
"jadi bagaimana anak saya dok?" tanya Allan dengan tidak sabar setelah masuk ke ruang konsultasi dokter anak yang menangani Aleta tempo hari.
"kita lakukan test genetik, nanti saya buatkan rujukannya, kita akan segera tau hasilnya. Saya paham pak, anda sebagai orang tua pasti sangat khawatir, namun ada beberapa faktor lain juga yang bisa mempengaruhi perkembangan motorik anak, daripada kita menduga-duga lebih baik kita lakukan tes saja". Dokter Hanafi menepuk pundak Allan yang terlihat gusar.
"baik dok, saya serahkan semuanya kepada anda, jika perlu kita kirim anak saya ke Singapura". Wajah Allan terlihat kusut, dokter Hanafi berusaha meyakinkannya bahwa Aleta akan baik-baik saja.
"jangan terlalu buru-buru, bahkan kita belum melakukan test". Allan hanya mengangguk, dokter Hanafi membimbingnya keluar.
-
Allan masih memeluk Aleta sambil menahan air matanya agar tidak tumpah.
"papa". Aleta melepas pelukan papanya, lalu melihat ke arah Allan yang menatapnya dengan nanar.
"papa, kenapa papa sedih?"
"papa nggak sedih sayang, papa cuma lagi kangen aja sama Aleta".
"tapi kan Aleta sama papa terus". bantah Aleta dengan senyum kecil yang membuat hati Allan sedikit lega
"papa kangen terus sama Aleta".
"pasti papa sedih karena abis ketemu om dokter? Aleta ngga sakit kok pa". Allan kembali memeluk anaknya, kini air matanya tidak bisa lagi di bendung, tumpah menganak sungai.
"sayang, Aleta ngga sakit kok, Aleta kan anak sehat, anak mama Rain pasti kuat". Bisik Raina yang sudah ikut memeluk Aleta.
"papa sayang sama Aleta, kita pulang yukk, papa lapar". Kata Allan sambil mengangkat Aleta untuk membawanya pulang. Tangan kecilnya memeluk leher Allan sedangkan matanya terus menatap Raina yang ada di belakangnya, senyumnya mengembang, Raina mencoba menyembunyikan kekalutannya dengan terus bercanda bersama mereka.
_
Beberapa hari telah berlalu, hasil test genetik Aleta telah keluar, seorang dokter bernama Lusi duduk di kursi yang bersebrangan dengan Allan dan Raina, sedangkan Aleta di ruang perawatan bersama pak William dan Bu Lidya yang sudah datang setelah mendapat kabar dari Raina.
"Selamat pagi, dengan wali dari Aleta Gianni?"
"iya, saya papanya dok".
"jadi, bagaimana keadaanya dok, apakah anak saya memang mengidap Spinocerebellar ataksia?" tanya Raina yang sudah tidak sabar mendengar hasilnya, meski kini kakinya gemetar hebat.
"ehm, dari hasil tes genetik dsn MRI ngga ada tanda penyakit tersebut, namun yang saya herankan adalah adanya zat adiktif yang ada di dalam darah anak bapak, apa dia mengkonsumi sejenis obat tidur atau penenang selama ini?" tanya dokter Lusi dengan tatapan penuh selidik.
"ya, beberapa waktu lalu memang pengasuhnya memberi dia obat tidur tanpa kami sadari, tapi bukankah obat itu akan hilang setelah 5-6 hari dok?" tanya Raina.
"di sini menunjukkan bahwa kandungan zat tersebut masih ada dalam darahnya, itu berarti dia masih mengkonsumsi zat tersebut". dokter Lusi menunjuk-nunjuk kertas hasil tes Aleta yang ada di depannya.
"saya sendiri yang menyiapkan makanannya dok, setiap hari jajan yang dia makan juga saya makan, apa mungkin susunya dok?"
"bisa minta sample susunya?"
__ADS_1
"nanti saya suruh orang antar kesini dok". jawab Allan.
Tangan mereka bertaut, saling meremas satu sama lain, bukan karena mengambil kesempatan dalam kesempitan, namun karena mereka sama-sama sedang saling menguatkan.
"lalu apa yang harus kita lakukan dok?"
"untuk sementara saya resepkan obat saja agar perkembangan motoriknya yang sempat terganggu bisa kembali normal".
"baik dok, terima kasih".
Setelah mendengar penjelasan dokter Lusi, mereka pulang dengan perasaan lega, setidaknya Aleta tidak terkena penyakit itu.
Pak William terus memangku Aleta, cucu satu-satunya yang sangat dia sayangi.
"Aleta, mau beli boneka itu?" Pak William menunjuk deretan boneka di etalase toko.
"mau, Aleta mau boneka Smurfs". jawabnya antuasias.
"Smurfs? apa itu?"
"itu, yang mukanya biru".
"oke, pak minggir dulu, kita kesana". Titah pak William pada sopirnya.
"sayang, kamu mau makan apa?" Bu Lidya juga menawarkan sesuatu yang mungkin bisa membuat Aleta senang.
"oke, kita beli boneka dulu, terus kita beli eskrim". jawab pak William lagi, pria dengan usia hampir ¾abad itu terlihat bugar, beliau bahagia melihat anak-anaknya mampu membangun rumah tangga yang begitu harmonis hingga merubah atmosfir dalam rumah megahnya.
"tapi, papa sama Mama kan di mobil satunya".
"biarin mama sama papa pulang duluan, Aleta sama eyang mama aja ya".
"iya".
-
"sayang kamu ngga ngantuk?" tanya Allan pada Aleta yang masih sibuk membereskan mainannya yang berceceran di lantai.
"besok kan Aleta libur, Aleta mau bobo malem-malem aja".
"kenapa?"
"Aleta mau liat Frozen 2". tangan kecilnya membentuk lambang peace dengan dua jarinya.
"ah, oke, papa siapin ya".
Tak sampai lima menit, film Frozen muncul di tv, mereka bertiga berjejer di ranjang milik Aleta, bahkan si pria dewasa mantan tentara itu juga terlihat menikmati alur cerita meski mulutnya tersumpal bulatan coklat milik anaknya.
__ADS_1
"sayang, coklatnya enak, kamu mau?" Allan menawari Raina.
"nggak ah mas, aku ngga suka yang terlalu manis".
"tapi sama aku suka kan?" Allan mengedipkan sebelah matanya, Raina hanya tersenyum geli.
"ini coklat kamu yang beli rain?"
"eehhm, dari Monica kalau ngga salah". jawab Raina cuek karena terlalu menikmati filmnya.
"oh".
"kenapa cuma oh?" Raina melirik Allan.
"ya mau gimana lagi?"
"ayo pindah ke kamar kita rain, biar Aleta sama mama". Allan mematikan tv setelah Aleta terlelap.
"mau ngapain? aku mau di sini aja".
"kamu marah?"
"aku? marah kenapa?"
"karena Monica". Allan mencoba menebak ekspresi Raina.
"nggak lah". Raina membalikkan badan, membelakangi Allan.
"ya sudah, aku pindah kamar ya, kasian Aleta kalau sempit". Allan beranjak setelah mencium kening Aleta.
Raina diam saja, seolah tidak perduli, entah kenapa dia menjadi sensitif setelah mengingat nama Monica.
Allan berjalan mengintari ranjang, menuju sisi yang di tempati oleh Raina.
"sayang". Allan berlutut, mempertemukan pandangan mereka.
"i love you". Allan mencium pipi Raina. seulas senyum terbit dari bibir tipisnya, entah bagaimana kemarahannya seolah sirna begitu saja.
"i love you too".
Setelah mendengar balasan cinta dari Raina, Allan segera bangkit, namun dia berhenti sejenak, tubuhnya limbung, Allan pingsan.
"sayang, bercandanya ngga lucu ah". protes Raina.
hening.
"sayang". Raina turun dari ranjang, melihat Allan yang masih terkapar di lantai.
__ADS_1
"mas, mas Allan, jangan bercanda". Raina mulai panik, dirasakan detak jantung Allan yang semakin cepat, dia menyadari bahwa Allan sedang tidak baik-baik saja, Dengan setengah berlari Raina susah payah untuk sampai di depan pintu kamar pak William, kakinya yang lemas membuat langkahnya terseok-seok.