
Di RS internasional Jakarta.
"sayang, aku takut". kata Cia, dia dan Carter sedang menunggu hasil test untuk Alex yang belakangan ini terlihat pucat dan menguning.
"tenanglah, semoga tidak terjadi apa-apa pada anak kita". Carter memeluk istrinya, sedangkan Alex masih berada di dalam ruangan untuk menjalani beberapa test.
"aku tidak bisa membayangkan jika sesuatu terjadi pada anak kita, aku akan menyesal seumur hidup, aku menyesal tidak bisa merawat anakku, dan sekarang aku harus merasakan ketakutan ini" Valencia tergugu, Carter hanya bisa membelai punggung isterinya.
"keluarga James Alexander Carter?" Panggil seorang perawat dari dalam ruangan dokter. Cia dan Carter segera bangkit dan masuk ke dalam ruangan itu.
"silahkan duduk". kata dokter yang usianya tak lagi muda, dengan jenggot berwarna putih dan kacamata yang bertengger di hidungnya.
"begini..". dokter yang di ketahui bernama Hilmi tadi menghela nafasnya, seolah berat sekali menyampaikan berita buruk pada orang tua si bayi.
"ada apa dok?" Cia tidak sabar.
"apa di keluarga kalian ada yang mengidap thalasemia?"
"thalasemia?" ulang Carter.
"kelainan tubuh yang tidak bisa memproduksi sel darah merah". terang dokter Hilmi.
"setau saya tidak ada dok, sayang apa di keluargamu ada?" tanya Carter pada Cia, di ikuti gelengan kepala dari sang istri.
"ehm, apa anak saya menderita penyakit itu?" Valencia memberanikan diri untuk bertanya.
"dengan berat hati saya harus menyampaikan ini, meskipun keadaanya masih stabil tapi kita harus segera menemukan pendonor sumsum tulang belakang yang cocok untuk pasien".
"pa dok? donor sumsum tulang belakang?"
"iya Bu, satu-satunya jalan agar penyakit ini tidak kambuh dan mempengaruhi masa depan putra anda adalah menjalankan prosedur tersebut". dokter Hilmi lagi-lagi menghela nafasnya, berusaha menyembunyikan rasa duka yang menghampirinya, karena putranya juga meninggal karena penyakit yang sama.
"segera cari pendonor dari kerabat terdekatnya, bisa dari saudara kandung, dan anggota keluarga yang masih memiliki garis darah yang sama,jangan sampai terlambat seperti putra saya". dokter Hilmi melepas kacamatanya, menghapus bulir bening yang lolos begitu saja.
"baik dok, saya akan segera mencari pendonor yang tepat untuk putra saya". jawab Carter dengan tegas, meski dia tidak yakin bisa menemukannya.
-
Carter dan Valencia yang masih terpukul hanya bisa menatap iba pada bayi gendutnya yang kini terbaring di atas ranjang rumah sakit, sesekali mencium dan membelai putra mereka dengan sayang.
__ADS_1
"apa yang harus kita lakukan sayang?" kata Valencia.
"aku sudah menghubungi saudara-saudaraku di Rusia, tapi mereka tidak mau membantu". Carter terlihat putus asa
"aku tidak memiliki siapapun yang bisa ku mintai tolong". jawab Cia, lalu tangisnya kembali pecah.
Drrtt drrtt drrtt
"halo".
"halo, Carter bagaimana Alex?" tanya Allan di ujung telepon.
"Alex terkena thalasemia, dan sekarang aku harus mencari pendonor sumsum tulang belakang untuknya".
"bagaimana bisa? baiklah aku akan bicarakan ini pada Raina, semoga kami bisa membantu".
Setelah menutup telepon, Allan segera memberitahukan hal tersebut pada Raina, tangis Raina pecah ketika membayangkan bayi kecil yang begitu dia sayangi harus merasakan sakit yang begitu menyiksa, Raina paham betul apa itu thalasemia jadi Allan tidak perlu menjelaskan panjang kali lebar pada istrinya.
"kasihan sekali Alex". Raina tergugu.
"aku akan membuat pengumuman di perusahaan, bagi yang mau mendonorkan sumsum tulang belakangnya akan mendapat imbalan sebesar 100juta". kata Allan.
"semoga saja ada orang baik diantara ribuan karyawan ku rain". Allan juga tidak yakin dengan gagasannya, tapi lebih baik mencoba daripada tidak melakukan apa-apa.
-
Satu bulan berlalu, kondisi Alex masih stabil, meski pendonor belum juga di dapatkan.
Valencia yang sudah sebulan ini menetap di Jakarta akhirnya pulang ke Situbondo karena dokter menyarankan Alex untuk kontrol satu bulan sekali selama tidak ada komplikasi yang terjadi.
"Cia, kita harus kuat, Alex butuh kita". Raina memeluk Valencia.
"rain, aku takut sesuatu terjadi padanya, aku telah kehilangan kesempatan untuk merawat putriku, dan kali ini aku tidak ingin kehilangan Alex rain". Bibir Cia bergetar, menahan tangis.
"putrimu? maksudnya?"
"aku memiliki seorang putri, tapi karena kebodohan dan ke-egoisanku aku tidak bisa bersamanya rain".
"apa yang terjadi? apa kamu menggugurkannya?" tanya Raina dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1
"tidak, aku melahirkan dia tapi aku tidak bisa merawatnya".
"aku yakin, itu adalah sebuah keputusan yang berat untukmu Cia, dan pasti itu yang terbaik untuk dia". Raina menepuk punggung Cia, mencoba memberi ketenangan pada sahabatnya itu.
"aku adalah ibu yang buruk rain".
"sstt, tidak ada ibu yang buruk, kamu mengandung dan melahirkan mereka adalah bukti bahwa kamu adalah ibu yang baik, kamu telah memberi merek kesempatan untuk hidup". Raina menghapus air mata Valencia.
"aku takut Alex tidak bisa selamat rain, aku akan mati jika sesuatu terjadi pada Alex".
"tidak akan ada yang terjadi, kita semua sedang berusaha mencari pendonor yang tepat untuk Alex, kita sedang berjuang, jadi kamu jangan menyerah karena kamu adalah hidup Alex". Raina menguatkan genggaman tangannya pada tangan Cia.
"aku hanya takut rain".
"ada kami di sini, kamu tidak sedang berjuang sendiri Cia".
Di luar ruangan, Allan yang sedang berbicara pada Carter merasakan kegelisahan yang teramat dalam pada sahabatnya.
"sudah hampir 50 orang yang datang untuk melakukan test donor sumsum tulang belakang untuk Alex, tapi hasilnya nihil". kata Carter.
"masih ada jutaan orang di luar sana yang belum mencobanya, pasti ada salah satu di antara mereka yang cocok, jangan putus asa". Allan menepuk pundak Carter.
"aku hanya takut Alex tidak bisa di selamatkan, aku takut Valencia menjadi gila, dia harus kehilangan anaknya lagi". Carter menunduk.
"lagi? apa maksudmu?"
"lupakanlah, aku tidak ingin membicarakan hal ini". Carter memalingkan pandangannya ke luar jendela, Allan hanya menatap penuh selidik.
"apa kita harus membuat iklan di Tv?"
"tidak Al, itu terlalu merepotkan, jika yang datang terlalu banyak". jawab Carter.
"semakin banyak yang mencoba semakin besar kemungkinannya Carter, tidak ada salahnya, jika kau setuju aku akan mengurusnya".
"baiklah, aku juga sudah tidak tau harus kemana lagi mencari pendonor untuk Alex".
"semoga dengan membuat iklan di tv kita segera menemukan pendonor untuk Alex, aku juga tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada anakmu".
"terima kasih Al".
__ADS_1