
Tiga bulan yang lalu.
Allan memandang hampa keluar jendela, mobil yang mereka tumpangi kini sedang melewati jalanan terjal dengan tanah kering yang menyebabkan debu berterbangan di mana-mana.
Carter duduk di sebelahnya, berkali-kali membenarkan posisi duduk yang mulai tidak nyaman setelah berjam-jam berkendara, bersama empat orang lainnya yang hampir semuanya tertidur kecuali sopir yang membawa mereka.
Panasnya terik matahari belum mampu menandingi panasnya hati Allan yang harus terpisah jauh dari anak istrinya, begitu pula dengan Carter, istrinya yang tengah hamil muda tak lepas dari benaknya.
Tempat yang mereka tuju adalah pulau X, tempat kerusuhan terjadi, Allan dan Carter harus mempertanggung jawabkan perbuatannya, menjual senjata ilegal yang dikirim langsung dari negara asal Carter, yaitu Rusia.
Awalnya Allan dan Carter tergiur dengan harga yang lumayan tinggi, berkali-kali lipat dari harga pasaran Indonesia. Selain itu, Allan yang merasa kecewa dengan kesatuan TNI ingin sedikit memberi pelajaran kepada mereka, Allan menjadi pemasok senjata yang di gunakan warga sipil yang ingin membentuk koloni pemberontak untuk menentang pemerintah.
Carter memiliki masa lalu yang lebih menyakitkan daripada Allan, saat usianya baru 24 tahun dan masih berstatus sebagai anggota tentara Carter mengikuti operasi pengamanan gereja di negaranya. kala itu bulan Desember, semua umat Kristen sedang mempersiapkan hari raya natal, Carter di tugaskan menjaga sebuah gereja terbesar di Rusia. Tanpa disangka, gereja dengan jemaat hampir seribu orang itu di datangi oleh puluhan orang yang menyamar sebagai warga biasa, mereka membawa bom, senjata api dan senjata tajam, ketika melewati pemeriksaan, salah satu dari mereka ketahuan, tanpa komando penyerangan di mulai. Singkat cerita, 40 orang anggota tentara tidak mampu mengendalikan keadaan, banyak jemaat yang menjadi sandra.
30 menit berjibaku melawan ******* bantuan belum juga datang, kaki Carter terkena tembakan, dia jatuh tersungkur, salah seorang pelaku mengambil kesempatan dengan melindas kaki Carter dengan mobil yang di tumpanginya. Setelahnya Carter tidak tau lagi apa yang terjadi karena dia pingsan kehabisan banyak darah.
Beruntungnya, saat suasana menjadi begitu mencekam bantuan datang, semua Sandra dapat di bebaskan, Carter selamat dan di bawa ke rumah sakit meski kehilangan kakinya.
Berbulan-bulan dia terpuruk, bagi seorang tentara, kaki adalah hal penting selain nyawanya, ambisinya menjadi jenderal bintang lima pupus begitu saja, Carter dibebastugaskan sementara, meski pangkatnya naik karena terluka saat bertugas tapi dia tetap kecewa, karena nanti ketika dia bertugas kembali, dia hanya akan menjadi juru tulis yang bertugas membuat laporan untuk atasannya. Jangankan menjadi jenderal, naik pangkat lagi pun tidak akan mungkin terjadi. Carter merasa pengorbanannya tidak di anggap oleh negara, ternyata bukan hanya rakyat yang bisa berhianat tapi negara juga jauh lebih bisa menghianati abdi-nya.
__ADS_1
Sejak saat itu dia membenci semua manusia yang memakai seragam tentara, dan secara kebetulan dia bertemu dengan Allan yang memiliki kekecewaan pada pihak yang sama.
Dengan koneksi Carter, mereka dengan mudah mendapat senjata, Allan yang awalnya hanya menyediakan satu atau dua unit senjata untuk pemakaian pribadi tiba-tiba mendapat order yang begitu banyak dari seseorang yang menjadi dalang dari kerusuhan ini.
Tanpa berfikir panjang, Allan menyanggupi penyediaan senjata yang jumlahnya lebih dari 100 unit, awalnya dia merasa senang karena akan melihat pertunjukan tembak-tembakan antara pemberontak dan TNI, namun ketika mendengar berita bahwa kelompok kriminal itu menyerang warga sipil Allan tersulut emosi, apalagi kejadian itu telah menelan korban yang tidak sedikit, 89 orang tewas dalam beberapa kali serangan.
Allan tidak lagi memikirkan keselamatannya sendiri, dia dan Carter yang telah menyadari kebodohannya memilih melaporkan tindakan oknum-oknum itu kepada polisi, meski Allan terancam pidana namun dia merasa lebih baik daripada melihat jumlah korban yang bertambah banyak.
-
"kita istirahat malam ini, besok kita akan membahas rencana kita". Seorang polisi dengan penampilan seperti polisi membukakan pintu kamar untuk Allan dan Carter.
"kita harus menunggu perintah dari pusat, ini operasi gabungan, pihak TNI juga belum menghubungi kita". Allan mengangguk pasrah, dia dan Carter dalam pengawasan ketat meski mereka sendiri yang melaporkan hal ini, polisi bahkan menyita handphone mereka, karena handphone yang digunakan untuk transaksi dan kebutuhan pribadi terpisah jadi nomor yang biasa digunakan Allan dan Carter untuk hal pribadi di nonaktifkan oleh pihak kepolisian.
Setelah mendengar penjelasan itu, Allan dan Carter memilih tidur lebih awal, perjalanan panjang dengan heli membuat mereka lelah, apalagi ditambah sesaknya menahan rindu, mereka hanya berharap agar masalah ini lekas berlalu.
Semalaman Allan tidak bisa tidur, hingga Kokok ayam menegaskan bahwa pagi telah datang. Allan segera bangkit, menunaikan ibadah sholat subuhnya. Carter masih terlelap di ranjang sebelah miliknya.
tok tok tok
__ADS_1
Seorang polisi menyembul dari balik pintu, menjemput Allan dan Carter ke sebuah ruangan yang telah di penuhi oleh belasan orang.
"silahkan duduk, kita mulai rapat ini". sapa bapak-bapak dengan kumis tebal di ujung meja, bisa di tebak beliau adalah pimpinan operasi ini.
"jadi sesuai rencana, kita akan menjalankan transaksi di tempat yang biasa anda gunakan, lalu kami akan memasang alat pelacak pada senjata yang di bawa mereka untuk mengetahui markasnya". semua orang mengangguk, kecuali Carter.
"saya tidak bisa menjanjikan bahwa ini berjalan lancar, karena saya bisa melihat bahwa mereka di pimpin oleh orang-orang berpengalaman, selama ini yang berhubungan dengan kami hanyalah anak buahnya, jadi bisa di pastikan bahwa dia telah mempersiapkan segalanya dengan baik untuk mengantisipasi hal seperti ini". Carter angkat bicara.
"apa yang anda takutkan, kami adalah orang-orang berpengalaman dari pasukan khusus". sanggah pria lain yang memakai seragam TNI.
"saya tidak meragukan kemampuan anda pak, tapi kita tidak tau siapa yang kita lawan, ada baiknya kita berhati-hati". jawab Allan membela Carter
Semua orang di ruangan itu menyusun ulang rencana setelah mendengar perkataan Allan dan Carter, mereka tidak bisa menyepelekan musuhnya begitu saja. Terlalu rumit jika rencana mereka di ketahui oleh pihak musuh, apalagi keluarga mereka yang menjadi taruhannya.
Sesekali mereka bersitegang, tidak terima bila kesatuannya di remehkan, Allan dengan tenang mendengarkan lalu memberi pendapat jika di perlukan.
Mereka semua menunggu dengan gelisah, langit telah berubah menjadi jingga, tanda matahari akan segera kembali ke peraduannya. Allan dan Carter bersiap melakukan transaksi, menemui kolega yang ingin mereka jebak di sebuah rumah tua di dalam hutan, seperti biasanya.
Namun yang berbeda adalah alasannya, jika dulu mereka ingin memberi pelajaran bagi kesatuan yang dulu mencampakkan mereka, kini sebaliknya, Allan membantu kesatuan yang pernah di banggakannya untuk membasmi pemberontak yang mengancam keselamatan saudara sebangsa dan setanah airnya.
__ADS_1