Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 33 : Mesin capit.


__ADS_3

LED clock menunjukkan pukul 22.15, Valencia masih bercanda tawa dengan Raina saat suaminya datang, ternyata Carter menerima tawaran Allan untuk menginap, mengingat istrinya sudah ada disana.


"sayang, kok kamu disini?" tanya Valencia terkejut ketika melihat Carter berjalan ke arahnya bersama Allan.


"nyusul kamu, kita nginep di sini malam ini".


"yaaayy..". Valencia bersorak, Raina langsung menempel kepada Allan ketika suaminya mendekat.


"Miss you". bisik Allan.


"halo rain, kamu tidak keberatan kan kami menginap?" tanya Carter.


"tentu saja tidak, aku senang Cia disini".


"kalian belum makan kan?"


"kami makan sandwich tadi di jalan". jawab Carter.


"mas, ajak tuan Carter bersihin badan dulu gih, aku siapin makan". Raina beranjak ke dapur.


"ayo rain, aku ikut". Cia mengekor di belakang Raina.


"kamu di sini saja, jangan capek-capek".


"ah, aku ngga capek kok rain, tenang aja".


Mereka menyiapkan makan malam dalam waktu sekejap mata, dibantu oleh mbak Siti, Cia memanggil Allan dan suaminya untuk segera datang ke meja makan, sedangkan Raina masih sibuk membuat jus jeruk.


"kamu sudah siapkan kamar tamu untuk mereka rain?"


"udah mas, di bawah, Cia minta kamar di bawah karena dia sedang hamil, ngga mau naik-turun tangga katanya".


"ohh".


"silahkan". kata Allan menawarkan makanan yang tersaji di depan mereka.


"jangan sungkan-sungkan". lanjutnya lagi.


"ehhmm, makanannya enak rain, siapa yang masak?" Cia telah terlebih dahulu mencicipi SOP iga buatan Raina.

__ADS_1


"aku, tapi sebagian juga mbak-mbak yang masak". jawab Raina, sejak kecil dia memang telah terbiasa memasak untuk keluarganya, terlebih saat ibunya mulai sakit-sakitan.


Sesi makan malam selesai hampir jam 11 malam, lalu mereka pergi ke kamar masing-masing, Raina memberikan pakaiannya yang masih baru untuk Cia, sedangkan Carter memang selalu membawa baju ganti untuk persiapan jika perlu menginap.


"sayang, aku kangen bangat sama kamu". bisik Raina pada Allan, tangan mungilnya membuka satu persatu kancing baju suaminya.


"kamu cantik sekali rain". pandangan Allan menelusuri setiap inci wajah istrinya, terlebih malam ini dia mengenakan sebuah lingerie satin warna navy, kecantikannya naik 1000% di mata Allan.


"kamu selalu sempurna di mataku mas". Raina berjinjit, mencium bibir Allan yang ada di depan matanya.


"aku mandi dulu rain". sedetik kemudian lelaki itu telah hilang di balik pintu.


Dengan kelopak mata yang terasa berat, Raina tetap menunggu Allan, dia rindu pada aroma Allan yang baru selesai mandi, dia rindu wajah Allan dengan rambut basah yang selalu menari-nari di ingatan Raina setiap hari, wajah tampan suaminya telah melekat indah di sanubari, hingga tidak ada lagi yang mampu mengalihkan perhatian Raina dari Allan yang menurutnya begitu sempurna.


-


"papa, mama". Aleta mengetuk pelan kamar Riana.


"iya sayang, masuk". Jawab Allan yang masih bersandar di sandaran tempat tidurnya, Raina langsung melarikan diri ke kamar mandi setelah panik memunguti pakaiannya yang bertebaran dimana-mana.


"mama mana?"


"Aleta kangen sama papa". jawabnya, lalu gadis kecil itu naik ke pangkuan papanya.


"papa juga kangen sama Aleta, hari ini kita main sepuasnya di timezone ya".


"papa nggak kerja?"


"papa bisa kerja sambil main sama Aleta". Suara Aleta yang riang gembira terdengar sampai ke kamar mandi, Raina tersenyum penuh arti di dalam hati, bagi Raina, kebahagiaan Allan dan Aleta adalah tujuan hidupnya, dia sangat bahagia ketika melihat dua mahluk itu bahagia.


"papa memang hebat". Aleta memeluk papanya dengan gembira.


"hai anak mama". Sapa Raina dengan rambut di lilit handuk.


"mama, hari ini kita ke timezone ya?"


"iya sayang, apa sih yang enggak buat anak mama". Raina menangkup wajah Aleta dengan kedua tangannya, lalu mengecup keningnya dengan lembut.


Setelah sarapan mereka pergi ke timezone, sedangkan Cia pamit pulang karena harus ke dokter kandungan.

__ADS_1


Allan menggendong Aleta, tangannya menggandeng istri cantiknya. Raina melihat wajah yang dia kenal sedang berjalan menuju mereka, entah kenapa kini perasaanya terasa tidak nyaman.


"hai, apa kabar?" Tanya Johan saat mereka telah berhadapan.


"baik, kamu sendiri apa kabar?" jawab Allan, seulas senyum dia lembar untuk lawan bicaranya.


"hai rain, hai Aleta".


"hai om Jojo, om Jojo mau main?" Ternyata Aleta masih mengingat om jojo-nya.


"om Jojo nganter Tante cantik belanja, Aleta mau main sama papa?"


"iya, mana Tante cantiknya?" Aleta mengedarkan pandangannya, mencari sosok yang di bilang cantik oleh Si om.


"itu". Johan menunjuk seorang wanita cantik yang sedang berjalan ke arah mereka.


"Al, kenalin ini tunangan ku, Olivia". Allan mengulurkan tangan, Olivia bergantian menyalami Raina setelah itu.


"hai, i'm Olivia, nice to meet you". Katanya dengan senyum ramah yang terlihat tulus. Raina bernafas lega, setidaknya dia tidak harus merasa bersalah kepada Johan lagi, bagaimanapun Raina dan Johan pernah dekat, lalu tiba-tiba dia menikah dengan Allan tanpa memberi tahu Johan, meski Raina yakin bahwa Johan pasti tau dari orangtuanya.


"ya sudah, aku mau belanja dulu, see you Aleta". Johan melambaikan tangan kepada Aleta, dan dibalas dengan semangat oleh si gadis kecil.


Usai mengisi powercard Allan membiarkan Aleta bermain sepuasnya, kali ini mereka memilih dua buah mesin capit yang letaknya bersebelahan, Allan berusaha keras mengambil boneka yang ada di dalamnya, Aleta melakukan hal yang sama.


"sedikit lagi, ayo ayo, kanan mas, cepet pencet, mas itu geser.. kiri". Raina memberi komando pada Allan, membuat suaminya kehilangan konsentrasi.


"Aleta terus bermain hingga akhirnya putus asa, kini dia berpindah ke hit hamster yang masih ada di sebelah Allan, Raina dengan setia mengikutinya.


Dengan penuh emosi Allan menggesek powered nya ke mesin capit, Rp.15.000 untuk sekali capit, dan Allan telah menghabiskan hampir 300 ribu.


Raina menggeleng pelan, menatap suaminya lebih bersemangat dari anaknya, hari ini Raina bisa melihat sisi lain dari suaminya, sisi menggemaskan yang jarang Raina lihat meski mereka sedang berduaan.


"sayang, mau main berapa kali lagi?" tanya Raina pada Allan yang masih fokus menggerakkan capit kesana-sini.


"bentar sayang, ini yang terakhir". Raina hanya tersenyum ketika Allan menggesek powercard nya lagi.


"satu kali lagi". bisik Allan, Raina beralih melihat Aleta yang tertawa-tawa setiap palunya mengenai kepala hamster yang menyembul dari dalam lubang.


"yesss, aku bilang apa, pasti dapet". Allan berteriak histeris ketika capitnya berhasil menangkap boneka. Sayangnya kesombongan Allan tidak bertahan lama, capitnya terlalu lemah untuk mengangkat boneka beruang yang besarnya hampir sama dengan Aleta.

__ADS_1


"ah, curang nih mesinnya, apa-apaan, masa udah kena tapi jatuh lagi". Allan menggerutu, Raina tertawa geli melihat tingkah kekanak-kanakan suaminya. Aleta ikut meledek papanya.


__ADS_2