Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 36 : Kepergian Allan.


__ADS_3

Ponsel Allan berdering ketika suasana hati Raina belum membaik. Carter, nama yang tertera di layarnya.


"halo". Allan mengangkat telepon dari Carter saat dering pertama.


Raina bisa melihat perubahan mimik muka suaminya, seolah ketegangan menjalari tubuhnya, Allan hanya mendengarkan apa yang di bicarakan Carter, lalu menimpali dengan kata 'iya', 'oke' dan 'baik'.


"malam ini aku ngga pulang rain, aku ada kerjaan, aku antar kamu pulang dulu". Raina hanya mengangguk.


Belum berkurang rasa penasarannya, kini harus di tambah lagi dengan teka-teki yang baru. Apa yang membuat Allan setegang ini.


Allan mengusap keningnya yang berpeluh, kemacetan jalan membuatnya frustasi, jam pulang kerja adalah penyebabnya, Allan terus membunyikan klakson yang memekakkan telinga.


"kenapa buru-buru?".


"aku harus segera bertemu client rain".


"kenapa harus malam hari?"


"kamu curiga rain? aku pergi bersama Carter, bukan dengan perempuan".


"siapa yang menjamin kalau kalian ngga akan ketemu perempuan?" Allan melunak, dia meraih tangan Raina, meremasnya dengan mesra.


"setelah yang kita lalui, kamu masih ngga percaya sama aku rain? aku milikmu, aku hanya mencintaimu, bahkan Monica ngga bisa gantiin kamu". lanjutnya.


"justru karena sudah terlalu banyak yang kita lalui, aku takut kamu pergi, apa jadinya aku tanpa kamu". Raina kembali terisak, Allan menepikan mobilnya, lalu meraih Raina agar berada dalam pelukannya.


"sayang, hukum aku sesukamu kalau sampai aku terbukti pergi dengan wanita lain". Raina hanya terdiam, dia hanyalah seorang remaja yang di paksa menjadi dewasa oleh keadaan, batinnya belum mampu menerima cobaan yang datang secara bertubi-tubi.


"Rain, gimana aku bisa pergi kalau kamu kaya gini". Allan mencoba menangkan Raina, matanya sendiripun perlahan berair.


"aku janji, masalah ini ngga akan berlangsung lama, Carter sudah mengurusnya, semoga cepat selesai". Allan melepas nafasnya kuat-kuat, Raina tidak ingin merasa egois, dia tau bahwa suaminya memiliki beban pekerjaan yang tidak sedikit.


"ayo pulang, aku ngga apa-apa". meski dengan mata sembab Raina berusaha terlihat tenang di depan Allan.


Mobil mereka melaju, Raina dan Allan langsung menuju kamar mereka karena Aleta sedang pergi dengan eyangnya.

__ADS_1


"boleh tolong siapkan bajuku rain? mungkin untuk 2 hari kedepan".


"iya". Dengan berat hati Raina meraih travel bag milik Allan.


Satu persatu pakaian Allan telah tertata rapi didalam travel bag, Allan yang baru selesai mandi tersenyum melihat istrinya masih mau menyiapkan perlengkapannya.


"terima kasih rain". Raina berdiri, memeluk Allan, menenggelamkan wajahnya di dada Allan yang belum kering, menikmati aroma sabun yang akan sangat dia rindukan, karena dia tidak akan bisa merasakan ini sampai dua hari kedepan.


"maaf mas, aku terlalu egois". Raina memeluk Allan dengan kuat, Allan membalasnya dengan ciuman hangat.


"bukan kamu yang egois, tapi aku yang kurang peka rain". Allan menangkup wajah Raina dengan kedua tangannya lalu mencium bibir Raina.


Keduanya menikmati ciuman itu hingga terbawa suasana, Allan merebahkan Raina di atas ranjang, melucuti pakaian istrinya satu persatu.


Allan harus mengulang ritual mandinya karena telah melakukan olahraga panas bersama Raina, bahkan di kamar mandi pun mereka sempat mengulangnya sekali lagi, Allan yang tidak tahan dengan pesona Raina seolah tidak rela menganggur-kan istrinya begitu saja.


"ayo sayang, aku harus berangkat". Setelah hampir setengah jam mereka di kamar mandi akhirnya Allan membopong Raina keluar.


Tangan mereka bertautan ketika menuruni tangga, Aleta sedang makan sereal bersama Bu Lidya di ruang keluarga.


"papa, mau kemana?"


"sayang, anterin papa ke depan yuk". Raina meraih tangan Aleta lalu mengajak anak kecil itu mengantar papanya.


Allan memeluk Raina dan Aleta bersamaan, meski kemejanya harus menjadi kusut karena menggendong Aleta namun Allan tidak keberatan, Aleta dan Raina adalah hidupnya.


-


Tepat tengah malam ketika masih Raina terjaga, Allan menepati janji, dia mengirim pesan bahwa dia telah sampai di Blitar dengan selamat, meski sebelumnya Raina telah memastikannya dengan Cia namun dia belum lega jika bukan Allan sendiri yang mengabarinya.


"halo". Raina mengangkat telepon dari Allan.


"halo sayang, kamu belum tidur?"


"belum mas, nunggu kabar dari kamu".

__ADS_1


"kenapa? yaudah sekarang kamu istirahat ya, aku udah sampai kok".


"aku kangen". jawab Raina, kini dia merasa sangat kehilangan ketika Allan berada jauh darinya.


"aku usahain biar cepet pulang ya sayang".


"iya mas". Ketika telepon berakhir Raina menitikan air mata, bukan hanya rindu, Raina merasa kehilangan Allan, karena baru kali ini Allan akan meninggalkan rumah sampai dua hari.


Dengan malas Raina beranjak, mengambil remote Tv kamar Aleta. Dia mencari acara televisi yang mungkin bisa membuatnya mengantuk.


Lagi-lagi yang muncul adalah berita bentrokan di pulai X distric Y yang dia sebabkan oleh kelompok pemberontak bersenjata, Raina sedikit tertarik mengingat waktu itu Allan mengganti saluran Tv saat dia melihat berita tersebut.


Selamat malam pemirsa, kembali bersama saya Okky Zulkarnaen dalam Indonesia hari ini.


Kerusuhan di pulau X distric Y kembali terjadi, Kelompok pemberontak bersenjata menyerang tempat upacara adat yang di hadiri oleh bupati setempat, suasana khidmat berubah ricuh setelah terjadinya penyerangan, baku tembak tak dapat di hindari, beruntungnya prajurit TNI yang bertugas di tempat kejadian mampu mendorong mundur oknum-oknum penyebab kerusuhan tadi. Di informasikan bahwa beberapa orang warga harus mendapat pertolongan akibat mendapat luka tembak dari senapan angin yang biasa digunakan untuk berburu.


Hingga saat ini polisi masih mencari tau jenis senjata yang digunakan pelaku selain senapan angin, kuat dugaan bahwa senjata itu mereka dapatkan dari pasar gelap atau dari penyelundupan .. ..


Raina sudah tidak mendengar lanjutannya, matanya mendadak berat. Setelah seharian melawan pikirannya sendiri kini rasa lelah menderanya, di sofa kamar Aleta, dia menghabiskan sisa malam yang dingin


Kumandang adzan subuh membangunkan Raina dari tidurnya, dia merenggangkan kedua tangannya karena merasakan pegal di seluruh tubuhnya akibat tidur meringkuk di atas sofa, sebelum beranjak, Raina menyempatkan diri untuk membetulkan selimut Aleta, boneka kelinci kesayangannya kini tergeletak begitu saja dengan kondisi yang memperihatinkan di tepi ranjang.


Raina menggelar sajadah, bersiap untuk mengadu pada sang illahi, berharap Tuhan memberinya kesabaran ekstra untuk menghadapi ujian rumah tangga yang datang silih berganti.


Usai sholat, Raina turun ke bawah, membuat sarapan untuk Alleta, Bu Lidya menepuk pundak Raina dengan lembut.


"apa memang harus kamu sendiri yang menyiapkan makanannya rain?"


"Raina hanya meminimalisir terjadinya hal buruk ma". jawab Raina dengan senyum tulus.


"apa kamu begitu menyayangi Aleta?" pertanyaan Bu Lidya sedikit menyinggung Raina, bagaimana bisa Bu Lidya bertanya seperti itu pada dirinya.


"kenapa mama tanya gitu?"


"mama cuma penasaran rain, kamu masih muda tapi bisa begitu tulusnya mengurus Aleta yang dilahirkan dari rahim wanita lain, bahkan kamu mau nikah sama Allan".

__ADS_1


"semua udah di atur sama Allah ma".


Bu Lidya tak kuasa menahan tangis haru, dia memeluk Raina erat sambil berkali-kali mengucapkan terima kasih.


__ADS_2