
Allan kembali ke ruangannya setelah meeting selama Berjam-jam, Raina tertidur di sofa sambil memegang toples makanan.
"hish, dasar bumil". kata Allan, dia membelai wajah Raina lalu mengecup dahinya dengan lembut. Kimmy yang berada di luar ruangan hanya menahan nafas saat melihat adegan romantis itu, seketika otaknya bekerja, satu persatu rencana tersusun rapi dengan sendirinya.
"ehhmm... ". Raina mengerjap, matanya menangkap sosok sang suami yang kini telah ada di hadapannya.
"lhoh, udah selesai mas?"
"udah sayang, kamu capek? maaf ya meetingnya lama, ayo kita pulang". Allan Segera mengambil jasnya yang tersampir di kursi kebesarannya.
"iya".
Mereka berdua keluar tanpa memperdulikan Kimmy, Allan telah menyuruhnya pulang tadi ketika kembali dari ruang meeting.
-
Sebulan berlalu, Raina sedang berdiri membungkuk menahan kontraksi yang semakin menjalar ke punggung dan kakinya, sesekali dia menghela nafas, sudah sejak subuh tadi dia berada di ruang observasi karena pembukaannya belum juga bertambah sejak semalam.
"sayang, keluar yukk, papa pengen lihat kamu". kata Allan sambil mengelus perut Raina.
Wanita itu hanya meringis, sekujur tubuhnya terasa remuk, tidak ada satu bagian pun yang tidak terasa sakit.
Bu Lidya membimbing Raina untuk mengucapkan kalimat istighfar, sambil sesekali mengusap punggung Raina.
"rain, kamu udah mau lahiran?" tanya Valencia yang baru saja datang, perutnya yang sama besarnya dengan Raina masih belum menunjukkan tanda-tanda dia akan melahirkan.
Raina mengangguk, bibirnya kelu, dia kehabisan energi bahkan hanya untuk menjawab pertanyaan Valencia.
"nih, aku bawan Gymball, kamu praktekan yang di kelas kehamilan kemarin". kata Valencia, di ikuti dengan seorang bodyguard yang menyerahkan benda bulat itu kepada Raina.
Dengan menahan rasa sakit yang semakin meningkat levelnya, Raina mencoba menggunakan Gymball sesuai dengan apa yang dia pelajari di kelas kehamilan.
"harusnya aku yang lahiran hari ini, tapi malah kamu duluan yang kontraksi". kata Cia.
"sepertinya Raina salah hitungan, apa lagi haidnya tidak teratur". kata Bu Lidya.
"selamat sore". kata seorang dokter yang baru sjaa masuk ke ruangan Raina. "saya akan mengecek pembukaan Bu Raina, kalau memang belum bertambah, mungkin di butuhkan induksi".
Semua orang keluar ruangan, termasuk Allan.
Beberapa saat kemudian dokter itu keluar dan mengabarkan bahwa pembukaan Raina sangat lambat dan setelah melihat kondisi Raina, dokter memutuskan untuk melakukan prosedur induksi.
-
Tiga jam berlalu lambat, pembukaan Raina yang sudah lengkap membuat semua orang sedikit lega, tandanya Raina hanya perlu satu langkah lagi untuk menghadirkan jagoan kecilnya.
__ADS_1
Allan, Bu Lidya dan Valencia terus memanjatkan doa di luar ruangan bersalin karena memang kebijakan rumah sakit yang melarang pasien di temani saat melahirkan.
Pak William yang datang belakangan terlihat pucat, keringat mengalir di pelipisnya, raganya yang tak lagi muda membuatnya cepat lelah meski hanya berjalan menaiki beberapa anak tangga menuju ruang bersalin Raina.
"bagaimana?" tanya pak William.
"masih menunggu, semoga cucu kecil kita cepat lahir ke dunia". jawab Bu Lidya.
Allan yang sedari tadi mondar-mandir sambil menggigit bibir bawahnya merasakan tangan dan kakinya lemas tak bertulang, sesekali dia meremas rambutnya sendiri karena frustasi.
Owee.. oweee oweee..
Terdengar tangisan bayi dari dalam ruangan tempat Raina berjuang. Tak lama kemudian seorang perawat keluar dan meminta Allan masuk ke dalam.
"suami ibu Raina Prasetya".
"iya saya sus".
"silahkan masuk pak". Allan segera mengekor di belakang suster tadi. sedangkan Bu Lidya berpelukan dengan Valencia, dua wanita itu menangis haru. Pak William tak henti-hentinya mengucap syukur.
-
Raina dan bayi laki-lakinya telah di pindahkan ke ruang perawatan, bayi kecil dengan rambut lebat itu terlihat begitu tampan meski umurnya baru beberapa jam.
"Raina mau lihat adik bayi?" tanya Allan. Laki-laki itu segera mendudukkan Aleta di ranjang Raina, Raina memeluk anak perempuannya lalu mencium puncak kepala anaknya itu.
"mama, adik bayi laki-laki apa perempuan?"
"laki-laki sayang, Aleta suka?"
"suka mama, adik bayi namanya siapa?" tanya si kakak baru.
"nama? siapa mas namanya?". Allan menggaruk kepalanya mendengar pertanyaan Raina.
"aku kira kamu sudah menyiapkan nama untuk dia rain".
"Albani Julian Sebastian". kata Bu Lidya.
"artinya?" tanya Allan.
"Allan kembali kesini di bulan Juli untuk keluarga Sebastian". jawab Bu Lidya enteng.
Semua orang menahan tawa, kecuali Allan.
"kenapa harus itu namanya?" protesnya.
__ADS_1
"karena mama ingin kamu mengenang setiap perbuatan buruknya di masa lalu dengan nama mereka, jadi kamu akan berfikir berulang kali kalau mau melakukan tindakan bodoh lagi".
"aku setuju, fix namanya Albani Julian Sebastian". jawab Raina, dengan senyum lebar penuh kebahagiaan.
"nama yang indah, dengan makna yang dalam". kata Cia. Pak William hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah istrinya.
"oke, Ali kamu akan menjadi pengingat papa kalau papa akan melakukan hal bodoh lagi". kata Allan.
"Ali, aku suka panggilannya". seru Raina.
"Ali dan Aleta". kata Aleta sambil menunjuk dada adiknya lalu beralih ke dadanya sendiri.
Semua orang bahagia, terutama Allan, dia tak hentinya memuji Ali karena dia yakin ketampanan anaknya menurun dari dirinya.
-
7 hari pasca kelahiran Ali, keluarga besar Sebastian berkumpul untuk melakukan prosesi potong rambut sekaligus aqiqah bagi Ali. Tamu undangan yang sebagian besar ibu-ibu pengajian kompleks dan anak yatim yang dulu juga di undang ke ulang tahun Aleta telah duduk dengan rapi. Valencia ikut duduk di antara mereka. Setelah prosesi potong rambut dan pengajian selesai, tiba waktunya menikmati jamuan yang di hidangkan tuan rumah. Carter terlihat menggendong Ali dalam pelukannya.
Valencia berjalan mendekati Carter lalu berbisik.
"sayang, ketubanku sepertinya pecah". katanya sambil menunjukkan gamis putihnya yang basah dan ada bercak pink di belakangnya.
Carter segera menyerahkan Ali pada Allan lalu memapah istrinya ke dalam mobil setelah berpamitan.
Raina dan Allan sangat mengkhawatirkan Valencia, terlebih dia dan Carter tidak memiliki sanak saudara di Situbondo.
"Rain, mama dan papa akan menemani Valencia lahiran, kamu di rumah sama Allan ngga apa-apa kan?" kata Bu Lidya, seolah mengetahui keresahan anaknya.
"Raina juga lagi mikirin Cia ma, apa lagi Raina ngga bisa menemani Cia".
"ya sudah mama berangkat ya?"
"iya ma, hati-hati".
Setelah keberangkatan pak William dan Bu Lidya, Raina meminta Allan untuk membeli susu formula karena asi Raina belum bisa membuat anaknya itu kenyang.
Tepat ketika Allan keluar membeli susu, seorang perempuan datang dengan membawa Sebuah totebag bertuliskan merk pakaian ternama masuk ke rumah Allan.
"selamat sore Bu, mau cari siapa ya?" tanya Aini.
"saya mau menjenguk Bu Raina".
"oh, baik saya antar ke atas Bu, Bu Raina di atas".
"terima kasih".
__ADS_1