Mama Untuk Alleta

Mama Untuk Alleta
Bab 43 : Penyelesaian masalah part II


__ADS_3

Dengan sebuah mobil Van Allan dan Carter di bawa ke tempat transaksi, sepanjang perjalanan Allan terus memikirkan kejadian tempo hari, kejadian yang menyebabkan luka di perutnya, masih teringat jelas betapa kejamnya para pemberontak yang menembaki kerumunan masa dengan membabi buta.


#Flashback


Dengan persetujuan Carter, Allan menyamar menjadi reporter yang ingin meliput acara adat di pulau X distric Y tersebut. Karena mereka tau akan ada penyerangan saat acara berlangsung. Carter bertugas mengawasi keadaan.


Semua berjalan lancar, Bupati dan kepala distrik hadir, duduk di atas panggung menikmati kesenian yang di tampilkan, bernyanyi bersama, menari, Acara bakar batu, bahkan ada pementasan drama dengan unsur budaya yang mengangkat cara mereka menangkap hewan buruan. Ratusan warga memadati lapangan, sebuah api Unggung menyala di tengahnya, tepat di depan panggung.


Sekitar pukul 11 malam makanan hasil bakar batu satu persatu di hidangkan melingkari api unggun, ada daging ayam, daging babi, sayur serta umbi-umbian. Bapak Bupati berdiri, bersiap memimpin doa sebelum sesi makan-makan agar kedepannya tercipta kedamaian, keseimbangan dengan alam, limpahan berkah dari Tuhan dan masih banyak sebagainya. Suasana begitu khidmat, hening, hanya suara jangkrik dan burung malam yang bersautan.


Doorr dorrr dorrr


Suara tembakan meledak-ledak di dalam kegelapan, karena penerangan hanya ada di tempat acara, selebihnya gelap gulita.


Beberapa orang tersungkur bersimbah darah, yang lainnya berteriak mencoba mencari perlindungan, minimnya penerangan membatasi gerak mereka, Allan menyerang pemberontak dengan senjata yang di bawanya, namun tanpa dia sadari, seorang penyusup yang berbaur dengan warga menghampirinya, mengayunkan parang panjang yang langsung mengenai perut Allan, meski sedetik kemudian Allan mampu melumpuhkannya dengan sekali tembakan di kaki.


Bermenit-menit baku tembak terjadi, anggota TNI yang bertugas mulai bisa mengambil alih keadaan, pasukan pemberontak terpaksa mundur karena merasa kalah posisi.


Allan dengan tertatih berjalan menuju mobil Carter yang ada di dekat mobil rombongan Bupati, Lukanya mengalirkan banyak darah. Jarak rumah sakit begitu jauh,namun Carter telah sigap menyiapkan segalanya, dia mengantisipasi hal terburuk yang akan terjadi, sebuah helikopter selalu standby kapanpun mereka butuhkan.


Mereka berjalan lumayan jauh, Allan menekan lukanya kuat-kuat, setelah menemukan tempat yang aman, Carter memulai operasi, dengan berbekal kemampuan pertolongan pertama yang dia dapat ketika masih di militer, Carter membersihkan luka Allan lalu menjahitnya, jahitannya rapi, tidak seperti dilakukan oleh amatir. Allan mengerang kesakitan karena semua di lakukan tanpa anastesi. Beruntungnya, luka yang di dapat Allan hanya merobek kulit luarnya tidak sampai merusak organ dalam.


Malam itu, mereka kembali ke Situbondo dengan helikopter, Allan segera di larikan ke sebuah klinik milik teman Carter untuk mendapat pertolongan lanjutan sebelum pulang.


-

__ADS_1


Allan beradu pandang dengan Carter, mereka mengangguk bersamaan. Kemudian Allan turun dengan hati-hati, bersama dua orang yang bertugas membawa kotak kayu berisi senjata pesanan mereka. Tidak ada komunikasi, hanya serah terima, mereka menyerahkan puluhan gepok uang ratusan ribu setelah memeriksa isi kotak kayu Allan.


Tidak ada yang terjadi, semua berjalan normal, Allan kembali ke tempat mereka menginap, namun dalam perjalanan dia merasa ada yang janggal, Carter duduk sambil berpegangan pada hand grip yang ada di atas jendela mobil, wajahnya tampak tegang dengan keringat dingin mengalir di pelipisnya.


"apa semua berjalan lancar?" tanya kepala polisi.


"iya, tidak ada yang janggal, sepertinya mereka tidak menyadarinya". jawab Allan.


"syukurlah, jika misi ini berhasil aku akan mengajukan keringanan untuk masa tahanan kalian". Allan tersenyum kecut.


Sesampainya di kamar, Allan mulai membuka suara.


"apa yang terjadi kena...". belum selesai kalimatnya, Carter memberi isyarat pada Allan bahwa kamar mereka di sadap. Allan mengangguk.


Carter menuliskan beberapa huruf di tangan Allan.


Ulasan senyum getir tergambar di wajah Carter yang garang, kini yang tersisa hanya dua orang anak manusia yang berada di ambang kematian jika benar salah satu di antara mereka adalah mata-mata.


Berbagai cara Allan pikiran untuk melarikan diri, namun kini lawannya bukanlah pemberontak yang tidak akan mengejar mereka ke rumahnya, namun kali ini yang mereka lawan adalah aparatur negara, keamanan keluarganya juga menjadi taruhannya.


Jika saja, dia tetap diam, mungkin yang terjadi hanyalah pertanggung jawaban di akhirat, tidak perlu berpikir keras seperti saat ini, rasa kemanusiaan seolah mengantarkan nyawanya sendiri ke ajalnya.


Entah sejak kapan mereka tertidur, hingga akhirnya ..


BRAAAAKKKKK

__ADS_1


Suara pintu kamar di dobrak, Allan langsung berdiri, melihat enam orang merangsek masuk ke kamar mereka, sedangkan polisi yang tadi berjaga kini entah kemana.


Allan dan Carter di bawa pergi, di sekap di sebuah gudang, Carter hanya bisa pasrah, kaki palsunya di bawa oleh mereka, Allan di ikat berjauhan darinya.


Hawa dingin dan lembab membuat Allan terbatuk-batuk, Carter memejamkan mata, mencoba berdamai dengan keadaan. Pandangan mata Allan mengedar, tidak ada apa-apa disana, hanya mereka berdua, tidak ada perabotan di gudang penuh debu dan sarang laba-laba itu.


Di tempat lain, kepala polisi yang datang ke tempat Allan dan Carter menginap terkejut melihat anak buahnya bergelimpangan di lantai tak sadarkan diri.


"apa yang terjadi?" kepala polisi bertanya dengan panik ketika melihat salah satu anak buahnya sadar.


"kami tidak tau, cuma ngopi biasa lalu setelah itu tidak tau lagi apa yang terjadi.


"dimana Edison?"


"dia yang tadi membuat kopi, mungkin dia ikut andil dalam hal ini pak". jawab anggota polisi lain yang juga sudah sadar.


"Allan dan Carter dalam bahaya". kepala polisi beranjak lalu menelpon rekannya yang lain, meminta bantuan. Bagaimanapun Allan dan Carter ikut membela keamanan negara, mereka wajib di lindungi, mengesampingkan kesalahan mereka yang menjual senjata.


Kepala polisi menangkupkan tangan di wajahnya, mengusapnya dengan kasar karena frustasi. Beberapa orang tentara datang sebagai bala bantuan, Segera setelah semua berkumpul mereka membahas apa yang harus mereka lakukan.


Langkah pertama adalah mencari Edison untuk menemukan Allan dan Carter, Tidak ada apapun yang bisa digunakan sebagai acuan, semua berbekal perkiraan, perhitungan dan kemungkinan.


Sementara itu, Allan masih berupaya membuka ikatannya dengan meraba-raba, perlahan dia beringsut mendekati Carter, dalam kepalanya hanya berisi rencana untuk kabur meski dia tau lukanya yang belum kering kini mulai berdarah lagi, tidak menutup kemungkinan bahwa akan terjadi infeksi yang bisa menyebabkan kematian bagi dirinya. Carter tidak bisa berbuat banyak, fisiknya yang tidak sempurna adalah sebuah kendala besar baginya, dia frustasi, air matanya meleleh melihat kondisi Allan yang tidak lebih baik dari dirinya.


__ADS_1


JOSH CARTER.


__ADS_2