Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 45 : Penyelesaian masalah part IV


__ADS_3

Sebanyak 14 orang menyisir setiap daerah yang di curigai sebagai tempat persembunyian para pemberontak sekaligus tempat penyekapan Carter.


Okky memimpin jalan, Allan tepat di belakangnya. Kali ini mereka menyusuri aliran sungai, mengendap-endap, merayap, jalan jongkok dan sebagainya mereka lakukan demi menemukan rekan mereka, Carter.


Mentari mulai terasa terik, panasnya membakar kulit, mereka beristirahat di tepi sungai, menyantap ransum yang mereka bawa di carrier masing-masing, lalu beberapa diantaranya sholat berjamaah meski dengan posisi duduk.


Tanpa berlama-lama, penyisiran kembali di lakukan, belum ada tanda-tanda manusia, semua orang merasa putus asa, namun sejurus kemudian, Allan menemukan sebuah bungkus kemasan mie instan yang terlihat masih baru, belum berlumut dan belum pudar warnanya.


"pak, ada bungkus mie". teriak Allan yang mulai tertinggal di belakang karena sibuk mencari petunjuk di air.


"coba lihat". kata Okky. lelaki itu mengambil alih plastik yang ada di tangan Allan, merabanya, merasai benda tersebut.


"ini masih baru". Kata Allan penuh keyakinan.


"Cari petunjuk lain, kita sudah dekat dengan mereka". Kata Okky pada anggota team dengan nada tegas meski suaranya sengaja dia pelankan.


Mereka kembali berjalan, sebuah gundukan tanah yang terlihat asing menggunung di tepi sungai, rerumputannya terlihat masih baru, bahkan ada beberapa yang mati.


Okky mengayunkan tangannya kebawah, tanda bahwa mereka harus merunduk diantara bebatuan besar, setelah mengecek senjata dan perlengkapannya, mereka kembali maju.


Gundukan tanah itu dibuat setinggi 2-3meter, dengan diameter kurang lebih 5 meter, terletak di bawah pohon-pohon beringin berukuran raksasa. Jika di lihat dari atas tidak akan terlihat apa-apa karena tertutup dahan di pohon beringin.


Team di bagi menjadi dua, mereka berjalan mengintari gundukan tersebut, dari timur dan barat, Allan memimpin salah satu kelompok dan yang satunya di pimpin Okky.

__ADS_1


Jarak yang mereka ambil cukup jauh, namun masih mudah untuk melihat apa sebenarnya gundukan tersebut, dengan berjalan mengintarinya Allan menemukan sebuah celah yang terlihat seperti sebuah pintu, rumput di bagian celahnya yang kering menguatkan dugaan Allan bahwa itu adalah pintu masuk ke dalam gundukan.


Perasaannya mengatakan bahwa disanalah Carter di sekap, entah masih hidup atau mati, yang pasti dia harus menemukan temannya itu.


"kita maju pelan-pelan, kamu, kamu dan kamu ambil posisi di kanan celah itu, sedangkan sisanya ikut aku ke bagian kiri". Allan memberi perintah kepada anggota tentara yang kini ada di bawah komandonya, bagaimanapun Allan adalah mantan anggota pasukan khusus yang lumayan berprestasi di masanya.


Sesuai arahan Allan, mereka bergerak dengan sangat hati-hati, sedangkan tim yang di pimpin Okky memeriksa keadaan sekitar.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan disana, Allan mencoba melempar batu ke dalam celah gundukan.


Masih senyap, tidak ada reaksi. Allan mengambil satu langkah maju, menajamkan setiap Indranya, mengantisipasi datangnya serangan dari segala penjuru. Dengan ranting panjang yang dia temukan di dekat situ, Allan menyibak untaian tanaman rambat yang mulai mengering.


Setelah memastikan bahwa dugaan Allan benar, mereka segera menjauh, lalu menyusun siasat untuk masuk tanpa resiko. Allan hanya diam, mendengar satu persatu ide yang teman-temannya utarakan, namun tak ada satupun yang bisa mereka gunakan.


"kita persiapkan jaket anti peluru, helm, kacamata, keselamatan kita adalah yang utama, jangan menambah korban baru, kita harus segera masuk dan memastikannya". kata Allan dengan tegas.


Mereka beradu pandang lalu mengangguk mantap, Allan mencium bau tak sedap yang menembus maskernya, aroma kotoran manusia bercampur dengan amisnya darah memenuhi ruangan itu, cahaya yang masuk hanya dari celah yang tadi mereka lewati, selebihnya gelap dan pengap.


Uhukk uhukk


Terdengar suara batuk seorang laki-laki, Allan segera mempertajam instingnya, suara itu ada di belakangnya, di dalam ruangan tanpa penerangan itu Allan dengan mantap menyalakan headlamp-nya.


"Carter". gumam Allan.

__ADS_1


"Edison".gumam Okky.


Setelah di pastikan tidak ada orang lain selain mereka berdua dan maka Okky segera kluar, meminta bantuan anak buahnya yang menunggu dengan cemas.


Allan melihat Carter yang di ikat dengan kabel ties, tangannya mulai terluka dan mengeluarkan darah, jenggot dan berewok nya tumbuh subur menutupi sebagian wajahnya. Jika tidak dilihat dengan seksama maka siapapun tidak akan mengenali Carter dengan penampilan seperti ini.


Sedangkan Edison, dia telah meninggal dalam keadaan yang mengenaskan, tubuhnya bengkak menandakan proses pembusukan telah terjadi. Selain mereka berdua ada lagi jasad seorang laki-laki, entah siapa.


Dengan sekali gerakan Allan mengangkat Carter uuntuk membawanya keluar, Allan merasa iba kepada rekannya itu, Carter yang tinggi badannya melebihi Allan, tubuhnya lebih berisi dengan wajah garang yang menawan kini tidak ada lagi, yang tersisa hanya tubuh kurus kering dengan tatapan mata sayu, bibirnya kering, pakaian yang dikenakannya masih sama dengan yang terakhir kali Allan lihat, namun pakaian branded itu kini telah menjadi compang camping, bekas penganiayaan dan bau kotorannya sendiri.


Berjam-jam mereka membawa Carter dengan tandu, hingga sampailah di pinggiran kota, Okky meminta bantuan untuk membawa Carter ke rumah sakit.


Begitu banyak luka yang ada di tubuhnya, berat badannya hilang hampir setengahnya, Carter seperti orang linglung, tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, hanya tatapan nanar yang terpancar dari matanya, menatap sekeliling dengan curiga, lalu bergidik ketakutan sambil memeluk dirinya sendiri.


Tiga bulan di sekap tanpa cahaya matahari membuat tubuhnya kaku, apalagi hanya dengan satu kaki dia tidak bisa bergerak dengan leluasa.


Semua orang menyadari keadaan Carter, hanya Allan yang bisa masuk ke kamar perawatannya, mencoba mengembalikan ingatannya.


"ayolah man.. kita harus kuat, ada anak istri yang menunggu kita di rumah". kata Allan putus asa, Carter belum membaik meski telah 2 hari di rawat intensif.


"kamu ingat istrimu, Valencia? dia sedang hamil sekarang, pasti istrimu menunggumu". Allan tidak berani melihat wajah Carter, dia menunduk menatap ubin, perlahan air matanya menetes.


"Valencia? Allan, aku ingin bertemu kepala polisi". karena terkejut Allan hampir terjerembab, matanya berbinar-binar, Tuhan menolongnya sekali lagi, menunjukkan keajaiban yang sering di ragukan oleh Allan.

__ADS_1


"kau sudah ingat?" tanya Allan, Carter mengangguk cepat.


"aku akan mencoba meminta orang menghubunginya". Allan segera bangkit keluar dan mencari keberadaan anggota polisi untuk memintanya menghubungi bapak Moru sesuai permintaan Carter.


__ADS_2