
Hampir 3 bulan berlalu begitu cepat, terlebih untuk Valencia dan Carter yang hingga kini belum mendapat donor untuk Alex.
Tubuh Alex yang semakin kurus menyisakan perutnya yang buncit Karen pembengkakan hati dan limpa membuat Carter dan Cia selalu menangis ketakukan setiap anaknya memejamkan mata, ketakutan itu bukan tanpa alasan, semua terjadi karena Carter dan Cia begitu takut bahwa anaknya tidak akan bangun lagi.
Meski Alex rutin menjalani transfusi darah namun itu hanya untuk mengulur waktu, jenis thalasemia yang di deritanya adalah jenis yang lumayan parah hingga satu-satunya cara agar bayi itu bisa bertahan hidup adalah mendapat donor sumsum tulang belakang.
Hampir setiap hari Cia selalu merasa gelisah setiap melihat kondisi putranya yang semakin menurun, bahkan beberapa kali Alex kecil harus dibawa ke ruang ICU.
"apa yang harus aku lakukan rain?" lirih Cia pada Raina.
"aku dan mas Allan telah mengupayakan semampu kami Cia, seandainya salah satu dari kami cocok untuk menjadi pendonor".
"aku menyesal rain, aku menyesal karena aku tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk Alex". air mata Cia terus mengalir hingga wajah cantiknya kini berubah menjadi sembab dengan kantung mata yang menghitam serta rambut kusut berantakan, bahkan bobot tubuhnya hilang hampir sepertiga nya.
"bukan salahmu Cia, tidak ada satupun ibu yang ingin anaknya menderita, mintalah pada Tuhan untuk memberikan keajaiban, semoga ada yang cocok dengan Alex". Raina ikut menangis, membayangkan Alex yang hanya terbaring lemah di rumah sakit, sedangkan seharusnya dia telah tumbuh menjadi anak yang aktif dan sedang belajar merangkak seperti Ali.
"rain, bagaimana kabar Aleta?"
"dia baik-baik saja Cia, tadinya dia ingin ikut tapi karena Ali dirumah dia tidak jadi ikut".
"aku kangen Aleta". Cia menerawang ke luar jendela, tatapan matanya kosong meski air mata tak hentinya mengalir dari sana.
"rain.. "
__ADS_1
"ya .. "
"aku ingin mengatakan sesuatu". Cia menatap dalam kepada Raina.
"katakan saja".
"berjanjilah, apapun yang aku katakan tidak akan merubah apapun, kamu akan tetap menjadi temanku". Cia menunduk, meremas jari-jari tangannya sendiri, seolah dia sedang mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan sesuatu pada Raina.
"aku berjanji".
"rain, aku minta maaf jika apa yang akan aku katakan setelah ini menyakiti hatimu, tapi percayalah, aku tulus menyayangi Aleta, aku tulus menjadi temanmu, tidak ada tujuan lain aku masuk ke dalam keluarga kalian, bahkan aku tidak menyangka bahwa kita bisa berteman hingga sedekat ini, aku bersyukur, mama dan pak William mampu menerimaku menjadi bagian dari keluarganya seperti mereka menerimamu, aku berterimakasih karena kebaikan keluarga kalian, tapi ..". Valencia menghela nafasnya, memanggil kembali sisa keberaniannya.
"ada apa?"
"apa maksudmu Cia?" Raina menatap intens pada sahabatnya, mencoba mencari arti dari setiap kalimat yang di lontarkan oleh Valencia.
"akulah yang menjadi penyebab semua kekacauan ini, aku terlalu egois dan tidak bisa menyelesaikan masalahku dengan baik, aku minta maaf rain, karena dulu aku meninggalkan Aleta di rumah pak William hingga membuat Allan kehilangan cahaya hidupnya, aku telah menghancurkan hidup Allan, aku menyebabkan Allan terlibat dalam penyelundupan senjata karena rasa dendamnya pada kesatuan yang dulu sangat dia bela".
"Cia.. jadi, kamu adalah ... ?" Raina menutup mulutnya dengan kedua tangannya karena hampir saja dia berteriak karena terkejut.
"ya rain, aku adalah ibu kandung Aleta, aku melarikan diri setelah meninggalkan Aleta di depan rumah pak William begitu saja, aku pergi ke Bali hingga akhirnya aku bertemu Carter, dengan segala tipu daya aku meminta Carter membiayai operasi plastik untukku di Korea, aku ingin mengubah seluruh wajahku hingga tidak ada lagi yang mengenaliku". Cia terlihat begitu menyesal, setiap kata yang dia ucapkan tak ada satupun yang tidak di iringi oleh lelehan air mata.
"tiga tahun aku mengenal Carter akhirnya dia tau siapa aku, dan yang lebih mengejutkan adalah fakta bahwa dia berteman dengan Allan. awalnya dia sangat marah karena mengira aku hanya memanfaatkan uangnya untuk belas dendam kepada Allan, padahal sebenarnya aku sangat mencintainya, hingga dia meminta aku menikah dengannya untuk membuktikan bahwa aku tidak main-main dengannya". lanjutnya.
__ADS_1
"aku tidak tau harus berkata apa Cia, aku masih tidak bisa menerima apa yang kamu katakan tadi". Raina beranjak.
"aku mohon rain, hanya kalian yang aku punya di sini, aku tidak memiliki siapapun". Valencia menangis pilu, membuat Raina mengurungkan niatnya untuk pergi.
"lalu, kenapa kamu tidak bilang sejak awal, apa kamu akan menutupinya selamanya jika Alex tidak sakit?" tanya Raina.
"awalnya iya, aku ingin dekat dengan Aleta tanpa menimbulkan kebingungan dan kebencian pada dia, aku ingin menjadi orang lain yang dikenal baik olehnya, karena aku yakin jika dia tau fakta ini dia akan sangat membenciku". Ucap Cia.
"Aleta bukan tipe anak yang pendendam, aku yakin dia akan memaafkan kamu, apa lagi dia sangat menyayangimu". entah kenapa, ada sedikit rasa kecewa yang menyusup ke hati Raina, meski dia tau bahwa tidak ada niat jahat pada diri Cia.
"aku tau kamu kecewa rain, aku paham, aku memang orang yang tidak pantas untuk menerima maaf dari siapapun, tapi tolong rain, semua ini aku lakukan bukan tanpa alasan, dulu aku sama sekali tidak memiliki perasaan pada Allan, aku hanya di bayar untuk menemaninya tidur, dan tanpa sengaja aku hamil karena kecerobohan ku sendiri". Cia menunduk semakin dalam, membuat Raina tak tega jika harus mengintimidasinya di waktu yang tidak tepat ini.
"tidak sepenuhnya salahmu Cia, dan untuk aku, bagiku kamu tidak bersalah, karena kamu telah memberi kami anak cantik yang sehat dan cerdas, temui Aleta, nanti setelah semuanya membaik". Raina mengusap air mata Cia, memastikan bahwa dia benar-benar tidak marah pada sahabatnya.
"apa kau yakin Aleta tidak akan membenciku rain?"
"aku yakin, Aleta telah tumbuh menjadi anak yang baik, dia lebih dewasa dari usianya karena jalan hidup yang dia lalui sebelum aku menikah dengan papanya".
"terima kasih rain". Raina dan Valencia berpelukan, hingga akhirnya Allan dan Carter datang setelah keduanya ada meeting di perusahaan Allan.
Allan menepuk pundak istrinya, Carter berdiri di belakang mereka.
"besok kita akan melakukan tes untuk 20 orang yang bersedia mendonorkan sumsum tulang belakangnya, semoga ada yang cocok". kata Carter.
__ADS_1
"semoga, aku sudah tidak sanggup jika harus melihat anakku seperti itu terus". Cia menangis lagi.