
"sayang, hari ini aku ada check up kandungan". kata Raina, saat dia dan Allan selesai mandi pagi.
"iya, nanti aku anterin ya, sama dokter Fahmi kan?"
"iya, dokter yang lama padahal udah cocok, tapi harus pindah tugas". gerutu Raina.
"sama Cia?"
"iya, nanti sama Carter, Aleta juga ikut, pengen liat babyboy katanya". jawab Raina.
"keren dong, rame".
"iya, nanti pulangnya kita makan malam bareng sekalian".
"oke". jawab Allan singkat, sembari memasang jam tangan di pergelangan kirinya.
_
"rain, sini". Valencia menepuk kursi di sebelahnya. "mana Allan?"
"ngga tau, di telfon ngga di angkat".
"Carter juga ngga ikut, katanya ada meeting dadakan sama kolega dari Dubai". Kedua wanita itu mencebik.
"ngga apa-apa ya sayang, kamu anak mama, biarin papa jahat, nanti kalo udah gede kamu bales sendiri ya". kata Valencia. Raina tergelak, itu juga yang ada di pikirannya saat ini.
"anak cantik mana rain? katanya ikut?"
"ngga jadi, Aleta kakinya sakit, tadi jatuh di sekolah, gara-gara minta sekolah minta pake rok baru yang masih kepanjangan". Raina tersenyum, meski di hatinya terasa perih.
"tapi ngga apa-apa kan?"
"it's okay, cuma memar lututnya". kata Raina lagi.
Dua wanita itu terus mengobrol sambil menunggu giliran periksa, perutnya yang sudah membesar membuat mereka mudah lelah, Raina terus menerus mengipasi dirinya dengan kipas mini yang dia bawa kemana-mana, sedangkan Valencia tak bisa berhenti mengunyah makanan.
-
Pukul 19.00 Allan tiba di klinik tempat istrinya periksa, dia melihat Carter sedang bersandar di mobil mewahnya.
__ADS_1
"halo bro". sapa Allan.
"kamu juga disini?" Carter menggaruk rambutnya yang tidak gatal.
"iya, apa mereka masih di dalam?"
"mereka sudah pergi 30 menit yang lalu, sepertinya malam ini akan berat untuk kita". Carter tergelak, merasa memiliki teman seperjuangan.
"shit.. aku terlambat, padahal aku sudah janji". kata Allan sambil bertolak pinggang.
"aku ada meeting sama client, kamu sendiri apa yang membuatmu terlambat?" tanya Carter.
"panjang ceritanya, sekretaris baruku salah membawa berkas saat meeting di luar, jadi dia harus mengambil berkasnya lagi, memakan waktu lagi, dan bodohnya, handphone ku kehabisan baterai tapi aku tidak menyadarinya". Allan mengusap wajahnya dengan kasar, terlihat jelas bahwa pria dengan usia matang itu tengah gusar.
"sepertinya apa yang akan kamu hadapi lebih berat dari pada aku bro, baiklah kita pulang segera, sebelum semuanya lebih rumit". kata Carter sambil membuka pintu mobil.
"iya".
-
"ma, Raina mana?" tanya Allan pada Bu Lidya yang sedang menidurkan Aleta di kamarnya.
"Allan telat, pas Allan datang, Raina udah pergi katanya".
"cari sampai dapat, kalau belum ketemu jangan pulang". hardik Bu Lidya.
Kali ini kesabaran Bu Lidya benar-benar telah habis, anak lelakinya sama sekali tidak bisa menjaga istrinya, sejak menikah hingga detik ini Raina selalu menjadi korban atas tindakan Allan.
Allan memastikan pada Carter tentang keberadaan Valencia, dan ternyata pria itu juga sama bingungnya dengan dirinya, Valencia juga pergi entah kemana, handphone dia wanita itu juga sengaja di matikan.
Setelah puas menyantap makan malamnya, yang berupa satu piring gado-gado, satu piring somay dan 5 tusuk telur gulung, Raina bangkit sambil memegang perutnya yang terasa ingin meledak, Valencia tertawa terbahak-bahak, namun sedetik kemudian dia menutup mulutnya, lalu memuntahkan isi perutnya di kamar mandi.
Bukan sakit atau apa, Valencia hanya kekenyangan, perutnya tidak mampu menampung 2 cup Boba, 1 mangkuk gulai sapi, 10 tusuk sate ayam, dan gorengan yang tak terhitung jumlahnya, pokoknya banyak.
Raina mengulurkan minyak angin dan tissue kepada sahabatnya itu, mereka tertawa bersama setelahnya. Cia sangat santai menghadapi perubahan hormonnya.
Kedua wanita itu memutuskan untuk pulang, setelah melirik jam yang ada di pergelangan masing-masing, pukul 09.00 malam, mungkin sudah cukup untuk memberi pelajaran suaminya malam ini.
-
__ADS_1
Bu Lidya menunggu di depan rumah dengan khawatir, Raina pergi tanpa bodyguard, hanya dengan pak jaya, lalu dia ikut mobil Valencia, pak jaya pulang sendiri, tidak ada yang tau keberadaan Raina saat itu. Sedangkan Valencia, dia di antar oleh sopir sekaligus bodyguard nya, entah bagaimana caranya dia bisa membuat bodyguard itu tutup mulut dan tidak mengangkat telepon dari Carter, semua orang kebingungan, ketika dua wanita hamil tua itu bersenang-senang.
"Raina, kamu dari mana saja". ucap Bu Lidya, wanita itu tergopoh-gopoh setengah berlari menghampiri Raina.
"dari periksa ma, sengaja ngerjain mas Allan, abisnya, dia ngga pernah ngeluangin waktu buat anaknya ma, ini masih di perut aja ngga di urusin, nanti kalau udah keluar tambah di cuekin bisa-bisa". gerutu Raina.
"iya, Allan memang keterlaluan rain, mama setuju dengan kamu, ayo masuk, di sini dingin". Bu Lidya memapah Raina, mereka berjalan memasuki rumah.
Tak berselang lama, Allan masuk ke kamar setengah berlari, dia segera memeluk istrinya yang terlihat mengerucutkan bibirnya.
"sayang, maaf". kata Allan.
"Hmm".
"dedek, jangan benci papa ya, maaf, papa bikin dedek sama mama sedih terus". Allan berjongkok, memilih meminta maaf pada perut buncit istrinya.
"hish, aku ngga nanggung ya mas nanti kalau dia lahir dia lebih sayang sama aku, kan kamu ngga pernah perhatian sama dia, udah waktu itu ngilang 4 bulan, sekarang udah di rumah masih sibuk terus". cerocos Raina tanpa sela.
"maaf rain, tadi benar-benar kacau, Kimmy salah bawa berkas, jadi meeting di luar harus di tunda nunggu dia ambil berkas ke kantor lagi".
"Ckk.. ". Raina berdecak. "gimana bisa sih, ngga profesional banget".
"dia masih belajar rain, aku maklum". jawaban Allan membuat Raina kembali merasa kesal, karena suaminya membela si sekertaris.
"bela aja trus, jangan-jangan mas Allan naksir sama dia, dulu kalau sama Franda aja apa-apa dikit marah, sekarang sama dia bisa ada kata maklum".
"dia masih baru, jadi ini pengecualian rain, dulu waktu Franda kan aku ngga tau dia pas masih baru, tau-tau dia udah jadi sekertaris papa".
"pengecualian karena baru apa karena dia cantik?"
"rain.. plus". Allan menatap Raina dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"udah ah, aku mau tidur". Raina segera masuk ke dalam selimut, membelakangi Allan, membatasi diri mereka dengan guling keramat yang dulu sering dia gunakan sebagai benteng.
"aku menyesal rain, lain kali aku akan mengantar kamu periksa, aku janji". Allan menggoyang tubuh Raina, wanita itu bergeming.
"rain, ayolah, jangan marah terus".
hening.
__ADS_1
Raina telah jatuh ke alam mimpi.