, Allan telah membooking satu meja untuk mereka berdua.
Restauran bergaya vintage dengan alunan biola memberi kesan yang sangat romantis untuk mereka berdua, dua gelas wine tersaji di atas meja, Allan tau Raina tidak akan mau meminumnya, tapi dia membiarkan itu tetap disana, hanya untuk menambah nilai estetika.
Setelah beberapa saat, datanglah berbagai macam menu makanan yang di sajikan dalam piring-piring lebar namun isinya hanya sebesar kepalan tangan, ada daging, ada pasta, ada juga salad yang di beri semacam keripik kentang. Raina tidak bisa mendeskripsikan makanan apa yang ada di depannya, yang di kenali hanya satu, yaitu spaghetti.
"sayang, kamu suka?" Anggukan Raina mewakili perasaanya.
"ehm..mungkin ini terlambat, mengingat kita menikah karena permintaan mama dan papa, tapi aku tidak ingin melewatkan satu hal penting dalam sebuah hubungan, aku ingin melamar kamu disini". Allan beranjak lalu berlutut di depan Raina yang menatapnya dengan terkesima.
"maukah kamu menghabiskan sisa waktumu bersamaku?" sebuah kotak beludru berwarna biru terbuka memperlihatkan isinya, sebuah cincin bertahta batu mulia mengintip dari dari balik tutupnya.
Air mata Raina tumpah begitu saja, rasa haru menyelimuti kalbunya, dia tidak bisa lagi berkata apa-apa ketika datang seseorang mendekati mereka sambil bermain biola, melantunkan irama music classic yang membuat suasana semakin romantis.
Tenggorokan Raina tercekat, dia hanya bisa mengangguk, Allan dengan sigap memasangkan cincin itu ke jari manis istrinya, di iringi tepukan tangan pengunjung lain yang entah sejak kapan memperhatikan mereka.
__ADS_1