
"iyaa sayang, mama ngga sedih kok kalau ada Aleta".
"Rain, aku titip Aleta". Pelukan erat Allan membuat Raina semakin ragu, kenapa suaminya bersikap demikian kalau hanya pergi beberapa hari.
"mas, kamu cuma pergi sebentar kan? kenapa kaya gini?"
"aku cuma takut kangen sama kamu rain".
"papa pergi sebentar kan? jangan lama-lama, besok Aleta ada pertunjukkan". mata Allan berkaca-kaca mendengar perkataan putrinya.
"iya sayang, papa janji bakalan datang ke pertunjukannya Aleta". Mereka bertiga berpelukan erat saat Carter datang dengan Valencia.
"hai Rain.. ". Cia memeluk Raina, lalu membelai puncak kepala Aleta.
"Hai Cia, kamu jadi tinggal disini?"
"sebenarnya aku ingin dirumah, tapi dia tidak mengijinkan". Valencia menunjuk suaminya, Carter hanya tersenyum getir melihat istrinya.
Meski dengan sedikit drama, akhirnya para wanita melepaskan suaminya yang pergi dengan dalih ingin menyelesaikan masalah mereka.
"Cia, sebenarnya apa yang mereka lakukan, kenapa aku melihat ada yang janggal pada mereka?"
"ahh.. aku sendiri juga tidak yakin rain, kemarin ada beberapa orang datang dan mereka membahas hal-hal yang sama sekali tidak aku mengerti". Valencia menghela nafas, sorot matanya menunjukkan keputusasaan.
"semoga tidak ada yang janggal yang mereka lakukan ya Cia, aku ngga sanggup kalau harus ngebayangin yang nggak-nggak". Raina ikut menghela nafas dalam-dalam.
"apa ngga apa-apa rain aku tinggal disini buat sementara?"
"aku justru seneng, jadi aku ngga galau sendirian". Raina tertawa, di ikuti oleh Cia.
"Onty Ci mau tinggal disini?"
"iya, onty Ci mau disini sampai papa sama uncle Josh pulang, Aleta senang?" Sorot mata penuh kasih sayang terpancar dari mata Valencia, dia telah benar-benar siap menjadi ibu, jiwa keibuannya mulai tumbuh.
__ADS_1
"iya, jadi nanti kita bisa jalan-jalan bertiga". Aleta yang sangat manja dengan Raina memeluk pinggang mamanya.
"semoga nanti anakku cantik dan baik seperti dia rain".
"bagaimana kandunganmu? apa baik-baik saja?"
"baik rain, janinku baik, cuma aku yang sedikit lemah, makanya Carter nyuruh aku disini sampai sementara waktu".
-
Raina memasuki kamar luas yang terasa hampa tanpa kehadiran suaminya, perlahan dia mengambil baju kotor yang tadi terakhir di pakai Allan sebelum pergi, dia mencium aromanya dalam-dalam, bau keringat bercampur parfum beraroma maskulin membuat Raina langsung merindukan suaminya.
Nomor yang anda tuju sedang berada di luar jangkauan, silahkan hubungi kembali beberapa saat lagi. Tut Tut Tut.
Kegelisahan mulai menggerogoti hatinya, Raina turun dengan tergesa-gesa mencari keberadaan Cia, memastikan kabar suaminya dari Carter.
"Cia, apa Carter menghubungi kamu?"
"nomornya ngga aktif rain". Ternyata Cia sama putus asanya.
"mungkin mereka kehabisan baterai, kita tunggu aja".
"aku khawatir, dari tadi mas Allan pamit seolah-olah mau pergi lama".
"itu yang bikin aku berantem sama suamiku rain, dia terus-menerus bilang kalau dia titip anaknya, kaya dia ngga bakal balik gitu lhihy Rain".
"aku jadi tambah curiga sama apa yang mereka lakukan".
"kita cari tau sendiri nanti rain".
-
Seminggu berikutnya yang Raina dan Cia lakukan hanya menunggu, suami mereka sama sekali tidak memberi kabar, bahkan nomornya tidak aktif sejak hari pertama mereka meninggalkan rumah.
__ADS_1
Hanya baju kotor Allan yang selalu Raina ciumi untuk mengusir rasa rindunya meski tidak 100% berhasil. Sedangkan Cia, perutnya yang masih rata meski terisi bayi adalah sumber kekuatannya.
Hari ini Raina dan Aleta menemani Cia periksa ke dokter kandungan, Aleta tampak antusias ketika tau di perut onty-nya ada adik bayi.
"mama, Alleta mau adik bayi".
"hah? sekarang ngga bisa sayang, nanti ya kalau papa pulang Aleta minta sama papa ya". Penjelasan Raina membuat Aleta mengangguk dan mengalah.
"iya ma, nanti kalau papa pulang Aleta mau minta adik bayi".
"nanti adik bayinya onty kan juga jadi adiknya Aleta". Tangan Cia menepuk kepala Aleta dengan sayang.
"gak apa-apa, biar nanti Aleta jadi punya adik 2". senyum sumringah merekah di bibir kecilnya, meski kini kondisi keluarganya sedang tidak baik-baik saja.
"sudah 12 Minggu ya Bu, janinnya baik-baik saja, kondisinya bagus, detak jantung dan organ lainnya normal". dokter cantik bernama Clara itu memberi penjelasan.
Tiba-tiba rasa iri menghampiri Raina, seandainya kini dia juga bisa merasakan hal yang sama dengan Valencia mungkin perasaanya akan sedikit lebih tenang, mengingat suaminya yang pergi tanpa kabar membuatnya kehilangan separuh hidupnya, jika bukan karena Aleta mungkin kini dia sedang terpuruk di dalam kamar dan menangis sepanjang hari.
-
Malam datang lagi, hanya kaos hitam beraroma Allan yang menemani tidurnya, rasa rindu semakin menyiksa, belasan pesan dia kirim setiap hari dengan harapan Allan membacanya, setelah menidurkan Aleta, Raina selalu kembali ke kamar yang selalu dia tempati bersama Allan lalu menangis hingga jatuh tertidur.
Setiap memejamkan mata yang terlintas di benaknya adalah hal buruk yang menimpa Allan dan membuatnya tidak bisa kembali, pak William telah mengerahkan orang untuk mencari keberadaan Allan, dan setelah di selidiki tidak ada nama Allan di semua penerbangan, stasiun, dan juga kapal-kapal tidak ada satupun yang membawa Allan pergi, itu artinya dia pergi dengan mobil atau pesawat pribadi.
Cia yang tadinya tenang kini mulai gelisah, kehamilan yang tadinya menjadi kekuatan kini berubah menjadi kelemahannya, setiap mengingat janin yang tumbuh tanpa perhatian dari ayahnya membuat Cia terpuruk, Raina hanya bisa menghibur semampunya. Mereka saling menghibur meski keduanya sama-sama butuh penghiburan, saling menguatkan meski keduanya tengah jatuh di dasar lubang kesedihan.
Pagi ini, hujan turun dengan derasnya, Raina masih meringkuk di ranjang Aleta, tubuhnya mulai lemah karena dehidrasi dan malnutrisi, tidak ada satupun makanan yang mampu masuk ke tubuhnya, Raina menolak meski Bu Lidya membujuknya. Rasa sedih telah benar-benar menghilangkan semangat hidup yang dulu selalu bersamanya.
Dengan enggan Raina bangun, berjalan ke kamarnya hanya untuk mencari baju yang terakhir di pakai oleh Allan, namun kemanapun dia mencari hasilnya nihil, tidak ada !!
Kakinya yang lemah tiba-tiba bertenaga ketika menuruni tangga menuju ruang cuci, disana ada Aini dan mbak Siti yang sedang menjemur pakaian yang telah selesai di cuci.
"mbak, apa lihat kaos hitam di atas ranjang saya?"
__ADS_1
"sa-saya ambil Bu, itu sedang di jemur". jawab mbak Siti dengan kebingungan.
Raina segera meraihnya dari hanger dan menciumnya, Aroma Allan sudah tidak ada di sana, Raina kecewa, satu-satunya obat kangen yang dia miliki kini telah tiada. Matanya berkaca-kaca, kedua pembantunya saling tatap meski tidak berani angkat bicara. Raina berjalan gontai, kembali ke kamarnya, meringkuk seperti anak kucing lalu menangis sejadi-jadinya.